Indonesia Kejar Ketertinggalan Manfaatkan Perang Dagang AS-China

Kompas.com - 08/10/2019, 22:58 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pandangan Indonesia tentang kesenjangan pendanaan pembangunan pada High Level Dialogue on Financing for Development, yang diselenggarakan pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ke 74, di New York, Amerika Serikat, Kamis (26/9/2019). Dok. Humas Kementerian Luar NegeriWakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan pandangan Indonesia tentang kesenjangan pendanaan pembangunan pada High Level Dialogue on Financing for Development, yang diselenggarakan pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ke 74, di New York, Amerika Serikat, Kamis (26/9/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan saat ini Indonesia terus berupaya mengejar ketertinggalan dalam memanfaatkan peluang perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Hal itu disampaikan Kalla menanggapi belum optimalnya Indonesia dalam memanfaatkan perang dagang antara AS dan China.

Kalla mengatakan, pemerintah terus berupaya membuat perjanjian dagang dengan negara-negara yang terkait dalam perang dagang antara AS dan China.

Kalla menambahkan, intinya pemerintah terus mempermudah investor yang akan berinvestasi di Indonesia. Hal itu diyakini dapat menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi.

"Aturan bisa dirubah kalau makin memudahkan. Sebenarnya banyak aturan, tapi ada juga aturan yang memudahkan. Seperti OSS (Online Single Submission), itu kan lebih mudah," ujar Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

"Kemudian sistem negatif di bisnis bisa kita kurangi. Semua mempermudah. Memang kadang-kadang juga berubah-ubah aturannya. Karena itu, sekarang kita memperbaiki dengan aturan yang baru," lanjut Kalla.

Baca juga: Belum Ada Hasil Negosiasi Perang Dagang AS-China, Wall Street Merah

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Indonesia disebut sebagai satu-satunya negara di Asean yang kalah dibandingkan dengan negara lainnya dalam memanfaatkan dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Banyak perusahaan dari China yang yang memilih negara lain ketimbang Indonesia untuk merelokasi bisnisnya.

Lee Ju Ye, salah satu ekonom asal Singapura mengatakan Vietnam telah muncul sebagai "penerima manfaat terbesar", dengan lonjakan arus modal asing langsung (foreign direct investment / FDI) masuk dari China dan Hong Kong 73 persen tahun lalu.

Pada paruh pertama 2019, aplikasi FDI di Vietnam melonjak 211 persen.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.