Membaca Hambatan Puan Maharani Menjadi Ketua DPR

Kompas.com - 27/07/2019, 06:45 WIB
Menko PMK Puan Maharani saat menonton Timnas Basket Putera Indonesia bertanding melawan Tim Korea Selatan, di Hall Basket Komplek GBK, Senayan, Jakarta, Selasa (15/8/2018) malam.DOK Kemenko PMK Menko PMK Puan Maharani saat menonton Timnas Basket Putera Indonesia bertanding melawan Tim Korea Selatan, di Hall Basket Komplek GBK, Senayan, Jakarta, Selasa (15/8/2018) malam.

Sejak menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2014 lalu, Puan Maharani Nakshatra Kusyala sering mengajak saya mengadakan perjalanan di berbagai tempat di Indonesia ini, dan sekali ke Tiongkok.

Dari wilayah paling barat, Kepulauan Mentawai, sampai Kaimana di Irian, saya melihat Puan melakukan kunjungan kerja sebagai menteri.

Dalam perjalanan darat, bila tiba jam makan, kami berhenti di warung-warung. Dalam perjalanan ini kami sering mengadakan pembicaraan.

Setiap kami bicara soal partai politik dengan segala macam pertentangan idiologinya, Puan sering mengatakan, “Bagaimana pun kita adalah sesama bangsa Indonesia.”


Lebih dari itu, kata Puan, kita adalah sesama manusia.

Dalam acara resmi di muka massa, dia sering bicara tentang persatuan dan kesatuan bangsa, terutama ketika di Papua.

Di tempat lain, dia sering bicara soal, “sotil” (bahasa Jawa, alat untuk menggoreng makanan).

Dalam kunjungan kerja di Tiongkok selama satu minggu (Akhir Juli sampai awal Agustus 2016), Puan Maharani banyak dipandang sebagai cucu seorang proklamator Republik Indonesia yang bersahabat dengan Tiongkok.

Secara protokoler, Puan mendapat perhatian cukup istimewa.

Tapi suatu kali, rombongan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini naik ke tingkat lima lewat tangga (bukan lift), tiba-tiba Puan mendekati saya dengan wajah ketakutan dan bertanya dengan suara terbata-bata.

“Pak Osdar nggak papa ya?” Tanyanya pada saya.

“Lho wajahnya kok jadi pucat dan baju basah. Tidak kesakitan karena naik tangga ini ya?”

Langsung saya jawab, “Saya oke oke saja kok.”

Menko yang berusia 42 tahun saat itu langsung minta kepada salah satu asistennya, Siti Nurhaza untuk membeli baju untuk mengganti baju saya yang basah kuyup. Ini sebuah kenangan.

Setiap selesai mengadakan perjalanan seperti ini, sering Puan bertanya pada saya, bagaimana tanggapan orang tentang perjalanan-perjalanan tersebut, dan saya mengatakan “cukup bagus.” “

"Akh jangan-jangan banyak yang bilang, saya ini masih anak kecil,” kata canda Puan setiap kali saya mengatakan banyak tanggan baik terhadap kinerjanya.

”Sering lho saya dengar orang mengatakan saya ini ini ndoro putri. Padahal kan saya sering kerja membanting tulang keliling Indonesia meninggalkan anak dan suami demi untuk bangsa ini, “ujarnya beberapa kali pada saya.

Ihwal tentang “ndoro putri” pernah saya tulis dalam buku saya berjudul “Sisi Lain Istana jilid III SARUNG JOKOWI DAN WAK, WAK, WAK” (Penerbita Buku Kompas).

Beberapa bulan setelah pulang di Indonesia, kebetulan saya bertemiu dengan Presiden ke-5 RI atau Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (atau PDI Perjuangan) Megawati Soekarnoputri.

Untuk catatan kecil, Megawati sering mengatakan tidak suka PDI Perjuangan disingkat PDI-P.

Kembali pertemuan saya dalam acara makan malam bersama beberapa teman wartawan lainnya yang diadakan Megawati.

Ketua Umum PDI Perjuangan yang kebetulan mamanya Puan bertanya pada saya, “Bagaimana kinerja Puan dalam perjalanan perjalanan kerja?”

Cepat saya menjawab, “cukup bagus”.

“Cukup bagus bagaimana, tidak jelas jawabannya," sergah Megga.

"Oh ya Bu Mega, selama di Tiongkok, banyak orang di toko-toko atau di mal-mal, kenal Mbak Puan bukan hanya seorang menteri tapi juga cucu Bung Karno," jawab saya.

“Mbak Puan dalam pidato-pidato resmi di Tiongkok banyak menawarkan kerjasama soal mengelola sungai-sungai bersih di Indonesia bersih, pariwisata dan kesenian,” kata saya lagi.

Beberapa hari kemudian, saya bertemu Puan.

Saya ceritakan tentang pertemuan dengan Megawati.

Saya katakan kepada Pauan, bahwa hampir saja saya menyampaikan usul kepada Megawati, agar Puan diusulkan jadi calon Ketua DPR.

Nampaknya Puan juga tidak berminat dengan cerita saya ini karena diam saja.

“Saya konsentrasi dulu dengan kerja saya di kabinet sekarang,” ujarnya.

Beberapa kali saya ulangi lagi hal itu di setiap kesempatan bertemu, Puan juga tidak bereaksi atas hal itu.

Ketika mulai kampanye pemilihan umum tahun lalu, saya mengatakan lagi kepada Puan yang kebetulan mencalonkan diri lagi untuk duduk di DPR.

“Kalau Mbak Puan bisa meraih suara terbanyak dalam pemilihan legislatif ini, kemungkinan besar untuk jadi Ketua DPR, jalannya sangat mulus,” kata saya.

Dia hanya menjawab, “Amin, Amin dan Amin”.

Suatu hari dalam percakapan santai, seorang tokoh Partai Golongan Karya, soal Puan jadi ketua DPR, tokoh terebut bilang, ”Keliatannya yang akan jadi ketua calon yang meraih suara terbanyak.”

Sang tokoh mengatakan bagi Indonesia agar demokrasinya tampil cukup menawan, ketuanya memang harus orang yang terpilih dengan suara terbanyak.”

Sejak beberapa pekan lalu, pemberitaan pers tentang kemungkinan besar Puan Maharani jadi ketua DPR semakin santer dan ramai.

Puan Maharani tidak serta merta mengamini dugaan-dugaan itu.

Tapi dia mencatat dalam jawaban-jawabannya bila ditanya wartawan bahwa dia mendapat suara terbanyak.

Aturan Undang-undang

Dia mengakui, bila dia jadi Ketua DPR maka dalam sejarah republik ini, baru kali ini ada ketua DPR seorang perempuan.

Selain itu sejak pemerintahan Presiden ke-2 RI, Soeharto berkuasa, kursi ketua DPR dikuasai oleh Partai Golongan Karya.

Memang penguasaan ketua DPR dalam sejarah, sejak Orde Baru sampai kini pernah diselingi dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Demokrat . Saat itu adalah era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (2004-2014).

Di masa reformasi, banyak orang dari Partai Golongan Karya menduki kursi ketua DPR.

PDI Perjuangan, bahkan ketika menjadi partai nomor satu pun tidak bisa mendudukinya.

Kini setelah ada UU MD3 (Undang-undang MPR, DPR, dan DPD) jalan ke kursi itu sangat mulus bagi PDI Perjuangan unuk mendudukinya.

Dalam Pemilu Legislatif 2019, Puan Maharani memperoleh 397.481 suara, atau hammpir mencapai 400 ribu suara dari Daerah Pemilihan V Jawa Tengah (Sukoharjo, Boyolali dan Surakarta).

Tahun 2014, Puan di wilayah ini memperoleh suara 242.504.

Beberapa hari lalu, dalam pembicaraan semi serius dengan seorang anggota Partai Golkar, dikatakan kesempatan seperti ini perlu diambil oleh Puan.

Orang Partai Golkar itu bilang bila Puan mau mengambilnya, kekecewaan PDI Perjuangan di tahun 1999 dan 2014, bisa sangat terobati.

Tahun-tahun itu, PDI adalah partai pemenang dengan suara terbanyak.

Tapi tidak bisa duduk di kursi pimpinan DPR dan MPR.

Tahun 1999 bisa kurang sakit hati karena kemudian mendapat kursi wakil presiden dan selanjutnya kursi presiden.

Tahun 2014, oleh Bambang Soesatyo yang kini menjadi ketua DPR, tahun 2014 itu disebut sebagai tahun salam gigit jari dan ini adalah kelanjutan dari salam dua jari.

Setelah Partai Golkar masuk dalam koalisi pemerintah, pada tahun 2018 lalu, dihasilkan UUD MD3 yang menetapkan pemenang Pemilu 2019 otomatis ketua DPR.

Dalam Undang-undng nomor 2 Tahun 2018 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 17 Tahun 2014, tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3), pemenang pemilu berhak atas kursi ketua DPR.

“Saat ini hak PDI Perjuangan, “ kata Ketua DPR Bambang Soesatyo beberapa waktu lalu.

Hari Jumat, 26 Juli 2019, saya tanya kepada Bambang Soesatyo (Bamsoet) hanya memberi teks pidatonya, bagaimana kalau Puan jadi ketua DPR.

Bamsoet tidak menjawab dan sebagai gantinya hanya memberi saya teks pidatonya untuk rapat paripuna DPR penutupan masa sidang ke- V tahun sidang 2018- 2019 di kompleks Parlemen, Senayan, Kamis (25/7/2019) yang berjudul “Menanti Kabinet Baru”.

Saya tanya lagi bila Puan jadi ketua DPR, Bamsoet mengatakan akan menjawab ini dengan pantun. Tapi pantun itu tidak kunjung dibuat dan datang pada saya.

Kawah Candradimuka

Beberapa hari lalu Wakil Ketua DPR Utut Adianto yang juga sebagai wakil Sekjen PDI Perjuangan mengatakan akan mengusulkan Puan jadi ketua DPR.

Dalam pembicaraan santai dengannya di kantor PDI Perjuangan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, hari Rabu (24/7/2019), Utut saya tanya tentang hal ini.

“Saya secara pribadi ingin Mbak Puan dalam percaturan dunia politik lebih masuk ke kawah candradimuka, yaitu di kursi kedua DPR,” ujar grandmaster catur Indonesia itu dengan gaya jenaka.

Saya tanya saya lagi bagaimana reaksi Puan setelah pernyataannya itu, Utut dengan ringan dan santai mengatakan, ”Saya tidak tahu.”

Tapi, katanya lagi, ia ingin Puan semakin berkiprah secara signifikan dalam dunia politik di Indonesia .”Ini kan perlu kawah candradimuka,” ujarnya.

Tapi, tokoh PDI Perjuangan lainnya yang tidak enak untuk disebut namanya mengatakan, ada keengganan di kalangan partai besar ini, karena setelah Pemilu ini diduga serangan pers terhadap DPR akan keras.

Pers, kata fungsionaris itu, melihat banyak anggota DPR saat ini yang terpilih berkat politik uang.

Mereka, katanya, akan mudah terperosok dalam usaha mencari kembali uang yang “dibayarkan” untuk terpilihnya mereka jadi anggota DPR.

Tapi, keadaan itu seperti yang dikatakan oleh Utut adalah kawah candradimuka.

Bisa membuat yang duduk di kawah itu bisa kuat sekali atau jatuh.

Tapi melewati kawah itu dengan selamat akan menjadi tokoh yang bisa terbang melayang seperti Gatotkaca, tokoh perwayangan Jawa.

Pendiiri lembaga Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang dalam diskusi mengatakan, sebaiknya Puan menjadi ketua DPR, karena selain suara pemilihnya terbanyak, dia bisa menjadi jembatan yang baik antara kaum melenial dan tokoh-tokoh tua di DPR.

“Soal serangan pers kepada DPR sebagai lembaga korup kan bisa diatasi dengan toknologi yang membuat kerja DPR dan para ketuanya lebih mudah dilihat masyarakat atau transparan,” kata pengritik keras DPR yang pernah jadi ketua Parlemen Watch yang dia dirikan itu.

Di dalam PDI Perjuangan tidak seperti di dalam Partai Golkar.

Seperti yang sering dikatakan Puan sendiri bila bicara soal kesempatan jadi Ketua DPR ini, “Semua tergantung pada Ibu Ketua Umum”.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X