Sofyan Basir Sayangkan Proyek PLTU Riau-1 Tertunda Gara-gara KPK

Kompas.com - 21/10/2019, 16:26 WIB
Terdakwa kasus suap proyek PLTU Riau-1 Sofyan Basir (kanan) berbincang dengan jaksa penuntut umum sebelum sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (21/10/2019). Sidang tersebut beragendakan pembacaan nota pembelaan atau pledoi terdakwa. Pada sidang sebelumnya jaksa penuntut umum (JPU) dari KPK menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama lima tahun dan denda Rp200 juta subsider tiga bulan kurungan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.
  *** Local Caption *** 

ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRATerdakwa kasus suap proyek PLTU Riau-1 Sofyan Basir (kanan) berbincang dengan jaksa penuntut umum sebelum sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (21/10/2019). Sidang tersebut beragendakan pembacaan nota pembelaan atau pledoi terdakwa. Pada sidang sebelumnya jaksa penuntut umum (JPU) dari KPK menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama lima tahun dan denda Rp200 juta subsider tiga bulan kurungan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj. *** Local Caption ***

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir menyayangkan proyek PLTU Riau-1 menjadi terhambat lantaran disusupi praktik suap yang melibatkan pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo dan mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih.

Hal itu disampaikan oleh Sofyan saat membaca nota pembelaan atau pleidoi selaku terdakwa dalam kasus dugaan pembantuan atas suap terkait PLTU Riau-1 tersebut.

"Betapa besarnya oportunity loss atau kesempatan hilang karena keterlambatan proyek ini hanya dikarenakan ada aliran Rp 4,75 miliar yang diterima oleh saudari Eni dari saudara Kotjo," kata Sofyan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (21/10/2019).

Baca juga: Bacakan Pleidoi, Sofyan Basir Nilai Kasusnya Terkesan Dipaksakan

Sofyan sekaligus menyesalkan upaya penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) menjerat dirinya atas dugaan pembantuan tindak pidana suap yang melibatkan Kotjo dan Eni.

Padahal, kata Sofyan, ia sama sekali tidak mengetahui soal adanya kesepakatan fee antara Kotjo dan Eni.

Selain itu, kesepakatan itu juga terjadi sebelum keduanya bertemu dengan Sofyan.

"Sehingga pertanyaannya berdasarkan nalar dan logika, bagaimana saya dapat dituduh menbantu tindak pidana suap tersebut. Padahal saya tidak tahu sama sekali adanya janji dan kesepakatan antara mereka serta pelaksanaannya yaitu berupa pemberian uang sebesar Rp 4,75 miliar," kata dia.

Ia menilai, KPK terkesan tidak mampu menghargai pemikiran besar bahwa PLTU Riau-1 ini akan mendatangkan banyak manfaat jika berhasil diselesaikan pada tahun 2021.

Baca juga: Setya Novanto Bantah Perintahkan Eni Saragih Kawal Proyek PLTU Riau-1 di PLN

"Untuk Riau, penggunaan pembangkit listrik batu bara atau PLTU akan mengurangi biaya harga listrik di daerah tersebut, lebih kurang per tahun sekitar Rp 6 triliun karena saat ini Riau menggunakan pembangkit yang mahal, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU)," kata Sofyan.

Sofyan menjelaskan, jika proyek PLTU Riau-1 terwujud sesuai target tahun 2021, akan menjadikan harga pokok produksi listrik turun 2 sen dollar Amerika Serikat (AS) menjadi 5,48 sen dollar AS per kWh.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X