Perjalanan Politik Megawati, dari Pengusaha Pom Bensin hingga Penguasa Medan Merdeka Utara

Kompas.com - 26/07/2019, 06:30 WIB
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. KOMPAS/ALIF ICHWANKetua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Kongres PDI di Medan pada Juli 1993 untuk mengukuhkan Soerjadi kembali sebagai ketua umum menemui jalan buntu.

Kongres Luar Biasa pun digelar di Surabaya pada Desember 1993. Tak sesuai dengan harapan pemerintah untuk memenangkan tokoh yang bisa dikendalikan, Megawati justru tampil sebagai pemenang dengan meraih dukungan dari 27 DPD untuk mengambil alih pimpinan PDI.

Berdasarkan Kongres Surabaya 1993, Megawati adalah Ketua Umum PDI periode 1993-1998.
Dikutip dari buku Megawati dalam Catatan Wartawan (2017), pascaterpilih sebagai ketua umum, Megawati berkeliling Indonesia untuk konsolidasi dan menemui rakyat.

Ketidaksukaan pemerintah Orde Baru akan popularitas Megawati justru membuat Megawati makin dicintai orang banyak. Ia adalah simbol perlawanan terhadap tekanan Orde Baru. Megawati sempat diusulkan sebagai calon presiden.

Megawati terus digoyang dan coba didongkel di tengah jalan. Pada 1996, lawan politik Megawati yang didukung pemerintah di dalam partai menggelar kongres Medan yang memilih Soerjadi sebagai ketua umum.

Pascakongres PDI di Medan, pucuk pimpinan PDI terbelah dua. Ada PDI Soerjadi yang didukung pemerintah dan ada PDI Megawati yang didukung akar rumput.

PDI kubu Megawati menguasai Kantor Dewan Pimpinan Pusat PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta. Insiden berdarah pecah di sana saat massa dari kubu Soerjadi yang didukung pemerintah merebut paksa kantor.

Lima orang dilaporkan tewas, sementara ratusan orang mengalami luka-luka.

Tekanan terhadap Mega justru menguatkan dukungan rakyat terhadapnya. Pendukungnya di PDI bahkan pindah ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan membentuk "Mega-Bintang". Mega sendiri memilih golput saat Pemilu 1997.

Mendirikan PDI-P

Lengsernya Soeharto pada Mei 1998 membawa angin segar. Megawati hengkang dari PDI dan mendirikan PDI Perjuangan untuk bertarung pada Pemilu 1999.

Karisma Megawati membahana. PDI-P besutannya menjadi pemenang Pemilu dengan memperoleh 33,74 persen suara. Sementara, PDI Soerjadi hanya mengantongi 0,33 persen.

Sayangnya, jalan Megawati naar Merdeka Utara tak berlangsung mulus. Di Parlemen ia terganjal manuver poros tengah yang dimotori Amien Rais.

Parlemen memilih Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden dan Megawati sebagai wakil presiden.

Megawati menjemput takdirnya yang tertunda di Medan Merdeka Utara pada 23 Juli 2001 ketika ia dilantik menjadi Presiden kelima Indonesia sekaligus Presiden Perempuan pertama yang pernah memerintah negeri ini menggantikan Gus Dur yang dilengserkan Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Baca juga: Hari Ini 18 Tahun Lalu, Megawati Soekarnoputri Torehkan Sejarah Politik Indonesia

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X