Tantangan Jihad Kemanusiaan Usai Keruntuhan ISIS

Kompas.com - 05/04/2019, 16:56 WIB
Pengungsi perempuan dan anak-anak meninggalkan Desa Baghouz di Suriah Timur, Suriah, basis terakhir ISIS yang dihancurkan Tentara Demokratik Suriah (SDF) dukungan Amerika Serikat. Gambar diambil pada 14 Maret 2019. AFP/GIUSEPPE CACACEPengungsi perempuan dan anak-anak meninggalkan Desa Baghouz di Suriah Timur, Suriah, basis terakhir ISIS yang dihancurkan Tentara Demokratik Suriah (SDF) dukungan Amerika Serikat. Gambar diambil pada 14 Maret 2019.

Ia membayangkan "surga" di kawasan ISIS. Terlebih lagi, pada 2014 itu ISIS sedang gencar-gencarnya menguasai kawasan Suriah.

Tertarik dengan kampanye ISIS, Nur Dhania mengajak keluarga besarnya berangkat ke Suriah dengan mempertaruhkan harta dan nyawa. Ayahnya sampai keluar dari pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Batam dan menjual rumah untuk ongkos perjalanan ke Suriah.

Tak tanggung-tanggung, 25 orang anggota keluarga ini—termasuk saudara—berangkat ke Suriah. Namun, kenyataan yang ditemukan di Suriah jauh panggang dari api, bertolak belakang dengan segala propaganda yang dia dapat dan yakini sebelumnya.

Mendengar ISIS untuk pertama kalinya dari sang paman—yang sekarang dipenjara karena kasus terorisme—, Nur Dhania dan keluarga besarnya tiba di Suriah pada 2015. Apa yang dia saksikan di area pertempuran ISIS benar-benar mengejutkannya. 

Tak hanya mendapati pemandangan jauh berbeda dengan ilusi-ilusi buah propaganda, Nur Dhania harus kehilangan nenek dan sejumlah saudaranya yang meninggal di tengah kecamuk perang.

Di tengah keterkejutan dan kesedihan, Nur Dhania dan beberapa saudaranya yang masih hidup berusaha kabur dari kawasan ISIS. Mereka berhasil keluar dari kawasan ISIS, meratapi nasib di kamp pengungsian PBB, dan kemudian pulang ke Indonesia.

Baca juga: Shamima Begum: Saya Dicuci Otak oleh ISIS

Kisah serupa dialami Shamima Begum. Namun, kisahnya lebih tragis. Sama-sama tertipu propaganda ISIS, Dhania masih bisa pulang ke Indonesia, sementara Shamima ditolak masuk kembali ke Inggris, asal kewarganegaraannya.

Usia Shamima Begum juga masih 15 tahun ketika memutuskan berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Bersama Amira Abase dan Kadiza Sultana, dua kawannya, Shamima nekat lari dari rumah, terbang ke Turki dan berlanjut ke Suriah, lagi-lagi karena tergiur propaganda ISIS. 

Di Suriah, Shamima Begum terperanjat dengan kehidupan yang ditawarkan ISIS. Ia masih di usia labil ketika datang ke Suriah, lalu menikah dengan Yago Riedijk, pemuda berkebangsaan Belanda yang sama-sama terjerat kampanye khilafah ISIS.

Shamima Begum menghabiskan masa remaja dalam kemelut perang, siang-malam dalam kamp ISIS. Ia melahirkan anak pertama dan kedua di tengah desing peluru dan pertarungan mereka yang terlena dengan propaganda ISIS.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dugaan Korupsi di BPJS Ketenagakerjaan, KSPI: Buruh Merasa Dirampok Pejabat Berdasi

Dugaan Korupsi di BPJS Ketenagakerjaan, KSPI: Buruh Merasa Dirampok Pejabat Berdasi

Nasional
BPOM dan Kemenkes Bakal Kaji Keamanan Vaksin Covid-19 Buatan Pfizer

BPOM dan Kemenkes Bakal Kaji Keamanan Vaksin Covid-19 Buatan Pfizer

Nasional
Tanggapi Moeldoko Soal Menteri yang Tak Terbuka Positif Covid-19, Pengamat: Publik Butuh Keteladanan

Tanggapi Moeldoko Soal Menteri yang Tak Terbuka Positif Covid-19, Pengamat: Publik Butuh Keteladanan

Nasional
Kementerian Pertahanan Akan Rekrut 25.000 Orang untuk Komponen Cadangan

Kementerian Pertahanan Akan Rekrut 25.000 Orang untuk Komponen Cadangan

Nasional
IDI Minta Pemerintah Kaji Ulang Kebijakan yang Tidak Prioritaskan Vaksin untuk Penyintas Covid-19

IDI Minta Pemerintah Kaji Ulang Kebijakan yang Tidak Prioritaskan Vaksin untuk Penyintas Covid-19

Nasional
Teka-teki Penyebab Banjir Besar di Kalimantan Selatan

Teka-teki Penyebab Banjir Besar di Kalimantan Selatan

Nasional
Kasus Suap Bansos, KPK Dalami Pemberian Uang Kepada PPK Kemensos

Kasus Suap Bansos, KPK Dalami Pemberian Uang Kepada PPK Kemensos

Nasional
PMI Salurkan 250.000 Liter Air Bersih ke Sulbar dan Kalsel

PMI Salurkan 250.000 Liter Air Bersih ke Sulbar dan Kalsel

Nasional
Banjir Bandang Puncak Bogor, Menko PMK Minta PTPN Relokasi Pemukiman Karyawan

Banjir Bandang Puncak Bogor, Menko PMK Minta PTPN Relokasi Pemukiman Karyawan

Nasional
Saat Pemda Diminta Perbaiki Penanganan Covid-19 di Tengah Tingginya Laju Kasus Harian

Saat Pemda Diminta Perbaiki Penanganan Covid-19 di Tengah Tingginya Laju Kasus Harian

Nasional
Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Citra Satelit: Eks Ketua BIG Tersangka, Kerugian Negara Rp 179,1 Miliar

Kasus Dugaan Korupsi Pengadaan Citra Satelit: Eks Ketua BIG Tersangka, Kerugian Negara Rp 179,1 Miliar

Nasional
Komitmen Listyo Sigit di Uji Kelayakan Calon Kapolri: Polantas Tak Perlu Menilang, Terorisme hingga Gaet Influencer

Komitmen Listyo Sigit di Uji Kelayakan Calon Kapolri: Polantas Tak Perlu Menilang, Terorisme hingga Gaet Influencer

Nasional
PP 3/2021 dan 3 Poin Perluasan Peran Rakyat dalam Upaya Pertahanan Negara...

PP 3/2021 dan 3 Poin Perluasan Peran Rakyat dalam Upaya Pertahanan Negara...

Nasional
Baleg: KPU, Bawaslu dan DKPP Perlu Penguatan

Baleg: KPU, Bawaslu dan DKPP Perlu Penguatan

Nasional
Baleg Gelar RDPU RUU Pemilu, DKPP Diusulkan Kembali Jadi Lembaga Ad Hoc

Baleg Gelar RDPU RUU Pemilu, DKPP Diusulkan Kembali Jadi Lembaga Ad Hoc

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X