Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Munawir Aziz
Sekretaris PCI Nahdlatul Ulama United Kingdom, Penulis Sejumlah Buku

Sekretaris PCI Nahdlatul Ulama United Kingdom, menulis buku Bapak Tionghoa Nusantara: Gus Dur, Politik Minoritas dan Strategi Kebudayaan (Kompas, 2020) dan Melawan Antisemitisme (forthcoming, 2020).

Tantangan Jihad Kemanusiaan Usai Keruntuhan ISIS

Kompas.com - 05/04/2019, 16:56 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BANGKRUTNYA Negara Islam di Irak dan Suriah (Islamic State of Iraq and Syiria atau ISIS) ternyata menyisakan masalah besar dan kisah pilu yang menyayat. Ada tantangan "jihad kemanusiaan", termasuk bagi Indonesia.

Kekalahan ISIS dibarengi dengan derita kemanusiaan yang luar biasa di kawasan Suriah dan Irak, dua negara yang menjadi area utama pertempuran kelompok ini.

Baca juga: Akhirnya, ISIS Dinyatakan Kalah

Penderitaan juga dirasakan negeri-negeri lain yang merasakan dampak "ilusi negara Islam" yang dikampanyekan ISIS. Selain itu, penanganan eks-pasukan dan mereka yang sempat tergiur propaganda ISIS, menjadi tantangan pula bagi beberapa negara.

Kisah-kisah kelam bermunculan, mengungkap betapa jargon sekaligus kampanye menggiurkan yang disiarkan ISIS serta jaringannya hanyalah tipuan belaka.

Orang-orang yang silau dengan surga dunia tawaran Abu Bakar el-Baghdadi, Abu Musab al-Zarqawi, dan ideolog-ideolog ISIS, kini menyesali nasib.

Ilusi dan propaganda surga dunia yang ditawarkan ISIS, dengan penyebaran massif melalui media sosial dan jaringan pengikutnya, ternyata menggaet puluhan orang dari seluruh dunia.

Laporan International Centre for Study of Radicalisation pada 2018 mengungkap, lebih dari 40.000 orang dari 80 negara ditengarai terafiliasi dengan jaringan ISIS.

Dari Nur Dhania hingga Shamima   

Kebangkrutan ISIS dipenuhi kisah-kisah sedih orang-orang yang terperangkap dalam jebakan ilusi dan propaganda surga yang ditawarkan jaringan Abu Bakar el-Baghdadi dan barisan militernya. Dari orang Indonesia sampai warga Eropa ada pula di antar mereka. 

Salah satu orang Indonesia yang menjadi korban ISIS adalah Nur Dhania, yang bergabung dengan ISIS pada 2014. Ini seharusnya menjadi kisah getir sekaligus pelajaran bagi kita semua. 

Baca juga: Pengantin ISIS Shamima Ungkap Saat Dia Bangun dan Melihat Bayinya Membiru

Bagaimana tidak? Pada usia 15 tahun, Nur Dhania membujuk keluarganya untuk berangkat ke Suriah, bergabung ke barisan kelompok ISIS. Ia mengaku sebagai anak manja, keras kepala, yang terpengaruh propaganda ISIS melalui media sosial dan jejaring komunikasi digital.

Ia membayangkan "surga" di kawasan ISIS. Terlebih lagi, pada 2014 itu ISIS sedang gencar-gencarnya menguasai kawasan Suriah.

Tertarik dengan kampanye ISIS, Nur Dhania mengajak keluarga besarnya berangkat ke Suriah dengan mempertaruhkan harta dan nyawa. Ayahnya sampai keluar dari pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Batam dan menjual rumah untuk ongkos perjalanan ke Suriah.

Tak tanggung-tanggung, 25 orang anggota keluarga ini—termasuk saudara—berangkat ke Suriah. Namun, kenyataan yang ditemukan di Suriah jauh panggang dari api, bertolak belakang dengan segala propaganda yang dia dapat dan yakini sebelumnya.

Mendengar ISIS untuk pertama kalinya dari sang paman—yang sekarang dipenjara karena kasus terorisme—, Nur Dhania dan keluarga besarnya tiba di Suriah pada 2015. Apa yang dia saksikan di area pertempuran ISIS benar-benar mengejutkannya. 

Tak hanya mendapati pemandangan jauh berbeda dengan ilusi-ilusi buah propaganda, Nur Dhania harus kehilangan nenek dan sejumlah saudaranya yang meninggal di tengah kecamuk perang.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Tanggal 4 Maret 2024 Memperingati Hari Apa?

Tanggal 4 Maret 2024 Memperingati Hari Apa?

Nasional
Moeldoko: Ada Salah Satu Menko Paparkan lewat Slide soal Janji Presiden Berikutnya

Moeldoko: Ada Salah Satu Menko Paparkan lewat Slide soal Janji Presiden Berikutnya

Nasional
Pesan Jokowi untuk Pemerintahan yang Baru, Hati-hati Kelola Negara Sebesar Indonesia

Pesan Jokowi untuk Pemerintahan yang Baru, Hati-hati Kelola Negara Sebesar Indonesia

Nasional
Jokowi: 'Insya Allah' 'Smelter' PT Freeport Mulai Beroperasi Juni

Jokowi: "Insya Allah" "Smelter" PT Freeport Mulai Beroperasi Juni

Nasional
Rekapitulasi Suara Nasional, Anies-Ganjar Bersaing di Berlin, Prabowo Posisi Buncit

Rekapitulasi Suara Nasional, Anies-Ganjar Bersaing di Berlin, Prabowo Posisi Buncit

Nasional
Jika Didorong Jadi Ketua DMI Lagi, Jusuf Kalla Tak Akan Mundur

Jika Didorong Jadi Ketua DMI Lagi, Jusuf Kalla Tak Akan Mundur

Nasional
Basarah: Hak Angket dan Gugatan Kecurangan Pilpres ke MK Merupakan Praktek Konstitusional

Basarah: Hak Angket dan Gugatan Kecurangan Pilpres ke MK Merupakan Praktek Konstitusional

Nasional
Menkominfo Percepat Filling Satelit CAKRA-1 untuk Optimalkan Sumber Daya Maritim Nasional

Menkominfo Percepat Filling Satelit CAKRA-1 untuk Optimalkan Sumber Daya Maritim Nasional

Nasional
Partai Buruh Nilai MK Tak Tegas dan Ulur Waktu soal Ambang Batas Parlemen

Partai Buruh Nilai MK Tak Tegas dan Ulur Waktu soal Ambang Batas Parlemen

Nasional
Wakil Ketua DPR Sebut Indonesia Harus Kuasai Teknologi Mengolah Air Laut Jadi Air Minum

Wakil Ketua DPR Sebut Indonesia Harus Kuasai Teknologi Mengolah Air Laut Jadi Air Minum

Nasional
GASPOL! Hari Ini: Jimly Asshiddiqie, Hak Angket, dan Potensi Makzulkan Jokowi

GASPOL! Hari Ini: Jimly Asshiddiqie, Hak Angket, dan Potensi Makzulkan Jokowi

Nasional
Moeldoko: Proses Yudisial Kasus Pelanggaran HAM Masih Bisa Lanjut

Moeldoko: Proses Yudisial Kasus Pelanggaran HAM Masih Bisa Lanjut

Nasional
Jusuf Kalla Sebut Indonesia Terapkan Islam Moderat

Jusuf Kalla Sebut Indonesia Terapkan Islam Moderat

Nasional
Jaksa ke Andhi Pramono: Pernah Hubungi KPK Agar Perkara Tidak Dilanjutkan?

Jaksa ke Andhi Pramono: Pernah Hubungi KPK Agar Perkara Tidak Dilanjutkan?

Nasional
Soal Putusan DKP, Moeldoko: Pak Prabowo Diberhentikan Hormat, Tak Cacat Pengabdiannya

Soal Putusan DKP, Moeldoko: Pak Prabowo Diberhentikan Hormat, Tak Cacat Pengabdiannya

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com