Alasan Yenti Garnasih Pillih Jadi Ketua Pansel ketimbang Capim KPK

Kompas.com - 26/06/2019, 13:09 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) menerima Ketua Panitia Seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023 Yenti Ganarsih (kiri) bersama anggota di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/6/19). Presiden berharap Pansel KPK menghasilkan calon pimpinan KPK dengan kemampuan managerial dan menguasai dinamika pemberantasan korupsi. ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARIPresiden Joko Widodo (kanan) menerima Ketua Panitia Seleksi calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2019-2023 Yenti Ganarsih (kiri) bersama anggota di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/6/19). Presiden berharap Pansel KPK menghasilkan calon pimpinan KPK dengan kemampuan managerial dan menguasai dinamika pemberantasan korupsi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar tindak pidana pencucian uang dari Universitas Trisakti, Yenti Garnasih memiliki alasan tersendiri mengapa lebih memilih menjadi Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) daripada maju sebagai calon pimpinan.

Salah satu wacana yang berkembang di kalangan masyarakat sipil adalah, KPK memerlukan calon yang memiliki kemampuan mumpuni dalam tindak pidana pencucian uang.

Di sisi lain, Yenti merupakan salah satu pakar tindak pidana pencucian uang yang memiliki rekam jejak panjang.

Yenti mengakui banyak pihak yang mendorongnya untuk menjadi calon pimpinan lembaga antirasuah itu. Dorongan-dorongan itu, kata Yenti, sudah berlangsung cukup lama.

Baca juga: ICW Ingatkan Pansel Tetap Fokus Cari Calon Pimpinan KPK yang Berintegritas

"Artinya, ada sebagian potensi bangsa yang menginginkan saya justru masuk jadi komisioner. Dan sejak Pansel (KPK) pertama itu, selalu banyak yang menyebut saya untuk jadi komisioner, gitu," kata Yenti saat berbincang dengan Kompas.com di Gedung Rektorat Universitas Trisakti, Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Akan tetapi, Yenti merasa lebih cocok berada di luar dan menjadi akademisi. Yenti merasa lebih baik menyumbangkan pemikiran-pemikirannya dari luar. Menurutnya, masih ada pihak lain yang lebih cocok maju sebagai calon Pimpinan KPK.

"Saya berpikir saya ini kan pemikir ya, akademisi, lebih tatarannya kepada grand designnya nanti bagaimana. Saya mikir juga, dalam kehidupan kan ada pembagian. Ada pemikir-pemikirnya, ada aplikatifnya," kata dia.

Baca juga: Cerita Yenti Garnarsih Ditunjuk Jadi Ketua Pansel Capim KPK di Bulan Ramadhan

"Nah saya mengambil posisi nampaknya saya lebih menguntungkan walaupun ada sedikit saja jasa saya bagi bangsa, yang sedikit ini mungkin menurut saya lebih bagus, saya di luar. Bisa memberikan suatu dorongan," sambungnya.

Ia mengapresiasi banyak pihak yang merekomendasikan dirinya untuk maju sebagai calon pimpinan KPK. Akan tetapi, ia menganggap itu merupakan penilaian dari orang lain saja.

"Beberapa teman bahkan kolega saya, bahkan orang-orang terdekat saya lebih baik Ibu di dalam (KPK), gitu ya. Ya saya demokratis, terbuka saja atas penilaian-penilaian seperti itu, tapi sejauh ini saya merasa sudahlah saya di luar (KPK) aja," ujarnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X