Terima Kasih Anak Muda, Terima Kasih Indonesia

Kompas.com - 28/05/2019, 10:58 WIB
Ratusan peserta karnaval dengan menggunakan pakaian adat trasional daerah, mengikuti karnaval budaya nusantara di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (28/10/2018). Karnaval mengambil tema Bangun Pemuda, Satukan Indonesia diadakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-90. KOMPAS/ALIF ICHWANRatusan peserta karnaval dengan menggunakan pakaian adat trasional daerah, mengikuti karnaval budaya nusantara di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (28/10/2018). Karnaval mengambil tema Bangun Pemuda, Satukan Indonesia diadakan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-90.

SEJARAH punya cerita, terutama cerita tentang sepak terjang anak muda. Dengan kata lain, sejarah punya kita, anak muda.

Menurut buku-buku sejarah, diceritakan bahwa pada masa prarevolusi dan proklamasi kemerdekaan, mayoritas para pemimpin Indonesia masuk ke dalam golongan pemuda.

Mereka menjadi pemimpin pada usia yang sangat muda, bahkan beberapa di antaranya masih berusia di bawah 30 tahun.

Beberapa dekade kemudian, kita melihat perkembangan generasi muda mulai maju bergerak dengan cepat, di luar dan di dalam di panggung politik, dalam negeri sampai ke luar negeri.

Pun di bidang yang lain. Hari ini, lihatlah di perusahaan, organisasi, institusi swasta atau pun dalam penyelenggaraan negara, peran anak muda makin terasa.

Pemuda mempunyai peran yang sangat penting dalam membuat dan mengawal setiap keputusan dalam institusi-institusi tersebut.

Dengan fakta tersebut, maka tak bisa dihindari bahwa merekalah generasi yang akan menerima, membangun dan mengelola (masa depan) negara ini kedepannya.

Terbukti, dari dulu hingga hari ini, anak muda menjadi kekuatan inovatif yang selalu dinamis sepanjang sejarah, mampu untuk berpartisipasi bahkan menggerakkan pembaharuan-pembaharuan penting dalam politik nasional dan global.

Generasi muda hari ini yang dididik dengan optimisme jamannya, dibesarkan dengan semangat "progresif revolusioner" pendahulunya, tidak silau dengan kemajuan zaman dan tidak terbius oleh mitos-mitos perjuangan.

Sekalipun banyak keraguan yang muncul, bahkan cenderung dinilai dalam kacamata paradoksal, generasi hari ini tetap mampu berjuang mempertahankan status fungsionalnya sebagai agen-agen pembaharuan yang membawa perubahan-perubahan segar dan positif, dalam rangka memberi jawaban atas persoalan-persoalan yang ada, saat ini maupun di masa depan.

Hari ini, pelan tetapi pasti. Ekspresi kegelisahan dan keresahan di dalam diri mereka tidak lagi dengan turun ke jalan, menjahit mulut, mogok makan, atau bahkan menduduki gedung-gedung pemerintahan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X