Bima Arya: Setelah Pemilu 2019, PAN Akan Tentukan Arah Dukungan

Kompas.com - 03/05/2019, 09:10 WIB
Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan (kiri) bersama Ketua Dewan Pertimbangan PAN Amien Rais (tengah) dan Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama (kanan) tiba di lokasi Rakernas PAN di Jakarta, Kamis (9/8). Dalam rakernas tersebut PAN secara resmi mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2019. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/18. Akbar Nugroho GumayKetua Umum PAN Zulkifli Hasan (kiri) bersama Ketua Dewan Pertimbangan PAN Amien Rais (tengah) dan Ketua Umum Partai Idaman Rhoma Irama (kanan) tiba di lokasi Rakernas PAN di Jakarta, Kamis (9/8). Dalam rakernas tersebut PAN secara resmi mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2019. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww/18.

BOGOR, KOMPAS.com - Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa PAN akan kembali menentukan arah dukungan usai kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Langkah itu akan dilakukan seperti yang terjadi usai Pilpres tahun 2014.

"Tahun 2014 kan sama juga begitu selesai, ada format ulang, kita lihat saja. Nanti akan ada forum partai khusus, mengevaluasi pilpres, mengevaluasi pileg, mengevaluasi kebijakan partai," ujar Bima Arya di Bogor, Kamis (2/5/2019), seperti dikutip Antara.

Baca juga: PAN Akui Tak Dapat Suara dari Kelompok 212 dan Kelompok Moderat


Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto saat hadir dalam acara Speak Up Satukan Suara yang dihadiri ratusan pendukung Jokowi-Maruf Amin di Puri Begawan, Jumat (12/4/2019) malam   KOMPAS.com / RAMDHAN TRIYADI BEMPAH Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Bima Arya Sugiarto saat hadir dalam acara Speak Up Satukan Suara yang dihadiri ratusan pendukung Jokowi-Maruf Amin di Puri Begawan, Jumat (12/4/2019) malam
Menurut dia, PAN akan terlebih dahulu melihat hasil Pileg dan Pilpres 2019. Dari hasil itu, Bima menyebutkan bahwa akan ada perbandingan suara PAN dengan Pileg dan Pilpres sebelumnya.

"Nanti kelihatan apakah PAN turun atau naik. Kalau naik kenapa, kalau turun kenapa. Di situ pula dibahas kecenderungan ke depan gimana, arahnya harusnya ke mana," terangnya.

Di samping itu, pendiri Lembaga Survei Charta Politika ini menanggapi tuduhan dari calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto yang menganggap pelaksanaan Pilpres tahun 2019 penuh kecurangan.

"Kalau kemudian tidak puas dengan hasil 'real count' KPU, ada mekanismenya. Bisa ke Mahkamah Konstitusi (MK), bisa menggugat itu," kata Bima.

Baca juga: Sosok Prabowo Dinilai Tak Dongkrak Suara PAN

Politisi PAN yang belakangan terang-terangan mendukung Jokowi-Ma'ruf Amin ini bahkan menantang tim nomor urut 02 untuk membeberkan data dan fakta, mengenai kecurangan yang disebut-sebut.

"Kalau merasa ada yang curang, ada manipulasi, diangkat dong buktinya. Faktanya seperti apa, dibuka datanya. Jadi diadu fakta dan data, bukan dengan opini," tuturnya.

Pada Pilpres 2014, meski PAN masuk dalam koalisi pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto - Hatta Rajasa, tapi setelah selesai kontestasi, PAN memutuskan bergabung dengan koalisi Jokowi - Jusuf Kalla.

Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas, PAN memperoleh 6,77 persen suara dalam Pileg DPR. Sementara pada Pileg 2014, PAN memperoleh 7,59 persen suara.

Baca tentang
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Antara
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X