Aiman Witjaksono
Host & Produser Eksekutif Program AIMAN KompasTV

Host & Produser Eksekutif Program AIMAN | AIMAN setiap senin, Pukul 20.30 WIB di KompasTV

Strategi Jokowi dan Prabowo di Babak Final

Kompas.com - 08/04/2019, 11:15 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

"Ya tujuannya untuk melihat kondisi yang sebenarnya. Dan kita betul-betul merasakan betul kondisi sebenarnya. Mau bergerak saja tidak bisa, terutama yang dari Jakarta ke Depok itu mau bergerak saja tidak bisa," kata Jokowi kepada wartawan di sela-sela kunjungan kerja di Lampung Selatan, Jumat dua hari setelahnya (8/3/2019).

Kita simpan sementara suasana Jokowi di KRL-nya...


Prabowo dan nenek tua


Saya beralih ke suasana Capres 02, Prabowo Subianto, saat kampanye di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saat orasi di panggung, mendadak seorang nenek tua, naik ke atas, memeluk Prabowo. Sontak riuh rendah banyak pendukung bergemuruh. Suasana haru menyelimuti.

Belakangan muncul desas-desus, sang nenek dibayar Rp 500.000. Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membantah hal ini dan menyebutnya sebagai fitnah.

Tak kurang sang Nenek yang belakangan diketahui bernama Irah, bersaksi "Demi Allah, saya tidak terima uang Rp 500.000 dari Pak Prabowo", katanya sambil menangis. Kasihan nenek tua yang hingga terbawa arus politik era Post-Truth.

Baca juga: Peluk dan Cium Prabowo, Nenek Irah: Satu Peser Pun Saya Tak Pernah Terima Uang

Terlepas dari semua kejadian yang terjadi beserta bumbu-bumbunya. Ada pesan yang tersampaikan dari dua kejadian di atas. Jokowi yang pulang kerja naik KRL, atau nenek yang tiba-tiba naik ke panggung kampanye memeluk dan mencium Prabowo, punya makna penting.


Pesan yang syarat makna


Jokowi yang sejak menjabat Wali Kota Solo, dikenal egaliter, dekat dengan masyarakat, tak bisa dielak. Dengan peristiwa KRL, kesan mengukuhkan posisi ini, kuat adanya.

Selama menjadi Presiden, gerak-geriknya dengan masyarakat terbatas, atas alasan keamanan sebagai orang nomor 1 di negeri ini.

Sementara Prabowo, sang mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus), sulit pula dielakkan bahwa keseharian yang dikenal bergaya militer, berapi-api, namun luluh melihat masyarakat yang lemah, layaknya nenek Irah.

Peristiwanya bisa jadi disengaja atau bahkan tak disengaja, tak penting! Tapi efek dari tersebarnya video yang sarat makna ini, menjadi kekuatan bagi para kandidat yang bermakna pesan mendalam di alam bawah sadar para pemilih.

Saya Aiman Witjaksono...

Salam!

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.