PVMBG Sebut Jarak Aman Gunung Merapi Kini 3 Kilometer

Kompas.com - 28/02/2019, 17:12 WIB
Suasana Gunung Merapi yang terlihat dari obyek wisata Kali Talang, Balerante, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (19/12/2018). Masyarakat setempat memanfaatkan kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Merapi untuk dijadikan tempat wisata seperti gardu pandang Gunung Merapi untuk meningkatkan potensi wisata lokal yang dapat menjadi sumber pencaharian bagi masyarakat. ANTARA FOTO/ALOYSIUS JAROT NUGROSuasana Gunung Merapi yang terlihat dari obyek wisata Kali Talang, Balerante, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (19/12/2018). Masyarakat setempat memanfaatkan kawasan rawan bencana (KRB) Gunung Merapi untuk dijadikan tempat wisata seperti gardu pandang Gunung Merapi untuk meningkatkan potensi wisata lokal yang dapat menjadi sumber pencaharian bagi masyarakat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Sub Bidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana menyampaikan, jarak aman dari Gunung Merapi saat ini yaitu sejauh tiga kilometer dari puncak kawah.

Ia mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktifitas dalam jarak tersebut.

"Nanti kalau terjadi perubahan tentunya kita pasti akan sampaikan ke masyarakat," ujar Devy di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta Timur, Kamis (27/2/2019).

Baca juga: Hujan Abu Guyur Sebagian Lereng Merapi di Magelang

Devy menuturkan, kondisi terbaru guguran lava dari Gunung Merapi bervariasi, mulai dari 300 meter hingga 900 meter. Namun, untuk awan panasnya bisa mencapai lebih dari 600 meter.

"Tetapi kalau untuk awan panas sendiri, untuk sekarang ini jaraknya bisa mencapai sekitar 600 meter atau kurang dari 1000 meter ya. Tetapi sempat mencapai 2 kilometer pada tanggal 7 Februari lalu 2019 lalu," paparnya.

Lebih lanjut, ia menilai dalam waktu dekat gunung teraktif di Indonesia itu belum menunjukkan indikasi terjadinya letusan dalam skala besar. Sebab, aktivitas kegempaan Gunung Merapi berbeda dengan tahun 2010.

Baca juga: BPPTKG Yogyakarta: Awan Panas Gunung Merapi Senin Siang Relatif Kecil

"Jadi supply dari pergerakan magma ke permukaan kawah itu lambat, berbeda dengan tahun 2010. Sehingga setelah terjadi awan panas biasanya istirahat dulu, nunggu kubahnya penuh lagi," katanya.

Menurutnya, hujan abu yang terjadi beberapa waktu lalu merupakan sesuatu hal yang wajar dengan kondisi Merapi saat ini. Pasalnya, hujan tersebut diakibatkan dari guguran kubah yang terbawa oleh angin.

Untuk itu, ia menghimbau pada masyarakat untuk dapat menyiapkan masker saat beraktivitas di luar rumah guna mengantisipasi potensi abu vulkanik.

Baca juga: Masyarakat Diminta Antisipasi Abu Vulkanik dari Awan Panas Gunung Merapi

"Terutama masyarakat yang berada di arah guguran Kali Gendol," ucapnya.

Diketahui sebelumnya, melalui akun Twitter resmi BPPTKG, terekam tiga kali gempa guguran dengan durasi 36-72 detik sejak pukul 00.00-06.00 WIB berdasarkan data seismik.

Kompas TV Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih terus terjadi sepanjang Senin malam hingga Selasa pagi ini. Selama periode itu, Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar disertai awan panas mengarah ke hulu sungai Gendol.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X