Ma'ruf Amin Buka Opsi Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat dengan Islah

Kompas.com - 08/03/2019, 14:13 WIB
Calon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin dalam sambutannya di Ponpes Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (25/12/2019),Dok media Jokowi-Maruf Calon wakil presiden nomor urut 01 Maruf Amin dalam sambutannya di Ponpes Babakan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (25/12/2019),

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin membuka opsi penyelesaian HAM berat masa lalu dengan cara islah. Ma'ruf mengatakan, dalam agama Islam, islah menjadi salah satu solusi yang dianggap baik.

"Bagi agama Islam, islah menjadi salah satu solusi dan dianggap sesuatu yang baik. Ada ayat yang mengatakan tidak ada kebaikan dari pembicaraan manusia kecuali tiga hal. Satu menyuruh orang bersedekah, menyuruh orang berbuat baik, dan mengislahkan. Bagaimana mengislahkan? Harus ada kemauan semua pihak," ujar Ma'ruf di kediamannya di Jalan Situbondo, Jakarta, Jumat (8/3/2019).

Hal ini dia sampaikan ketika ditanya mengenai komitmennya terhadap penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu oleh kelompok Milenial Antihoax yang datang ke rumahnya. Menurut Ma'ruf, hal tersebut tidak mudah dilakukan karena bukti-bukti sulit ditemukan.

Kesulitan ini tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga negara lain.

Baca juga: Penuntasan Kasus HAM Berat di Mata Kubu Jokowi dan Prabowo...

"Memang tidak mudah mencari orang yang hilang tidak jelas, itu tidak mudah. Bahkan, mencari pembunuh John F Kennedy di Amerika, negara yang canggih itu saja juga masih sulit. Itu orangnya yang bunuh pintar, ini yang nyulik juga mungkin pintar sekali," ujar Ma'ruf.

Bukan hanya itu, Ma'ruf mengatakan penyiram air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) Novel Baswedan juga sulit untuk diketahui sampai saat ini. Meski penyelesaian kasus ini berat, Ma'ruf mengatakan dirinya dan Jokowi tetap berkomitmen untuk menyelesaikannya.

"Komitmennya tetap menyelesaikan kasus yang belum selesai, termasuk pelanggaran HAM berat, termasuk orang yang hilang. Kita tidak boleh berputus asa," katanya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X