Cerita Ki Bagus dan Kasman hingga Tantangan Umat Islam Indonesia Kini

Kompas.com - 16/08/2019, 18:51 WIB
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir Kompas.com / Dani PrabowoKetua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, tantangan berat bagi umat Islam dalam peringatan hari kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia adalah menjalankan ajaran Islam sesuai konteks keindonesiaan.

"Dalam konteks 74 tahun kita merdeka, maka tugas terberat kita bagaimana nilai-nilai keislaman bagi umat Islam itu diwujudkan menjadi nilai islam yang damai, yang membangun kebersamaan," kata Haedar di Hotel Luwansa, Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Menurut dia, Islam keindonesiaan harus membawa kemajuan serta sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

"Sehingga seluruh penyelenggara negara dan elite negara, termasuk warga bangsa, membawa Indonesia berdasarkan pada lima sila itu sebagai dasar filsafat negara dan itu menjadi acuan bersama," lanjut dia.

Baca juga: Islam Nusantara Jadi Jembatan Diplomasi Damai

Haedar kemudian merujuk kepada dinamika tokoh nasional, Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo dalam sejarah kemerdekaan RI.

Diketahui, Kasman adalah anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan terlibat dalam proses pengesahan Undang- undang Dasar (UUD) 1945 pada rapat PPKI 18 Agustus 1945.

Ki Bagus Hadikusumo sebagai salah satu representasi golongan Islam saat itu sempat menolak pengesahan UUD 1945. Ia menolaknya karena ada butir mewakili aspirasi umat Islam yang dihapus.

Butir yang dihapus berbunyi, "ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya".

Butir itu sendiri merupakan kesepakatan yang dicapai pada rapat Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 22 Juni 1945 sebelumnya. Kesepakatan tersebut dikenal dengan nama Piagam Jakarta.

Baca juga: Jokowi: Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 Harga Mati

Kasman kemudian berperan menjadi jembatan antara Ki Bagus dengan Ir Soekarno dan Mohammad Hatta. Kasman mendorong agar kedua tokoh itu membujuk Ki Bagus untuk mengesampingkan kata itu.

Sebab, apabila butir tersebut dipertahankan, pasti muncul dari unsur golongan yang lain.

Akhirnya Ki Bagus dan sejumlah tokoh Islam sepakat mengesampingkan butir pada Piagam Jakarta tersebut. Pada bagian tersebut diganti dengan frasa "ketuhanan yang maha esa".

"Jadi, dua tokoh ini (Kasman Singodimedjo dan Ki Bagus Hadikusumo) punya peran integrasi nasional keislaman dan kebangsaan. Sejak itu, Islam dan keindonesiaan itu bersenyawa dan tidak ada lagi berkontradiksi," ujar Haedar.

"Karena itu jangan lagi dibawa pada kontradiksi oleh siapapun," lanjut dia.

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jelang Pilkada, Satgas Wanti-wanti Jangan Sampai Ada Kerumunan di TPS

Jelang Pilkada, Satgas Wanti-wanti Jangan Sampai Ada Kerumunan di TPS

Nasional
Dugaan Keterlibatan Pemberi Suap Lain Dalam Kasus Edhy Prabowo

Dugaan Keterlibatan Pemberi Suap Lain Dalam Kasus Edhy Prabowo

Nasional
Bareskrim Telusuri Aliran Dana Kasus Dugaan Investasi Bodong Kampung Kurma Group

Bareskrim Telusuri Aliran Dana Kasus Dugaan Investasi Bodong Kampung Kurma Group

Nasional
Dukung Pangdam Jaya, Polri Sebut Baliho Rizieq Shihab Langgar Perda dan Mengandung Unsur Provokasi

Dukung Pangdam Jaya, Polri Sebut Baliho Rizieq Shihab Langgar Perda dan Mengandung Unsur Provokasi

Nasional
Soal Libur Panjang, Satgas Covid-19: Masyarakat Harus Belajar dari Pengalaman Sebelumnya

Soal Libur Panjang, Satgas Covid-19: Masyarakat Harus Belajar dari Pengalaman Sebelumnya

Nasional
Kontak Tembak dengan KKB di Nduga Papua, Tiga Prajurit TNI Terluka

Kontak Tembak dengan KKB di Nduga Papua, Tiga Prajurit TNI Terluka

Nasional
Satgas: Jadwal Vaksinasi Covid-19 Bergantung pada Hasil Uji Klinis dan Kajian BPOM

Satgas: Jadwal Vaksinasi Covid-19 Bergantung pada Hasil Uji Klinis dan Kajian BPOM

Nasional
KAMI Nilai Pemerintah Tak Mampu Atasi Covid-19

KAMI Nilai Pemerintah Tak Mampu Atasi Covid-19

Nasional
Dugaan Investasi Bodong oleh Kampung Kurma Group, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

Dugaan Investasi Bodong oleh Kampung Kurma Group, Polisi Belum Tetapkan Tersangka

Nasional
Satgas Covid-19 Minta Pemda Lakukan Simulasi Sebelum Sekolah Dibuka

Satgas Covid-19 Minta Pemda Lakukan Simulasi Sebelum Sekolah Dibuka

Nasional
Ini Alasan Polri Belum Panggil Rizieq Shihab terkait Kerumunan di Jakarta dan Bogor

Ini Alasan Polri Belum Panggil Rizieq Shihab terkait Kerumunan di Jakarta dan Bogor

Nasional
Ditanya Alasan Turuti Perintah Brigjen Prasetijo, Saksi Singgung soal Hubungan Senior-Junior di Polri

Ditanya Alasan Turuti Perintah Brigjen Prasetijo, Saksi Singgung soal Hubungan Senior-Junior di Polri

Nasional
Mendes PDTT Minta 'BumDes Bersama' Pertimbangkan Model Bisnis Berskala Luas

Mendes PDTT Minta "BumDes Bersama" Pertimbangkan Model Bisnis Berskala Luas

Nasional
Lebih 800.000 Pemilih Pilkada 2020 Belum Rekam E-KTP, Mendagri Sebut Itu Hak Mereka

Lebih 800.000 Pemilih Pilkada 2020 Belum Rekam E-KTP, Mendagri Sebut Itu Hak Mereka

Nasional
KPK Duga Ada Pemberi Suap Lain kepada Edhy Prabowo Terkait Ekspor Bibit Lobster

KPK Duga Ada Pemberi Suap Lain kepada Edhy Prabowo Terkait Ekspor Bibit Lobster

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X