Eni Sebut Sofyan Basir Tahu Pembagian Fee Proyek PLTU Riau-1

Kompas.com - 29/07/2019, 17:24 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeksekusi mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih ke Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Anak Wanita Tangerang. Dokumentasi Humas KPKKomisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeksekusi mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih ke Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Anak Wanita Tangerang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR Eni Maulani Saragih menganggap mantan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir mengetahui adanya pembagian fee terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang (PLTU) Riau-1 dari pengusaha Johannes Budisutrisno Kotjo.

Hal itu diungkapkan Eni ketika ia mengonfirmasi Berita Acara Pemeriksaan ( BAP) atas nama dirinya yang dibacakan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Ronald Worotikan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (29/7/2019).

Dalam persidangan itu sendiri, Eni bersaksi untuk Sofyan selaku terdakwa kasus dugaan suap terkait proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mulut Tambang (PLTU) Riau-1.

"Saudara, di BAP nomor 30 menjelaskan bahwa 'Pak Sofyan Basir mengetahui adanya pembagian fee yang akan diberikan 2,5 persen oleh Kotjo'. Betul ya?" tanya jaksa Ronald.

Baca juga: Johannes Kotjo Mengaku Ditawari Proyek Pembangkit oleh Sofyan Basir

Eni hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia mengonfirmasi BAP yang dibacakan.

Jaksa melanjutkan, pada pertemuan mereka tanggal 3 Juli 2018, Eni bercerita ke Sofyan soal rencana penerimaan fee 2,5 persen dari Kotjo.

"Dan tanggapan dari Pak Sofyan Basir adalah bukan 2,5 persen itu, dapatnya lebih gede dari itu. Yang saya pahami adalah Pak Sofyan Basir sudah paham urusan proyek 35.000 megawatt (MW) itu adalah ada fee-nya', betul ya?" tanya jaksa Ronald.

"Iya, memang di-BAP seperti itu," jawab Eni, singkat. 

Dalam perkara ini, Sofyan Basir didakwa membantu transaksi dugaan suap dalam proyek pembangunan PLTU Riau-1. Sofyan dinilai memfasilitasi kesepakatan proyek hingga mengetahui adanya pemberian uang.

Baca juga: Eni Maulani Saragih dan Pengusaha Johannes Kotjo Jadi Saksi Sidang Kasus Sofyan Basir

Adapun transaksi suap itu berupa pemberian uang Rp 4,7 miliar kepada Eni Maulani Saragih dan mantan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham.

Uang tersebut diberikan oleh pengusaha bernama Johannes Budisutrisno Kotjo.

Menurut jaksa, Sofyan memfasilitasi pertemuan antara Eni, Idrus, dan Kotjo selaku pemegang saham Blackgold Natural Resources Limited dengan jajaran direksi PT PLN. Hal itu untuk mempercepat proses kesepakatan proyek Independent Power Producer (IPP) PLTU Riau 1.

Eni sendiri sebelumnya sudah divonis 6 tahun penjara karena terbukti menerima suap terkait proyek tersebut.

 

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X