Kompas.com - 09/09/2019, 06:44 WIB
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi III dari Fraksi PDI-P Masinton Pasaribu mengatakan, Kejaksaan Agung memiliki kewajiban untuk menyelesaikan proses penyidikan terhadap seluruh kasus pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM).

Pasalnya, Kejaksaan Agung memiliki anggaran yang besar untuk program penanganan dan penyelesaian perkara pelangggaran HAM.

Dalam rapat kerja dengan Komisi III pada Selasa (3/9/2019) lalu, Wakil Jaksa Agung Arminsyah meminta kenaikan anggaran untuk program penanganan dan penyelesaian perkara pidana khusus, pelanggaran HAM yang berat dan perkara tindak pidana korupsi sebesar Rp 285,677 miliar.

Baca juga: Bambang Soesatyo: Tak Ada Satupun Pelanggaran HAM Berat Dituntaskan...

Sementara berdasarkan Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2020, Menteri Keuangan telah menyetujui anggaran sebesar Rp 147,245 miliar. Dengan demikian usulan kenaikan anggarannya mencapai Rp 138,432 miliar.

"Tentu dengan anggaran tahun 2020 ini yang jika nanti disetujui Rp 285 miliar, maka tidak ada lagi alasan Kejaksaan Agung untuk tidak menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat," ujar Masinton saat dihubungi, Minggu (8/9/2019).

Berdasarkan catatan Kompas.com, setidaknya ada sembilan kasus pelanggaran berat HAM yang hingga kini belum dituntaskan. Berkas perkaranya hanya bolak-balik di antara Komnas HAM sebagai penyelidik dan Kejaksaan Agung sebagai penyidik.

Masinton mengatakan, dengan besarnya anggaran yang telah dialokasikan, Kejaksaan Agung seharusnya bertanggungjawab untuk membawa berkas perkara hingga ke proses pengadilan.

"Kejaksaan Agung harus mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran sekecil apa pun karena anggaran itu bersumber dari uang rakyat," kata Masinton.

Baca juga: YLBHI: Ada 30 Pelanggaran HAM yang Dialami Mahasiswa Papua

Adapun kesembilan kasus pelanggaran berat HAM yang belum tuntas adalah Peristiwa 1965/1966, Peristiwa Talangsari Lampung 1998, Peristiwa Penembakan Misterius 1982-1985, Peristiwa Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II.

Kemudian, Peristiwa Kerusuhan Mei 1998, Peristiwa Penghilangan Orang Secara Paksa 1997-1998, Peristiwa Wasior dan Wamena, Peristiwa Simpang KKA 3 Mei 1999 di Provinsi Aceh, serta peristiwa Rumah Geudong dan Pos Sattis lainnya di Provinsi Aceh.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.