Bukan Janji, Jokowi Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 6-7 Persen di Periode Kedua

Kompas.com - 22/07/2019, 15:22 WIB
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Kepala Bekraf Triawan Munaf (kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) membuka Pameran Karya Kreatif Indonesia di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (12/07/2019). Pameran bertema Mendorong Pertumbuhan Melalui UMKM Go Export dan Go Digital tersebut menampilkan UMKM unggulan binaan Bank Indonesia.ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Kepala Bekraf Triawan Munaf (kiri) dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (kanan) membuka Pameran Karya Kreatif Indonesia di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (12/07/2019). Pameran bertema Mendorong Pertumbuhan Melalui UMKM Go Export dan Go Digital tersebut menampilkan UMKM unggulan binaan Bank Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo menargetkan angka pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6-7 persen di periode keduanya bersama Ma'ruf Amin. Namun, Jokowi juga menegaskan bahwa target yang ia pasang ini bukan merupakan sebuah janji.

"Ini bukan janji lho ya, ini target. Menurut saya kita harus punya target pertumbuhan ekonomi 6-7 persen," kata Jokowi dalam wawancara eksklusif dengan Tribunnews.com, Kamis (18/7/2019).

Baca juga: Jokowi: Sampai Detik Ini, Anak-anak Saya Tidak Tertarik Dunia Politik

Saat kampanye pilpres 2014 lalu, Jokowi juga pernah berjanji pertumbuhan ekonomi Indonesia 7 persen. Namun, janji itu tak pernah terpenuhi. Selama lima tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, pertumbuhan ekonomi hanya berkutat pada angka 5 persen.


Jokowi menilai ada sejumlah hal yang membuat angka pertumbuhan ekonomi sulit digenjot.

"Beratnya, pertumbuhan ekonomi global terus turun, bolak-balik direvisi. Dalam kondisi seperti saat ini, semua negara memproteksi diri untuk kepentingan masing-masing," kata Jokowi.

Baca juga: Jokowi Jadi Presiden, Pria Ini Jalan Kaki Sejauh 876 Km dari Rumahnya ke Jakarta

Jokowi menyebut, untuk menyelesaikan masalah ekonomi ini, kuncinya ada dua yaitu transaksi berjalan dan neraca perdagangan. Namun, ia mengakui dalam kedua aspek itu Indonesia dalam kondisi defisit puluhan tahun.

"Lha untuk menyelesaikan itu hanya ada dua cara, yaitu investasi masuk dan peningkatan ekspor sebesar-besarnya," kata dia.

Namun, masalahnya produksi minyak mentah dan gas belum bisa melompat, sedangkan kebutuhan makin meningkat karena kendaraan makin banyak.

Baca juga: Mengenal Pho, Makanan Vietnam Kesukaan Jokowi dan Iriana

Jika impor makin banyak, maka akan menambah defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan.

"Oleh sebab itu kita berusaha menyelesaikan ini bukan hanya melalui lifting tetapi juga penerapan B20 (bio solar, campuran antara solar dan minyak sawit). Penggunaan B20 itu kan hampir 100 persen dari target, ini mau kita tingkatkan lagi. Saya targetkan sampai akhir tahun masuk ke B30," kata dia.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X