Mbah Moen Meninggal, Ini Kenangannya Tentang Nahdliyin

Kompas.com - 06/08/2019, 10:22 WIB
Ketua Majelis Syariah PPP Maimoen Zubair di kantor PPP, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019). KOMPAS.com/FITRIA CHUSNA FARISAKetua Majelis Syariah PPP Maimoen Zubair di kantor PPP, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019).

KOMPAS.com - Tokoh Nahdlatul Ulama, Kiai Haji Maimun Zubair atau akrab dipanggil Mbah Moen dikabarkan meninggal dunia saat melakukan rangkaian ibadah haji pada Selasa (6/8/2019).

Kabar ini kemudian dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Partai Persatuan Pembangunan Arsul Sani.

"Iya, saya mendapat kabar dari Mekkah," ucap Arsul Sani saat dihubungi Kompas.com, Selasa pagi.

Dia melanjutkan, kabar itu didapat langsung dari putra Mbah Maimun, yaitu Taj Yasin yang juga merupakan wakil gubernur Jawa Tengah.

"Dikonfirmasi putra Beliau, Gus Yasin, Wagub Jateng," kata Arsul.

Baca juga: Mbah Maimun Zubair Meninggal Dunia, Ini Kenangan tentang Sosoknya...

Maimun Zubair merupakan salah satu tokoh sepuh di PPP. Saat ini dia dikenal sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar di Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Dalam setiap kegiatan yang dihadiri, beliau selalu memberikan nasihat kepada Nahdlyin tentang arti penting Nahdlyin sebagai penggerak Nahdlatul Ulama (NU).

Dilansir dari www.nu.or.id, mantan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mbah Moen mengatakan bahwa untuk mengetahui siapa Nahdliyin terlebih dahulu harus mengetahui latar belakang, tujuan dan siapa yang mendirikan NU.

"NU itu berdiri tahun 1926 M, tepatnya tanggal 31 bulan Januari. Berdirinya Nahdlatul Ulama itu berdiri pertama kali lewat Muktamar. Muktamar pertama kali itu berakhir pada tanggal 31 Januari. Memilih Rais Akbar Mbah Hasyim (KH Hasyim Asy'ari) dan wakilnya Kiai Faqih Maskumambang," jelasnya kepada NU Online, Kamis (2/2/2017), di Rembang, Jawa Tengah.

"Banyak kiai yang meng-isghal-kan (mempertanyakan) kenapa dinamakan Nahdlatul Ulama. Kata Nahdlatul Ulama itu masdar dari nahdlah, yang mengikuti wazan fa'la yang disebut sebagai masdar marrah (isim yang menunjukkan peristiwa terjadi hanya sekali)," terangnya.

Nama Nahdlatul Ulama sendiri didasari atas usulan Kiai Mas Alwi.

Kiai Mas Alwi mengajukan usul agar jam’iyyah ulama itu diberi nama Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama), yang pengertiannya lebih condong pada gerakan serentak para ulama dalam suatu pengarahan, atau, gerakan bersama-sama yang terorganisasi.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X