BMKG Prediksi Musim Kemarau Bisa Berlangsung Hingga Awal November

Kompas.com - 26/09/2019, 18:15 WIB
Warga melintas di waduk yang kering Desa Simo, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (25/9/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau panjang dengan kekeringan ekstrem masih akan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia hingga bulan November 2019. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/nz. ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHAWarga melintas di waduk yang kering Desa Simo, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (25/9/2019). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau panjang dengan kekeringan ekstrem masih akan terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia hingga bulan November 2019. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha/nz.

JAKARTA, KOMPAS.com - Deputi Bidang Meteorologi pada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG) Mulyono Prabowo menyatakan, musim kemarau diprediksi bisa berlangsung hingga awal November.

"Ke depan kita masih melihat potensi musim kemarau masih bisa berlangsung hingga pertengahan Oktober sampai awal November," kata Mulyono dalam diskusi bertajuk Antisipasi Karhutla Belanjut di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (25/9/2019).

Sehingga, kata dia, daerah yang berisiko dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih perlu menjaga kewaspadaannya.

Baca juga: Kemarau, Pemkot Padang Salurkan 10.000 Liter Air Bersih ke Warga

"Puncak musim hujan kalau kita lihat pada umumnya akan terjadi pada bulan Januari dan Februari. Pada umumnya musim hujan akan merambat dari Sumatera bagian utara, tengah, selatan, Kalimantan, kemudian masuk ke Jawa bagian barat, tengah, timur, Bali, NTB sampai ke NTT," kata dia.

Ia pun mencontohkan, wilayah Sumatera dan Kalimantan diprediksi memasuki musim hujan pada Oktober 2019.

Kemudian, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan dan Merauke diperkirakan disiram hujan pada November hingga Desember 2019.

Terkait sebaran asap karhutla, kata Mulyono, sebarannya bersifat lokal dan tidak melintas batas wilayah negara lain. Meski demikian, BMKG masih mengawasi dengan ketat wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

"Transboundary haze (asap lintas batas) tidak terjadi saat ini, karena sebaran asap bersifat lokal. Pada umumnya di daerah Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, ini daerah asapnya masih cukup signifikan ya, sehingga informasi dari sana nanti kita terus awasi," kata dia.

Baca juga: Meskipun Kemarau, Poktan di Gunung Kidul Berhasil Panen Kedelai

Tim BMKG, kata dia, juga terus mendukung tim teknologi modifikasi cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menerapkan penyemaian awan.

"Di BMKG kita memonitor potensi bibit awan hujannya dimana kemudian secara cepat teman-teman tim TMC BPPT menyemai dan kemudian biasanya akan ada proses sekitar tiga jam setelah penyemaian itu baru mulai pertumbuhan awan dan hujan," kata dia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X