Pemilu Irasional dan Gejolak Post-Truth

Kompas.com - 24/05/2019, 20:15 WIB
Ilustrasi media sosial THINKSTOCKS/NICO ELNINO Ilustrasi media sosial

Jangan sampai irasional kemudian tumbuh apapun yang terjadi “kawan dibela, lawan dicela”.
Padahal sejatinya demokrasi membutuhkan narasi yang berbeda atas kekuasaan, karena beda tidak selamanya adalah hoaks.

Sebagaimana kekuasaan tidak boleh terlampau absolut, karena dia akan cenderung corrupt hingga dapat melahirkan otoritarianisme. Sebagaimana kesimpulan Lord Acton yang mengatakan "power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men".

Beragam contoh fenomena tersebut terserak dan mudah ditemukan dalam kehidupan pasca- pemilu. Proses mencari-cari kesalahan dan kelemahan datang silih berganti, hilir mudik diruang publik.

Ironisnya situasi ini tidak hanya melibatkan mereka yang tertinggal informasi, namun ternyata terjadi pada insan cerdik cendekia. Beberapa analis menyebut fenomena ini sebagai post-truth. Era post-truth, menurut J.A. Llorente, merupakan “iklim sosial-politik” di mana objektivitas dan rasionalitas dikalahkan oleh emosi atau hasrat yang lebih memihak ke keyakinan meskipun sebetulnya fakta menunjukkan hal yang berbeda” (2017: 9).

Adapun istilah post-truth, menurut McIntyre, sebetulnya lahir dari keprihatinan orang-orang yang penuh perhatian terhadap konsep kebenaran dan merasa bahwa kebenaran sedang diserang dan dilecehkan (McIntyre, 2018: 6). 


Mereduksi Polarisasi

Kita berpikir bahwa era polarisasi akan berakhir selepas pemilu tanggal 17 April 2019, ternyata faktanya dalam beberapa simpul justru makin menguat dan cenderung mengeras.

Menganggap apa yang datang dari pihak yang bersebrangan salah dan wajib ditentang. Kebenaran didominasi oleh ‘aku’ bukan ‘kamu’, terlebih ‘kita’. Hingga pada titik nadir takaran ilmiah tidak punya otoritas menentukan kebenaran.

Kriteria kebenaran mendasarkan pada informasi yang mendukung keyakinan subjek. Jadi post-truth bukan mengabaikan fakta, tetapi pembusukkan proses agar fakta yang telah dikumpulkan melalui proses kredibel dan bisa diandalkan justru hanya untuk membentuk keyakinan seseorang/kelompok tentang realitas (McIntyre, 2018: 11).

Dengan demikian post-truth tidak mengatakan bahwa fakta tidak ada, tetapi fakta harus tunduk kepada sudut pandang politik saya. Maka ketika keyakinan seseorang terancam oleh fakta yang dianggap tak sesuai, lebih baik mempertanyakan fakta itu (McIntyre, 2018:13).

Kita harus hentikan kekacauan ini, sekecil apapun usaha kita. Bisa jadi situasi ini menjadi tren global, tapi harus ada usaha untuk memitigasi dan mereduksi sejak awal. Anak bangsa ini punya sejarah panjang tentang kelapangan jiwa dan pengabaian dendam.

Jika kita mau sejenak reflektif dan saling menukar perasaan, atas apa yang sedang diperjuangkan selama ini hampir tidak ada perbedaan prinsip. Hanya pendekatan dan caranya saja yang tidak sama. 

Sumbu pengetahuan harus murni dan benar, sebagaimana suluh keyakinan harus dibangun dengan analogi yang ilmiah. Saling melengkapi dan memberi makna positif, tidak menegasikan apalagi melakukan pembusukan. J

ika tidak pandai-pandai mengelola konflik ini, bukan tidak mungkin kita akan mengalami stagnasi massal.

 

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X