Bendera Bintang Kejora, antara Simbol Kultural Orang Papua dan Tuduhan Makar…

Kompas.com - 03/09/2019, 08:51 WIB
Ilustrasi: Istri almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah, melihat lukisan Gus Dur karya pelukis Jupri Abullah saat berlangsungnya peringatan setahun wafatnya Gus Dur di Kompleks Pesantren Ciganjur, Jalan Warung Sila, Jakarta, Rabu (29/12/2010). Acara haul akbar setahun wafanya KH Abdurrahman Wahid akan diperingati di kediaman Gus Dur pada 29 hingga 30 Desember 2010. KOMPAS/ALIF ICHWAN Ilustrasi: Istri almarhum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Sinta Nuriyah, melihat lukisan Gus Dur karya pelukis Jupri Abullah saat berlangsungnya peringatan setahun wafatnya Gus Dur di Kompleks Pesantren Ciganjur, Jalan Warung Sila, Jakarta, Rabu (29/12/2010). Acara haul akbar setahun wafanya KH Abdurrahman Wahid akan diperingati di kediaman Gus Dur pada 29 hingga 30 Desember 2010.

"Namun, yang menarik adalah dalam ketentuan Pasal 110 Ayat (4) KUHP disebutkan bahwa, tidak dipidana barang siapa yang ternyata bermaksud hanya mempersiapkan atau memperlancar perubahan ketatanegaraan dalam artian umum," kata Andi.


Simbol kultural 

Pemaknaan bendera bintang kejora sebagai simbol kultural masyarapat Papua pernah ditegaskan oleh Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Redaktur Nahdlatul Ulama (NU) Online Fathoni Ahmad pernah menulis, saat tak lagi menjadi presiden pada 2007, Gus Dur kembali menyebut alasannya memperbolehkan bendera bintang kejora berkibar.

Gus Dur menganggap bendera bintang kejora hanya bendera kultural warga Papua.

“Bintang kejora bendera kultural. Kalau kita anggap sebagai bendera politik, salah kita sendiri,” kata Gus Dur kepada wartawan, seperti dikutip dari laman www.nu.or.id.

Baca juga: Penegakan Hukum terhadap Perusuh dan Pengibar Bendera Bintang Kejora, dari Papua hingga Jakarta

Menurut Fathoni, Gus Dur yang saat menjabat presiden mengabulkan permintaan masyarakat Irian Jaya untuk menggunakan sebutan Papua, justru menuding polisi dan TNI tidak berpikir mendalam ketika melarang pengibaran bendera bintang kejora.

“Ketika polisi melarang, tidak dipikir mendalam, (tim) sepak bola saja punya bendera sendiri. Kita tak perlu ngotot sesuatu yang tak benar,” kata dia.

Sementara itu, Menurut Franz Magnis Suseno, sahabat Gus Dur di Forum Demokrasi, pemberian nama Papua pada Irian Jaya dan pemberian izin pengibaran bendera bintang kejora bukan tanda Gus Dur meremehkan terhadap Indonesia.

Sebaliknya, Gus Dur mau membantu orang-orang Papua untuk bisa menghayati Ke-Indonesiaan dari dalam.

“Gus Dur percaya pada orang Papua. bahwa itulah cara untuk merebut hati suatu masyarakat yang puluhan tahun merasa tersinggung, tidak dihormati, dan bahkan dihina. Karena itu orang-orang Papua mencintai Gus Dur,” ujar Franz Magnis dalam kata pengantar buku karangan Muhammad AS Hikam, berjudul Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013).

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X