[POPULER DI KOMPASIANA] Pembelajaran Pemilu dari Australia | Perang Dagang AS-China | Jual Beli Data Pribadi

Kompas.com - 24/05/2019, 20:56 WIB
Presiden AS Donald Trump saat mengunjungi perbatasan selatan di California yang berseberangan dengan Meksiko, Jumat (5/4/2019). AFP / SAUL LOEBPresiden AS Donald Trump saat mengunjungi perbatasan selatan di California yang berseberangan dengan Meksiko, Jumat (5/4/2019).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Sama halnya dengan Indonesia, kini di Australia juga tengah terjadi kontestasi politik untuk memperebutkan kekuasaan.

Bukan hanya itu, di negeri Kanguru tersebut pertarungan juga melibatkan dua kubu yang saling berhadap-hadapan.

Kubu pertama adalah Koalisi Liberal-Nasional yang dipimpin oleh Perdana Menteri Scott Morisson. Sementara kubu kedua adalah Partai Buruh yang dipimpin oleh Bill Shorten.


Panasnya pertarungan kedua kubu, tulis Kompasianer Kadir Ruslan, sudah terasa sejak tahun lalu.

"Publik disuguhi rivalitas yang sehat dan berkelas yang dibalut pertarungan gagasan syarat data tentang bagaimana negara yang populasinya hanya 1/10 populasi Indonesia itu dikelola," lanjutnya.

Tidak hanya tentang pelajaran yang bisa dipetik dari pemilu di Australia, pada pekan ini Kompasiana juga diramaikan dengan topik jual beli data pribadi hingga prakiraan ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) periode 2019-2024.

Berikut 5 artikel terpopuler di Kompasiana pekan ini:


1. Pelajaran dari Australia

Jelang pemungutan suara tahun ini, tulis Kompasianer Kadir Ruslan, pertarungan semakin panas dan meruncing antar kedua kubu kontestan pemilu di Australia.

Saling serang agenda ekonomi yang diusung oleh Partai Buruh yang dipimpin oleh Bill Shorten maupun Koalisi Liberal-Nasional yang dipimpin oleh Perdana Menteri Scott Morisson semakin panas dan meruncing.

Scott Morison berulangkali menyampaikan, di setiap tempat yang dikunjungi, bahwa Partai Buruh terbukti kerap gagal dalam mengelola anggaran negara. Selalu defisit. 

"Berbeda dengan pemerintahan Koalisi yang berhasil menjaga anggaran tetap surplus dalam beberapa tahun terakhir," lanjut Kompasianer Kadir Ruslan.

Akan tetapi, betapapun keras dan panasnya pertarungan, tak ada satupun orang yang dipolisikan. Alhasil, polisi Australia bisa fokus kepada tugas pokoknya: memberikan rasa aman kepada masyarakat. (Baca selengkapnya)


2. Perang Dagang a la Donald Trump

Donald Trump adalah pribadi yang unik, tulis Kompasianer Ronald Wan, kalau tidak bisa dikatakan sangat berbeda. Pasalnya Donald Trump kerap kali menggunakan Twitter untuk mengumumkan sebuah kebijakan membuat semua orang harus menyesuaikan diri.

Tetapi yang kini tengah hangat menjadi perbincangan adalah ketika Donald Trump percaya bahwa penerapan tarif atas barang impor eks-China akan dibayar oleh China dan akan menguntungkan AS. 

Namun, yang sebenarnya terjadi bahwa semua tarif impor dibayar oleh konsumen negara yang mengimpor. 

" Tambahan tarif akan dianggap sebagai biaya oleh importir dan biasanya akan dibebankan kepada konsumen melalui harga jual yang meningkat," tulis Kompasianer Ronald Wan.

Selain itu beberapa target negosiasi perang dagang bisa berbalik akan memberikan insentif bagi perusahaan AS untuk memindahkan pabrik ke China.

Jika AS berhasil untuk menekan China untuk mengubah kebijakan ini, maka kemungkinan perusahaan AS akan termotivasi untuk investasi di China. (Baca selengkapnya)


3. Apakah Huawei Bakal Menjadi Kompetitor Terbesar iPhone?

Seperti halnya yang telah ditulis Kompasianer Ronald Wan, dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menurut Kompasianer Gatot Tri, sudah merembet ke bisnis smartphone, yaitu Huawei.

Boikot dari Android kepada semua perangkat Huawei yaitu meliputi tidak boleh menggunakan OS tersebut. Boikot dari Android ini termasuk akses ke layanan Google.

Boikot Huawei di AS oleh karena kebijakan pemerintah AS menimbulkan kompetisi tidak seimbang di ranah smartphone, yaitu kompetisi antara Huawei dan iPhone. 

Di satu sisi Huawei tidak bisa masuk ke AS, negara asal iPhone namun Huawei justru berkompetisi head to head dengan iPhone di China. (Baca selengkapnya)


4. Menakar Pemilik Kursi Ketua MPR 2019-2024

Jika kursi ketua DPR sudah dapat dipastikan menjadi milik PDI Perjuangan sebagai partai pemenang Pemilu 2019, tetapi tidak demikian dengan kursi ketua DPR.

Tiba-tiba saja Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menabuh "genderang perang" sehingga memancing reaksi Partai Golkar.

"Wajar jika Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto langsung memotong manuver Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang berambisi mendapat kursi ketua MPR," tulis Kompasianer Yon Bayu.

Sebab, meski unggul dalam perolehan suara dibanding Partai Nasdem, namun PKB diperkirakan hanya mendapat 58 kursi, di bawah Nasdem yang mendapat 59 kursi. (Baca selengkapnya)


5. Jual Beli Data Pribadi, Atasi dengan 3T Ini...

Supaya tidak tertipu ketika mendapatkan penawaran dari seseorang yang telah mengetahui data-data diri kita, Kompasianer Juanda menawarkan 3 kiat yang bisa diikuti. 3T, begitu Kompasianer Juanda menyederhanakannya.

Pertama, tenang. Tidak perlu panik saat menerima panggilan dari orang yang tidak kita tahu lewat telepon dan lalu menawarkan ini-itu.

"Kalau tidak siap untuk melayani, lebih bijak tidak perlu direspon penawaran itu," tulis Kompasianer Juanda.

Kedua, tidak rakus. Maksudnya adalah ketika penawaran itu akan sangat menjelaskan keuntungan yang akan kita peroleh, maka perlu dipikirkan antara kebutuhan dan keinginan, serta kemampuan untuk membayar. (Baca selegkapnya)

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X