Ketua DPR Protes Diskriminasi Sawit oleh Uni Eropa

Kompas.com - 26/03/2019, 13:12 WIB
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo di Kompleks Parlemen, Senin (11/2/2019). KOMPAS.com/JESSI CARINA Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo di Kompleks Parlemen, Senin (11/2/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Bambang Soesatyo memprotes sikap Uni Eropa dalam mengadopsi Renewable Energy Directive II (RED II) dan aturan turunannya yang mendiskriminasi kelapa sawit sebagai minyak nabati.

Diketahui, Uni Eropa melalui Delegated Act-nya melarang pengunaan minyak kelapa sawit untuk biodisel lantaran dinilai sebagai komoditas berisiko tinggi terhadap deforestasi. Di sisi lain, sawit dan produk turunannya merupakan salah satu komoditas ekspor utama Indonesia dan pengolahannya mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Menurut Bambang, tindakan Uni Eropa tersebut tidak mencerminkan selayaknya mitra stategis yang membangun hubungan baik dan saling menguntungkan.

"Uni Eropa merupakan salah satu mitra strategis Indonesia. Namun sayangnya proses adopsi legislasi RED II dan aturan turunannya didasarkan pada analisis ilmiah yang cacat, mengabaikan kritik yang datang dari internal Uni Eropa dan lembaga independen," kata Bamsoet, sapaannya, melalui keterangan tertulis, Selasa (26/3/2019).

"Selain itu mengabaikan concern dan data-data yang disampaikan oleh negara-negara produsen kelapa sawit," lanjut dia.

Baca juga: Sikapi Polemik Sawit, Wapres Dukung Rencana Boikot Produk Eropa

Ia menyatakan Uni Eropa telah mengabaikan upaya pembangunan, peningkatan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan di negara produsen minyak kelapa sawit.

Bamsoet menilai penolakan Uni Eropa terhadap produk sawit Indonesia dengan dalih pelestarian lingkungan merupakan upaya proteksi melindungi produk minyak nabati mereka.

Padahal, menurut Bamsoet, daya saing dan produktivitas minyak nabati Uni Eropa jauh lebih rendah daripada produk sawit Indonesia.

Bamsoet menambahkan sawit merupakan salah satu komoditas utama Indonesia. Sebab, sawit berkontribusi pada penyerapan lebih dari 19,5 juta tenaga kerja, termasuk di dalamnya 2,6 juta smallholders yang mempekerjakan 4,3 juta pekerja individual.

Baca juga: Lawan Diskriminasi Sawit...

Selain itu, sawit merupakan penghasil devisa negara sebesar 21,4 miliar dolar AS. Pada tahun 2018, sawit juga menjadi sumber energi terbarukan (biodiesel) serta bagian dari upaya pengentasan kemiskinan yang menjadi prioritas utama dari Sustainable Development Goals (SDGs).

Karena itu, ia menyatakan, DPR melalui Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) telah melakukan peran diplomasi dengan mengadakan serangkaian pertemuan dengan parlemen Uni Eropa. Sehingga, lanjut Bamsoet, DPR bisa mencari penyelesaian yang terbaik bagi kedua belah pihak.

"DPR juga mendesak Parlemen Eropa bisa secara komprehensif melihat dimensi keberlanjutan sebagaimana tertuang dalam Sustainable Development Goals 2030 dan tetap bijak serta adil dalam mengambil kebijakan yang akan berdampak pada hubungan baik kedua negara," papar politisi Golkar itu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X