Megalomania

Kompas.com - 21/04/2019, 08:40 WIB
Ditaktor Jerman, Adlof Hitler, lebih memilih jamur, ketimbang sajian dari daging di akhir hidupnya. Selain itu, minyak biji rami dan kue menjadi santapannya di bunker Berlin. (Daily Mirror)
Ditaktor Jerman, Adlof Hitler, lebih memilih jamur, ketimbang sajian dari daging di akhir hidupnya. Selain itu, minyak biji rami dan kue menjadi santapannya di bunker Berlin. (Daily Mirror)

Tersebutlah seorang pemimpin dari negeri pelangi. Seorang pemimpin yang suka meninggikan dirinya sendiri. Pamer kuasa bak seorang raja. Senang disanjung, dipuja, dan dipuji.

Orang-orang terus memuliakannya. Tak heran kalau pemimpin ini begitu angkuh dan arogan. Tak seorang pun berani mengkritik, apalagi mencela.

Tanpa disadari, pemimpin ini tampak hanya mementingkan kemuliaan dirinya saja. Sebaliknya, simpatisannya diabaikan.

Megalomania

Perilaku pemimpin tersebut menunjukkan seorang pemimpin yang mengidap megalomania. Megalomania sejenis gangguan mental yang membuat pengidapnya selalu membesarkan dirinya secara berlebihan sehingga tertanam pada dirinya paling hebat, paling unggul, paling berkuasa. 

Pengidap megalomania selalu ingin dihormati dan disanjung. Sebaliknya, tidak mau dikritik atau dicela. Menghadapi pengidap megalomania memang harus ekstra hati-hati.

Ciri-ciri megalomania

Cirinya yaitu suka memandang dirinya berlebihan, merasa superioritas, selalu ingin jadi pemimpin yang senang disanjung, ingin dihormati, menganggap dirinya paling benar, haus kekuasaan, menolak kritik,  ego tinggi, suka meremehkan orang lain, sombong, arogan, emosional.

Gangguan kepribadian

Pengidap megalomania bisa jadi punya gangguan kepribadian. Pendiri aliran psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939) mengatakan bahwa megalomania termasuk narcissistic  (narsisistik),  mengagungkan diri sendiri secara berlebihan.

Rita L. Atkinson dkk dalam buku Pengantar Psikologi (1993:281)  menyebutkan bahwa megalomania termasuk narcissistic personality disorder (gangguan kepribadian narsisistik).

Gangguan kepribadian ini menggambarkan pengidap megalomania sebagai orang yang mempunyai ambisi pribadi yang melambung tinggi yang dipenuhi dengan khayalan-khayalan sukses. Selain itu, selalu mencari pujian dan perhatian. Tidak peka terhadap kebutuhan orang lain, malahan sering mengeksploitasinya. 

Tak bisa disembuhkan

Menurut pakar psikologi politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk (Tempo.com, 24 Juli 2014, Muhammad Muhyiddin) mengatakan bahwa pengidap megalomania tak bisa disembuhkan.

Alasannya, pengidap megalomania sulit menerima kenyataan yang terjadi pada dirinya. Misalnya kalah dalam pertandingan, tak begitu saja diterimanya. Malah menuduh pihak lain yang bermain curang terhadap dirinya. Kalaupun tetap dianggap kalah, pengidap megalomania merasa dirinya dizalimi.

Dengan demikian, pengidap megalomania tidak berjiwa besar, karena kebenaran hanya ada pada dirinya sendiri. 

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X