Kompas.com - 03/05/2019, 18:07 WIB
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menghadiri aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5/2019). Aksi peringatan May Day yang digelar Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) itu untuk menyuarakan kesejahteraan buruh serta demokrasi jujur dan damai. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ama. ANTARA FOTO/Rivan Awal LinggaCalon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menghadiri aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Rabu (1/5/2019). Aksi peringatan May Day yang digelar Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPI) itu untuk menyuarakan kesejahteraan buruh serta demokrasi jujur dan damai. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ama.

OHANA, means family!” Kutipan dari film animasi Lilo & Stitch yang diproduksi tahun 2002 oleh Walt Disney Feature Animation mungkin menjadi pertanyaan paling krusial bagi Calon Presiden Prabowo Subianto pada pekan ini.

Keluarga, menjadi hal paling penting ketika angka demi angka berubah seiring "real count" Pilpres 2019 yang dapat dilihat secara langsung melalui Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) KPU.

Hasilnya? Jika masih mempercayai sistem penyelenggara kompetisi politik di Indonesia, silahkan Anda cek sendiri.

Keluarga bagi Pak Prabowo saat ini lebih penting dibandingkan sikap partai-partai koalisi pendukungnya yang secara dramaturgi Erving Goffman mempertunjukan interaksi simbolik bergesernya dukungan para pemimpin mitra koalisi politik Gerindra.

Baca juga: BPN Prabowo-Sandi Laporkan KPU dan Lembaga Survei ke Bawaslu

Tanpa malu-malu, sejumlah pemimpin partai-partai mitra koalisi yang rupanya juga memantau hitung cepat (quick count), meski dinafikan kesahihannya oleh Prabowo, melihat hasil positif dari Pemilu 2019 yakni lolos ambang batas parlemen (parliamentary threshold).

Interaksi simbolik sejumlah elite mitra koalisi Gerindra yang rapuh sejatinya sudah dipertunjukkan sebelum gelaran Pemilu 2019. Mulai dari sikap mempertunjukan dukungan kepada Capres Joko Widodo, ada pula yang berposisi sebagai mitra namun secara struktural memilih membebaskan kader maupun simpatisannya untuk netral.

Dalam kondisi saat ini hanya keluarga besar Raden Mas Sumitro Djojohadikusumo yang dapat diandalkan Prabowo Subianto. Serupa ketika titik terendah harus dialami keluarga ini pada akhir 1950-an dan akhir 1990-an.

Jurnalis senior Aristides Katoppo dalam biografi Sumitro, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000) dan Mochtar Lubis (Catatan Subversif) menulis pada akhir 1950-an, Pak Sumitro dan keluarga diburu rezim saat itu.

Nama besar Margono Djojohadikusumo, bapak koperasi bersama Muhammad Hatta, sekaligus pendiri Bank BNI 1946 seolah tak berbekas. Keluarga Sumitro hidup berpindah negara demi menghindari penangkapan.

Baca juga: Relawan Prabowo-Sandi Rahasiakan Lokasi Tim IT yang Pantau Kesalahan Situng KPU

Masa-masa kepahitan tersebut tentu menciptakan ikatan yang kuat dalam keluarga tersebut, bahkan ketika masa panen tiba: Pak Mitro menjadi aliansi kekuatan Orde Baru di bidang ekonomi. Posisi yang tidak bisa dibantah adalah jalan terang dan lapang bagi keluarga Pak Sumitro.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketum PBNU Tegur PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo karena Dugaan Terlibat Politik Praktis

Ketum PBNU Tegur PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo karena Dugaan Terlibat Politik Praktis

Nasional
Ketua DPR Harap Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura Kuatkan Komitmen Penegakan Hukum

Ketua DPR Harap Perjanjian Ekstradisi RI-Singapura Kuatkan Komitmen Penegakan Hukum

Nasional
Eijkman Jelaskan Efektivitas Vaksin Booster Lawan Varian Omicron

Eijkman Jelaskan Efektivitas Vaksin Booster Lawan Varian Omicron

Nasional
Kerangkeng Manusia di Langkat, Pimpinan Komisi III Minta Penegak Hukum Tak Pandang Bulu

Kerangkeng Manusia di Langkat, Pimpinan Komisi III Minta Penegak Hukum Tak Pandang Bulu

Nasional
Airlangga Sebut Penyandang Disabilitas Bisa Jadi Mesin Penggerak Perekonomian

Airlangga Sebut Penyandang Disabilitas Bisa Jadi Mesin Penggerak Perekonomian

Nasional
Aliran Dana Pencucian Uang Mantan Pejabat Ditjen Pajak Diduga Sampai ke Eks Pramugari Siwi Widi Purwanti

Aliran Dana Pencucian Uang Mantan Pejabat Ditjen Pajak Diduga Sampai ke Eks Pramugari Siwi Widi Purwanti

Nasional
PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo Penuhi Panggilan PBNU di Jakarta

PCNU Banyuwangi dan Sidoarjo Penuhi Panggilan PBNU di Jakarta

Nasional
KPK Tahan Eks Bupati Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa

KPK Tahan Eks Bupati Bupati Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa

Nasional
TNI AD Segera Bangun Kodim Hingga Satuan Zeni Baru di Awal Kepindahan Ibu Kota Negara

TNI AD Segera Bangun Kodim Hingga Satuan Zeni Baru di Awal Kepindahan Ibu Kota Negara

Nasional
Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat, Penyelenggara Negara yang Terlibat Perdagangan Orang Bisa Dikenai Pidana Tambahan

Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat, Penyelenggara Negara yang Terlibat Perdagangan Orang Bisa Dikenai Pidana Tambahan

Nasional
Jadi Tersangka KPK, Eks Bupati Buru Selatan Punya Harta Rp 15,8 Miliar

Jadi Tersangka KPK, Eks Bupati Buru Selatan Punya Harta Rp 15,8 Miliar

Nasional
Perjanjian Ekstradisi Disepakati, Ini Daftar Koruptor yang Diduga Masih dan Sempat Kabur ke Singapura

Perjanjian Ekstradisi Disepakati, Ini Daftar Koruptor yang Diduga Masih dan Sempat Kabur ke Singapura

Nasional
Jadi Tersangka KPK, Eks Bupati Buru Selatan Diduga Terima Suap Rp 10 Miliar Terkait Proyek Infrastruktur

Jadi Tersangka KPK, Eks Bupati Buru Selatan Diduga Terima Suap Rp 10 Miliar Terkait Proyek Infrastruktur

Nasional
Eks Bupati Buru Selatan Jadi Tersangka, Kerap Tentukan Pemenang Proyek

Eks Bupati Buru Selatan Jadi Tersangka, Kerap Tentukan Pemenang Proyek

Nasional
Selain Suap, 2 Eks Pejabat Ditjen Pajak Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp 2,4 Miliar

Selain Suap, 2 Eks Pejabat Ditjen Pajak Juga Didakwa Terima Gratifikasi Rp 2,4 Miliar

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.