Pemilu 2019 dalam Pusaran Hoaks, Bukti Lemahnya Literasi Digital?

Kompas.com - 23/04/2019, 13:57 WIB
Ilustrasi hoaksShutterstock Ilustrasi hoaks

Ketika di sekolah seluruh kendali ada di tangan guru, misalnya, semua instruksi guru wajib kita ikuti sama persis. Nyaris tidak diberi ruang untuk bereksperimen dengan metode atau cara lain.

Selain itu, sangat jarang tugas di sekolah berupa penelitian atau membuat esai ilmiah dengan kajian literatur. Pelajaran hanya berdasarkan buku di kelas saja, dan sudah menjadi rahasia umum bahwa nilai adalah tujuan utama yang dikejar.

Hal ini menyebabkan murid tidak memiliki daya inisiatif, daya kritis, dan keberanian dalam memberikan pendapat di muka umum.

Seandainya para pendidik mau menerapkan konsep yang tepat, hasilnya bisa jauh berbeda. Yakni, murid dibebaskan untuk mengeksplorasi secara mandiri agar mengasah kemampuan berpikir kritis. Adapun guru berperan sebagai pengarah dan pembimbing.

Alhasil, ketika siswa diberikan tugas atau permasalahan, mereka dapat mengembangkan kemampuan berpikir logis, membuat hipotesis, bereksperimen, lalu membuat kesimpulan berdasarkan hasil eksperimen tersebut. Seperti kata Albert Einstein, "Logic will get you from A to Z, imagination will get you everywhere".

Kembali ke persoalan hoaks, salah satu praktik yang bisa nyata dilakukan adalah melalui tugas berkonsep citizen journalism.

Siswa dilatih untuk merancang dan membuat tugas mencari berita yang dapat diuji keasliannya, sehingga siswa akan terbiasa menerapkan fungsi pengecekan dan tentunya berhati-hati dalam memberikan informasi.

Contoh lain adalah siswa juga dilatih melakukan kajian literatur, membaca jurnal-jurnal ilmiah untuk membantu proses penelitian. Tentunya juga harus ditunjang dengan kemampuan untuk membuat laporan ilmiah dengan baik.

Dengan konsep seperti ini, diharapkan muncul generasi muda yang memiliki daya kreativitas tinggi, pola berpikir kritis, dan daya nalar tinggi, sehingga dapat menciptakan inovasi baru, karya-karya kreatif, dan penelitian yang bermanfaat untuk bangsa Indonesia dan dunia internasional.

Mari kita tingkatkan kemampuan literasi digital dan berpikir kritis agar tidak mudah kemakan isu hoaks apalagi menjadi produsen isu hoaks tersebut.

Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia berdasarkan hasil resmi perhitungan KPU, semoga rakyat Indonesia kembali merajut persatuan dan kerukunan demi masa depan Indonesia dan menghapus gap perbedaan dan bersatu dalam ruang bersama.

Karena, pada hakikatnya kemenangan dari pesta demokrasi ini adalah kemenangan seluruk rakyat Indonesia. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Syahrier Firmansyah Wakid
Mahasiswa Master di Corvinus University of Budapest, Hongaria
Kepala Divisi Kajian dan Aksi Strategis PPI Hongaria
Staf Kantor Komunikasi dan penanggung jawab IT PPI Dunia

Budy Sugandi
CEO Klikcoaching
PhD Candidate di Southwest University, Chongqing, China
Wakil Katib Syuriah PCI NU China
Komisi Pendidikan PPI Dunia

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X