Pertemuan Pertama, Munir Membuka Mata Hati Yati Andriyani soal Pelanggaran HAM

Kompas.com - 11/09/2019, 10:01 WIB
Koordinator KontraS, Yati Andriyani, berbicara dalam diskusi bersama Koalisi Masyarakat Sipil di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017). KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERAKoordinator KontraS, Yati Andriyani, berbicara dalam diskusi bersama Koalisi Masyarakat Sipil di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Tahun 1998 menjadi masa yang diingat Koordinator Komisi untuk Orang Hilanh dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Yati Andriyani. Saat itu, dia masih mahasiswa semester 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta.

Suati hari, dia mengetahui ada sosok aktivis HAM bernama Munir Said Thalib menjadi pembicara dalam sebuah diskusi di kampusnya. Munir merupakan pendiri Kontras, organisasi pegiat HAM yang dipimpin Yati sekarang.

Diskusi memang belum menarik perhatian bagi sebagian besar mahasiswa, yakni tentang pencarian 13 aktivis yang hilang periode 1996-1998.

Pada periode itu, para aktivis demokrasi hilang setelah mengkritik kebijakan Presiden Soeharto. Setidaknya ada dua momentum, yaitu Tragedi 27 Juli 1996 dan Pemilu 1997.

Baca juga: Suciwati dan Ruang-ruang Kengerian yang Dilaluinya Bersama Munir...

Saat itu Yati memang sedang ragu dan bertanya-tanya tentang adanya kekejaman dan pelanggaran HAM yang terjadi di negeri ini.

"Apakah betul ada orang yang begitu kejam menculik, membawa atau menangkap para aktivis mahasiswa?" pikir Yati saat itu, saat berdiskusi dengan Kompas akhir pekan lalu (6/9/2019).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat itu pula, belum banyak mahasiswa yang berani mendukung upaya-upaya pencarian atau menyuarakan reformasi. Tak heran jika hanya ada beberapa mahasiwa saja, termasuk Yati, yang mengikuti diskusi di ruang kelas tersebut.

Tak hanya berdiskusi, setelah itu Yati bersama rekan-rekan yang mengikuti diskusi berkeliling kampus sembari membawa poster-poster korban penculikan penghilangan paksa.

Baca juga: Ini Harapan Diva, Putri Aktivis HAM Munir, untuk Presiden Jokowi ...

Tak disangka, dari situ Munir seolah menjadi pintu yang membuka "keran" pemikiran kritis Yati agar mengalir keluar.

"Di situlah Munir bantu membuka mata hati saya bahwa negara kita saat itu cukup mencekam, tensi politik tinggi," ujar Yati.

"Saya jadi mengerti bahwa ada kesewenangan negara, pelanggaran HAM, penculikan, penghilangan paksa yang terjadi," tuturnya.

Dari informasi yang disampaikan Munir saat diskusi tersebut, Yati mulai meyakini bahwa apa yang sempat diragukannya memang benar-benar terjadi.

Dia pun bertekad untuk mendukung gerakan advokasi pencarian 13 aktivis yang hilang sebagaimana yang disampaikan Munir dalam diskusi tersebut.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 12 Juni: Pemerintah Periksa 17.833.717 Spesimen Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 12 Juni: Pemerintah Periksa 17.833.717 Spesimen Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Update: Sebaran 7.465 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jakarta

Update: Sebaran 7.465 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di Jakarta

Nasional
UPDATE 12 Juni: Ada 106.894 Kasus Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 12 Juni: Ada 106.894 Kasus Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Update 12 Juni: Ada 108.324 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Update 12 Juni: Ada 108.324 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
Update: Bertambah 5.292, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.740.436 Orang

Update: Bertambah 5.292, Pasien Sembuh Covid-19 Jadi 1.740.436 Orang

Nasional
Update 12 Juni: Bertambah 164, Korban Meninggal Dunia akibat Covid-19 Jadi 52.730 Orang

Update 12 Juni: Bertambah 164, Korban Meninggal Dunia akibat Covid-19 Jadi 52.730 Orang

Nasional
Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi, Panglima TNI Ingatkan Petugas Mesti Paham Tugas Pengendalian Covid-19

Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi, Panglima TNI Ingatkan Petugas Mesti Paham Tugas Pengendalian Covid-19

Nasional
UPDATE: Tambah 7.465, Kasus Covid-19 Indonesia Kini 1.901.490 Orang

UPDATE: Tambah 7.465, Kasus Covid-19 Indonesia Kini 1.901.490 Orang

Nasional
Presiden Jokowi: Kita Tunjukkan, Bali Destinasi Sangat Aman Dikunjungi

Presiden Jokowi: Kita Tunjukkan, Bali Destinasi Sangat Aman Dikunjungi

Nasional
Pengamat Nilai Pemberantasan Pungli Era Jokowi Lama Tak Terdengar

Pengamat Nilai Pemberantasan Pungli Era Jokowi Lama Tak Terdengar

Nasional
Soal Rencana Sembako Kena PPN, Stafsus Menkeu: Pemerintah Satu Barisan dengan Pedagang Pasar

Soal Rencana Sembako Kena PPN, Stafsus Menkeu: Pemerintah Satu Barisan dengan Pedagang Pasar

Nasional
Mengingat Pembentukan Saber Pungli dan Sejarah Pemberantasan Pungutan Liar di Indonesia...

Mengingat Pembentukan Saber Pungli dan Sejarah Pemberantasan Pungutan Liar di Indonesia...

Nasional
Polemik PPN Sembako, DPR: Kita Tak Tahu Itu Draf RUU KUP atau Bukan

Polemik PPN Sembako, DPR: Kita Tak Tahu Itu Draf RUU KUP atau Bukan

Nasional
Stafsus Menkeu: Penolakan Sembako Kena PPN Terjadi karena Penyampaian Informasi Belum Utuh

Stafsus Menkeu: Penolakan Sembako Kena PPN Terjadi karena Penyampaian Informasi Belum Utuh

Nasional
Jokowi Temukan Pungutan Liar di Tanjung Priok, Saber Pungli Tak Efektif?

Jokowi Temukan Pungutan Liar di Tanjung Priok, Saber Pungli Tak Efektif?

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X