Kompas.com - 01/04/2019, 17:05 WIB
Calon presiden no urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Calon presiden no urut 02 Prabowo Subianto pada Debat Keempat Calon Presiden Pemilu 2019 di Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat malam ini menggambil tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOCalon presiden no urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Calon presiden no urut 02 Prabowo Subianto pada Debat Keempat Calon Presiden Pemilu 2019 di Jakarta, Sabtu (30/3/2019). Debat malam ini menggambil tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional.

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Khoirul Muqtafa menilai, debat keempat Pilpres 2019 yang menghadirkan dua calon presiden, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, berjalan sangat normatif.

Menurut dia, pembahasan soal Pancasila seharusnya bisa lebih diperdalam.

"Dalam pembahasan ideologi kemarin itu sangat normatif, sama-sama pro Pancasila. Pancasila harus dipertahankan, dan tidak ada pembahasan lebih jauh," ujar Khoirul Muqtafa di Gedung LIPI, Jakarta Pusat, Senin (1/4/2019).

Baca juga: Jokowi dan Prabowo Dinilai Tak Gunakan Perspektif HAM dalam Debat soal Pemerintahan

Selain itu, pada sesi tanya jawab, menurut dia, tidak banyak perbedaan di antara kedua capres.

Khoirul menilai, Jokowi dan Prabowo belum mengeksplorasi tantangan ideologi dan potensi apa yang akan terjadi di masa mendatang.

"Soal pilihan kata, Jokowi mengatakan Pancasila sebagai kesepakatan, Prabowo lebih menekankan sebagai final. Banyaknya kata tidak bisa dielaborasi, pada akhirnya penjelasan mereka tidak jauh berbeda," kata Khoirul.

Baca juga: Debat Keempat yang Berjalan Dinamis Dinilai Dapat Bantu Swing Voters

"Keduanya juga membahas tentang para pemimpin harus menjadi teladan, tentang bagaimana Pancasila itu dipraktikkan," ujar dia.

Khoirul mengatakan, baik Jokowi maupun Prabowo juga memiliki program yang hampir sama dalam mengamalkan nilai Pancasila sejak dini sampai dewasa. Program itu di antaranya, menerapkan pelajaran Pancasila mulai sejak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga di bangku pendidikan tinggi.

KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo Infografik: Cek Fakta Debat IV Pilres 2019 Lembaga Pemerintah yang Dibubarkan


Tetapi, berbeda dengan Prabowo, Jokowi menambahkan satu aspek lain pada debat pilpres kemarin, yakni menerapkan pancasila dalam keseharian. Seperti ideologi tersebut harus hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan bukan sesuatu yang berasal dari asing.

"Perilaku kita sehari-hari, mulai dari toleransi, berkawan, orang yang berbeda agama, itu pancasilais, itu praktek paling konkret bagaimana pancasila diterapkan sejak dini. Itu saya lihat point plus dari Pak Jokowi itu, walaupun tidak dijelaskan secara detail," ucapnya.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ironi Sutan Sjahrir, Pendiri Bangsa yang Wafat dalam Status Tahanan Politik

Ironi Sutan Sjahrir, Pendiri Bangsa yang Wafat dalam Status Tahanan Politik

Nasional
Tanggapi Somasi, Kubu Moeldoko: Satu Dagelan Konyol, SBY Dikejar Karma Luar Biasa

Tanggapi Somasi, Kubu Moeldoko: Satu Dagelan Konyol, SBY Dikejar Karma Luar Biasa

Nasional
Menkes Klaim PPKM Mikro Turunkan Laju Penularan Covid-19

Menkes Klaim PPKM Mikro Turunkan Laju Penularan Covid-19

Nasional
Bantah Isu Musyawarah Luar Biasa, Yaqut: PKB Partai Paling Solid Dunia Akhirat

Bantah Isu Musyawarah Luar Biasa, Yaqut: PKB Partai Paling Solid Dunia Akhirat

Nasional
Polri Klaim Sudah Pantau Video Jozeph Paul Zhang Sebelum Viral

Polri Klaim Sudah Pantau Video Jozeph Paul Zhang Sebelum Viral

Nasional
Pakar Hukum: Ada Penelitian Sebut SP3 Potensi Jadi Tempat Jual-Beli Perkara

Pakar Hukum: Ada Penelitian Sebut SP3 Potensi Jadi Tempat Jual-Beli Perkara

Nasional
Polri Duga Jozeph Paul Zhang yang Mengaku Nabi ke-26 Ada di Jerman

Polri Duga Jozeph Paul Zhang yang Mengaku Nabi ke-26 Ada di Jerman

Nasional
K3I Apresiasi Bantuan Ambulans Dompet Dhuafa Bagi Masyarakat

K3I Apresiasi Bantuan Ambulans Dompet Dhuafa Bagi Masyarakat

Nasional
Cari Jozeph Paul Zhang, Kemenlu Komunikasi dengan Otoritas Jerman dan Hong Kong

Cari Jozeph Paul Zhang, Kemenlu Komunikasi dengan Otoritas Jerman dan Hong Kong

Nasional
Soal Keberadaan Jozeph Paul Zhang, Kemenlu Siap Koordinasi dengan Kepolisian

Soal Keberadaan Jozeph Paul Zhang, Kemenlu Siap Koordinasi dengan Kepolisian

Nasional
PGI Ragukan Gelar Pendeta Jozeph Paul Zhang

PGI Ragukan Gelar Pendeta Jozeph Paul Zhang

Nasional
Soal Isu Reshuffle Kabinet, Demokrat: Itu Hak Prerogatif Presiden, Bukan Ranah Partai

Soal Isu Reshuffle Kabinet, Demokrat: Itu Hak Prerogatif Presiden, Bukan Ranah Partai

Nasional
Kasus Dugaan Penistaan Agama Jozeph Paul Zhang, Polisi Sudah Periksa 3 Saksi Ahli

Kasus Dugaan Penistaan Agama Jozeph Paul Zhang, Polisi Sudah Periksa 3 Saksi Ahli

Nasional
Pemerintah Larang Takbir Keliling karena Picu Kerumunan

Pemerintah Larang Takbir Keliling karena Picu Kerumunan

Nasional
Menag: Mudik Hukumnya Sunah, tetapi Menjaga Kesehatan Itu Wajib

Menag: Mudik Hukumnya Sunah, tetapi Menjaga Kesehatan Itu Wajib

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X