PP Muhammadiyah: Seluruh Pihak Menahan Diri, Jauhi Kekerasan

Kompas.com - 23/05/2019, 11:56 WIB
Polisi bertahan dari lemparan batu para demonstran yang ricuh di dekat gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Rabu (22/5/2019) malam.KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES Polisi bertahan dari lemparan batu para demonstran yang ricuh di dekat gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Rabu (22/5/2019) malam.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyerukan kepada seluruh pihak untuk dapat menahan diri dan menghentikan tindakan anarkistis yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa, usai pengumuman hasil Pemilu 2019.

Massa aksi unjuk rasa diminta tetap damai dan mematuhi aturan selama aksi digelar.

"Dalam hal gerakan massa atau demo yang menyuarakan aspirasi politik masalah pemilu diimbau tetap damai, tertib, menaati aturan, dan menjauhi segala bentuk kekerasan," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir di Gedung PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (23/5/2019).

Baca juga: Kecam Keras Kerusuhan, PP Muhammadiyah Minta Aksi Massa Dihentikan


Haedar mengatakan, sungguh mahal harganya jika Indonesia harus mengalami ekskalasi kerusuhan dan anarkistis yang disebabkan karena sengketa politik pemilu lima tahunan.

Padahal, masih hanyak persoalan dan agenda nasional lain yang harus diselesaikan.

"Masih banyak permasalahan dan agenda nasional untuk diselesaikan bersama menuju Indonesia yang bersatu, adil, makmur, bermartabat, berdaulat, dan berkemajuan," ujarnya.

Baca juga: Perusuh 22 Mei, dari By Design, Massa Bayaran, hingga Dalang Kerusuhan

Haedar mengajak para tokoh agama, elite politik, pejabat publik, media massa, warganet, hingga warga bangsa untuk dapat menciptakan suasana yang sejuk dan damai demi kerukunan dan persatuan nasional.

Seluruh pihak juga diimbau untuk menghindari pernyataan-pernyataan dan tindakan yang dapat memanaskan dan memperkeruh keadaan yang merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Media sosial hendaknya dijadikan saluran yang menciptakan suasana tenang, damai, bersatu, dan berkeadaban mulia serta dihentikan dari memproduksi hoaks, keresahan, kebencian, perseteruan, dan permusuhan sesama keluarga bangsa Indonesia," katanya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X