Surya Paloh: Radikalisme Ada di Mana-mana, Jangan Bilang Tak Ada

Kompas.com - 14/08/2019, 20:14 WIB
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).KOMPAS.com/ HARYANTI PUSPA SARI Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh mengatakan, tantangan Indonesia ke depan yakni mempertahankan keutuhan bangsa dan negara dalam pluralisme atau kemajemukan.

Sebab, menurut dia, telah muncul ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan berkembang di setiap lapisan masyarakat.

"Kaum garis keras radikalisme ada di mana-mana, dari mulai anak PAUD hingga profesor, doktor, radikal, jangan katakan itu tidak ada. Ini tantangan kita bersama. Ini adalah masalah kita bersama," kata Paloh saat memberikan kuliah umum kebangsaan bertajuk 'Tantangan Bangsa Indonesia Kini dan Masa Depan', di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (14/8/2019).

Baca juga: Menhan Minta Waspadai Radikalisme di Lingkungan Pendidikan


Paloh mengatakan, paham radikalisme itu bisa memecah belah bangsa. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat mengandalkan semangat kemajemukan.

Ia pun berharap masyarakat sadar bahwa ideologi NKRI tak boleh berubah. 

Selain itu, Paloh menyampaikan, sistem bernegara di Indonesia kian kompetitif karena setiap urusan bergantung pada uang.

"Ketika kita berkompetisi (politik) wani piro. Saya enggak tahu lembaga pengkajian UI ini sudah mengkaji 'wani piro' itu saya enggak tahu, praktiknya yang saya tahu money is power, bukan akhlak, bukan kepribadian, bukan attitude, bukan juga ilmu pengetahuan. Above all, money is power," kata dia.

Baca juga: BIN Sebut Target Utama Penyebaran Paham Radikalisme Usia 17-24

Menurut dia, sistem bernegara yang cenderung kapitalis dan liberal akan mencederai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia.

"You tahu enggak bangsa kita ini adalah bangsa yang kapitalis hari ini. You tahu enggak bangsa kita ini bangsa yang sangat liberal hari ini. Ngomong Pancasila, mana itu Pancasila. Tanpa kita sadari juga, kalau ini memang kita masuk dalam tahapan apa yang dikategorikan negara kapitalis," ucap Paloh. 

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X