Kearifan Lokal Dapat Tangkal Radikalisme

Kompas.com - 08/02/2019, 16:36 WIB
Yenny Wahid, saat mengisi diaog lintas agama dengan mengambil tema Ritus Kekerasan Berbasis Agama: Mengapa Harus Terjadi berlangsung di Wahid Institute, Jakarta, Senin (28/2/2011).  KOMPAS/ALIF ICHWAN Yenny Wahid, saat mengisi diaog lintas agama dengan mengambil tema Ritus Kekerasan Berbasis Agama: Mengapa Harus Terjadi berlangsung di Wahid Institute, Jakarta, Senin (28/2/2011).

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mengatakan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat di setiap desa dapat menjadi penangkal radikalisme.

"Oleh sebab itu membangun ketahanan dari desa sangat diperlukan, apalagi saat ini kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat beragam informasi dari yang baik hingga yang buruk sangat mudah untuk diakses," kata saat ditemui di Jakarta, Jumat (8/2/2019) seperti dikutip dari Antara.

Hal itu juga membuat interaksi sesama warga di desa melemah sehingga perpecahan di desa gampang terjadi, apalagi ditambah dengan rendahnya kepedulian terhadap sesamanya.

"Saat ini yang kita butuhkan adalah menghidupkan kembali ruang-ruang untuk berkumpul tersebut, agar mereka saling mengenal dan tidak ada kecurigaan satu sama lain," ujar Yenny.


Baca juga: Desa-desa Damai yang Merawat Toleransi Indonesia...

Pembangunan kohesi sosial dan penanaman toleransi secara perdamaian kini mulai dirintis secara sistematis lewat pembentukan desa/kelurahan damai.

Wahid Foundation bekerja sama dengan UN Women pun membuat program "Desa Damai" yang sedang diterapkan di sembilan desa di Indonesia.

Melalui desa/kelurahan damai, anggota masyarakat berkomitmen untuk melindungi dan menumbuhkan toleransi dan perdamaian di dalam komunitas mereka.

Untuk itu, disusun pula sembilan indikator yang menunjukkan ciri desa/kelurahan damai yang telah ditetapkan melalui proses dialog dan konsultasi bersama elemen, perempuan, masyarakat, dan perangkat desa.

Baca juga: Cegah Radikalisme, Kemenristek Rilis Peraturan Menteri Ini

Sembilan indikator ini meliputi adanya komitmen untuk mewujudkan perdamaian, adanya pendidikan dan penguatan nilai perdamaian dan kesetaraan gender, serta adanya praktik nilai-nilai persaudaraan dan toleransi dalam kehidupan warga.

Selain itu, ada penguatan nilai dan norma kearifan lokal, adanya sistem deteksi dini pencegahan intoleransi, dan adanya sistem penanganan cepat, penanggulangan pemulihan kekerasan.

Indikator lainnya adalah adanya peran aktif perempuan di semua sektor masyarakat, adanya pranata bersama yang mendapat mandat untuk memantau pelaksanaan desa kelurahan damai dan adanya ruang sosial bersama antar warga masyarakat.

"Kesembilan indikator tersebut saling berkaitan dan tentu pelaksanaannya membutuhkan waktu, proses, dan kerja sama dari seluruh elemen masyarakat," tandas Yenny.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X