Pemilu 2019 dalam Pusaran Hoaks, Bukti Lemahnya Literasi Digital?

Kompas.com - 23/04/2019, 13:57 WIB
Ilustrasi hoaksShutterstock Ilustrasi hoaks

Yang lebih memprihatinkan lagi, data UNESCO menyebutkan minat baca orang Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, jika ada 1.000 orang Indonesia berkumpul hanya 1 orang yang rajin membaca.

Padahal, kemampuan ini krusial di era serba cepat sekarang. Termasuk literasi digital, yang merupakan kemampuan untuk mengolah memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital.

Tak hanya kemampuan membaca, literasi digital juga mencakup kemampuan menulis yang berhubungan dengan informasi yang didapat melalui media berformat digital (internet-based media, website, social media).

Kemampuan dan budaya literasi digital tidak hanya harus dimiliki oleh anak-anak usia remaja, tetapi juga oleh para akademisi bahkan oleh seseorang profesor.

Alan Sokal (profesor fisika di New York University dan profesor matematika di University College London) mengungkapkan, akademisi bergelar tinggi pun dapat tertipu oleh hoaks.

Sokal membuktikannya dengan membuat uji coba berupa sebuah jurnal berjudul Transgressing the Boundaries: Towards a Transformative Hermeneutics of Quantum Gravity (Secor & Walsh, 2004) dan dimuat di In the 46th / 47th edition of Spring 1996, Social Text, sebuah publikasi jurnal terkenal di Amerika Serikat.

Jurnal yang dibuat oleh Sokal itu sebenarnya adalah jurnal yang penuh dengan hoaks. Makalah yang ia tayangkan di Social Text tersebut hanyalah parodi untuk mengejek pemikir postmodern para editor di jurnal publikasi yang menyukai artikelnya.

Apa alasannya? Ternyata, editor Social Text menyukai artikelnya lantaran memiliki kesimpulan yang sesuai dengan ideologi editor, yaitu konten dan metodologi ilmu postmodern memberikan dukungan intelektual yang kuat untuk proyek-proyek politik progresif.

Apa yang telah dilakukan Sokal sampai hari ini sering disebut sebagai bukti bagaimana komunitas akademik pun juga rentan terhadap hoaks.

Jika jurnal publikasi yang dipimpin oleh para ahli saja mudah dikelabui, apalagi orang biasa yang tidak terbiasa meninjau, menguji, hingga memverifikasi sebuah informasi.

Jika dirunut lebih jauh, kurangnya literasi di masyarakat ialah tidak terbiasa untuk berpikir kritis.

Hal ini disebabkan oleh pendidikan di Indonesia juga tidak memberikan ruang untuk kita mengasah kemampuan berpikir kritis.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X