Jalan Terjal Politisi Milenial

Kompas.com - 04/02/2019, 09:55 WIB
Ribuan mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR saat unjuk rasa menuntut Soeharto mundur sebagai Presiden RI, Jakarta, Mei 1998. MAJALAH D&R/RULLY KESUMARibuan mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR saat unjuk rasa menuntut Soeharto mundur sebagai Presiden RI, Jakarta, Mei 1998.


JASMERAH. Demikian salah satu judul pidato Bung Karno yang sangat terkenal. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dengan kata lain, belajarlah dari masa lalu. Banyak hikmah yang bisa dipetik sebagai awalan bagi kita untuk melangkah ke masa depan. 

Begitu juga saat kita mencoba memahami peran generasi milenial dalam pilpres dan pileg 2019. Perlu bagi kita untuk mencoba meresapi makna terdalam dari berbagai peristiwa sejarah Indonesia yang melibatkan kaum muda. 

Mari kita menoleh ke belakang sejenak, menggali memori tentang pergerakan pemuda sepanjang sejarah bangsa ini. Dari catatan masa lalu kita bisa belajar mengapa harapan besar seringkali dilekatkan kepada kaum muda, termasuk di dalamnya generasi milenial, sebutan lain bagi sebagian besar kaum muda zaman kini. 

Pergerakan pemuda zaman old

Pemuda atau kaum muda hampir selalu hadir dalam tonggak-tonggak penting pergolakan politik bangsa ini. Sumpah Pemuda di tahun 1928, merupakan salah satu titik awal dan penting perekat kebangsaan Indonesia.

Berbagai perwakilan kelompok muda dari hampir seluruh Indonesia berkumpul di Jakarta. Padahal, moda transportasi yang mereka miliki sangatlah terbatas. Mereka mengandalkan kapal laut dan kereta api dengan jarak tempuh berhari-hari.

Para pemuda dalam pertemuan itu berikrar satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Semangat persatuan untuk Indonesia pun semakin merebak sejak momen Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 digelorakan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selanjutnya, menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya 16 Agustus 1945 dinihari, sekelompok pemuda menculik Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka membawa kedua tokoh yang selanjutnya dipilih sebagai presiden dan wakil presiden pertama Republik Indonesia ke Rengasdengklok, Karawang, dengan satu tujuan: meminta Bung Karno dan Bung Hatta untuk sesegera mungkin memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Keberanian bertindak para kaum muda ini bisa jadi merupakan salah satu pendorong dan penyemangat Bung Karno dan Bung Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

Mahasiswa membawa keranda jenazah Soeharto saat menduduki Gedung MPR/DPR menuntut Soeharto
mundur sebagai Presiden RI, Jakarta, 21 Mei 1998.MAJALAH D&R/RULLY KESUMA Mahasiswa membawa keranda jenazah Soeharto saat menduduki Gedung MPR/DPR menuntut Soeharto mundur sebagai Presiden RI, Jakarta, 21 Mei 1998.

Transisi dari Orde Lama ke Orde Baru yang dipicu Gerakan 30 September/PKI pada tahun 1965 memunculkan berbagai kelompok pemuda sebagai pengawal amanat rakyat akibat kondisi politik dan ekonomi yang memburuk.

Masih ingat dengan Tritura? Tri Tuntutan Rakyat adalah tiga tuntutan kepada pemerintah yang diserukan para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada tanggal 12 Januari 1966.

Isi Tritura adalah pembubaran PKI beserta ormas-ormasnya, perombakan kabinet Dwikora, dan turunkan harga pangan. 

Rentetan demonstrasi yang dilakukan kaum muda Indonesia ini dalam menyuarakan Tritura akhirnya diikuti keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) oleh Presiden Soekarno yang memerintahkan kepada Mayor Jenderal Soeharto selaku panglima Angkatan Darat untuk mengambil tindakan yang perlu untuk memulihkan keamanan dan ketertiban. Dan, ujungnya seperti yang kita ketahui, berupa transisi dari Orde Lama ke Orde Baru.

Terakhir, tepat dua puluh tahun lalu, tumbangnya rezim Soeharto setelah berkuasa selama 32 tahun berkat perjuangan kaum muda pula. Tepatnya, kaum muda yang masih berstatus mahasiswa.

Keberanian kaum muda menyuarakan penderitaan rakyat akibat krisis moneter sejak pertengahan 1997 membuat elemen-elemen lain dari bangsa ini akhirnya berani menyuarakan hal yang sama.

 

Padahal, tekanan rezim penguasa sangatlah kuat ketika itu. Aparat menjadi alat pemerintah meredam suara kritis rakyat. Media massa utama pun dalam genggaman penguasa. Harapan masyarakat pun tinggal di pundak para kaum muda, para mahasiswa yang terbebas dari kepentingan politik praktis.  

Pergerakan mahasiswa dari berbagai kampus dan berbagai kota, yang bermula di akhir 1997, semakin membesar dari waktu ke waktu, terutama ketika elemen mahasiswa Universitas Indonesia memutuskan untuk kembali turun ke lapangan sejak akhir Februari 1998.

Semakin banyak kampus dari berbagai kota yang berani untuk ikut serta dalam gerakan ini.  Puncaknya adalah ketika empat mahasiswa Trisakti menjadi korban timah panas di pertengahan Mei 1998.

Dimulailah Orde Reformasi, menggantikan Orde Baru, dengan kaum muda yang menjadi motor pergantian orde ini, seperti era-era sebelumnya.

Pergerakan pemuda zaman now

Beranjak ke zaman now. Tahun 2019 ini, Indonesia bakal menggelar kembali hajatan besar yang menentukan nasib bangsa ini lima tahun ke depan, yaitu pemilu. Pemilu 2019 merupakan tonggak sejarah penting, karena pertama kalinya pilpres dan pileg dilaksanakan secara serentak. 

Kaum muda pun diyakini memiliki peranan penting dan strategis di perhelatan akbar ini. Pertama, berdasarkan data dari BPS, jumlah kaum muda, tepatnya yang berusia 20-39 tahun, mencapai 86 juta.

Belum lagi jika ditambah pemilih pemula menurut DP4 Kemendagri (berusia 17 tahun pada tanggal 1 Januari 2018 sampai dengan 17 April 2019) sebanyak 5.035.887 jiwa. Jumlah ini cukup signifikan jika dibandingkan dengan total pemilih tetap.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sendiri telah mengumumkan Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan 2 (DPTHP2) 15 Desember 2018 lalu. Hasil pendataan KPU, total pemilih sejumlah 192.828.520 orang, terdiri dari pemilih laki-laki 96.271.476 orang dan pemilih perempuan 96.557.044 orang.

Dengan demikian, dari segi jumlah saja, kaum muda mendekati setengah dari jumlah seluruh pemilih di tahun depan.

Kedua, setengah dari populasi Indonesia, menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2017 telah mengakses internet, baik melalui komputer desktop, perangkat mobile, maupun perangkat lainnya. Dan, menurut data We Are Social, hampir seluruh pengguna internet di Indonesia menggunakan media sosial. 

ilustrasi pemiluKompas.com/ERICSSEN ilustrasi pemilu

Penetrasi internet dan media sosial yang tinggi ini membuat media sosial memiliki pengaruh besar dalam pembentukan opini publik. Sedangkan kaum muda, termasuk kelompok yang sangat aktif, kalau tidak bisa dibilang mendominasi, percakapan di media sosial. 

Sehingga, bagaimanapun, jika bisa mendominasi pembicaraan kaum muda, dengan sendirinya narasi yang kita gulirkan bakal cepat menjadi viral dan berperan besar dalam pembentukan opini publik.

Dalam konteks pilpres dan pileg 2019, kaum muda pun termasuk aktif dalam membicarakan dan cepat berbagi berita serta cerita seputar perpolitikan nasional terkini. 

Ketiga, kaum muda tidak hanya aktif di media sosial, tetapi juga tidak sedikit yang terjun langsung ke gelanggang politik.

Bahkan, keberadaan politikus-politisi muda yang aktif dalam perjuangan memperebutkan kursi parlemen, baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, maupun di tingkat nasional atau pusat, membuat kaum muda semakin menjadi sorotan. Apalagi hadirnya wajah-wajah muda dan segar di ring inti kedua pasangan capres dan cawapres yang berkontestasi di Pilpres 2019 ini.

Lini masa media sosial, media online, bahkan layar kaca, tak pelak dihiasi banyak politisi muda. Kondisi yang belum pernah kita temui di pemilu-pemilu sebelumnya. Siap tidak siap, jagad politik Indonesia kini kental diwarnai pergerakan kaum muda.

Jalan terjal politisi muda

Peran sentral kaum muda di pusaran politik pilpres dan pileg 2019, tidak  membuat jalan politisi muda menjadi lebih mudah. Justru para politisi muda mesti menempuh jalan terjal di jagad politik Indonesia saat ini. Ada beberapa tantangan besar yang mesti dihadapi. 

Pertama, masih ada persepsi negatif publik terhadap kapabilitas politisi muda. Politisi muda dianggap kurang berpengalaman dan masih terlalu dini untuk tampil di depan.

Masih perlu jam terbang lebih untuk bisa memimpin. Bahkan, label politisi karbitan seringkali dilekatkan pada politisi muda. 

Kedua, kondisi ini diperparah oleh munculnya sekelompok politisi muda yang seringnya mencari sensasi dan mengumbar pernyataan kontroversial, tanpa ada substansi.

Hanya sekedar bersuara nyaring tanpa isi untuk mengerek popularitas dalam waktu singkat. Berbangga hati dengan membuat gaduh, bukannya membuat teduh. 

Dan, menyedihkannya, karena mereka memiliki akses kuat ke media massa dan memiliki pengikut cukup banyak di media sosial, pernyataan kontroversial yang tidak mendidik ini pun menyebar luas dengan cepat. Membuat keruh dunia maya, dan membuat bingung masyarakat.

Padahal, selaku politisi, selaku bagian dari partai politik, mengedukasi masyarakat tentang politik bermartabat, politik yang menjunjung tinggi etika, memberikan pencerahan kepada publik, bukannya membuat bingung, merupakan bagian dari tugas mereka.

Bukan sekadar tampil dan menjual sensasi, sambil berharap ada jabatan yang melekat pasca-pileg dan pilpres karena merapat di kubu yang tepat.

Jika fenomena seperti ini terus berlanjut, kepercayaan publik kepada politisi muda bisa merosot drastis. Malah mendorong publik untuk apolitis, menjauh dari riuh rendah dunia politik.

Di sisi lain, jika gejala ini sepertinya mendapatkan tempat di masyarakat, bisa mendorong politisi muda lainnya menempuh jalur yang sama. Dan, rakyat serta negara ini yang menjadi korban. Korban politik sensasi yang kering substansi. Membuat demokrasi kita jalan di tempat.

 

Ketiga, karena rata-rata politisi muda ini berasal dari kaum terdidik, bahkan banyak yang mengenyam pendidikan pasca-sarjana bahkan kuliah di luar negeri, dan berhasil meretas sukses di jalan karir sebelumnya, mereka memiliki level kepercayaan diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi-generasi politisi sebelumnya. 

Kepercayaan diri memang penting sebagai modal untuk menuju sukses, namun situasi ini menjadi masalah ketika kepercayaan dirinya muncul secara berlebihan.

Mereka menganggap sudah mengetahui segalanya, tahu cara terbaik untuk era kekinian, dan sulit menerima masukan dari para politisi senior.

Mereka menganggap diri mereka generasi baru politisi yang bersih dan cerdas, tanpa ada beban masa lalu, serta menganggap para politisi senior semuanya sudah ‘kotor’ dan tidak bisa diselamatkan. 

Padahal, lautan politik membutuhkan banyak amunisi untuk sukses mengarunginya. Dan, bagaimanapun, pengalaman para senior, sangat bermanfaat untuk dijadikan pelajaran agar politisi muda tidak meretas jalan yang keliru.

Keempat, ada beberapa politisi muda yang memberikan harapan besar, karena pemikirannya sangat mendalam dan jauh ke depan.

Ada unsur kesegaran yang melekat erat pada sosok muda mereka. Berfokus pada program, dan solusi untuk kesulitan yang mendera masyarakat. Rajin turun ke dapil. Bertatap muka secara langsung dengan masyarakat dan mencoba memahami situasi sebenarnya di lapangan.

Ilustrasishutterstock Ilustrasi

Namun, tak sedikit pula yang tenggelam dalam keramaian, sekadar mengikuti narasi kampanye yang digariskan partai atau tim sukses capres-cawapres. Minim kebaruan ide ataupun kesegaran pemikiran yang mereka berikan. Lebih berfokus menunjukkan, kalau mereka seorang “die harder”.

Ada kekhawatiran, jika mereka meretas jalan berbeda, bakal dianggap caper, carmuk, atau ungkapan-ungkapan tidak mengenakkan lainnya.

Tak hanya itu, bertemu masyarakat pun lebih banyak diwakilkan oleh tim. Lebih memilih terkungkung dalam ruang-ruang berpendingin udara, daripada berpeluh keringat menemui masyarakat.

Sibuk membuat status di medsos, seakan lebih memahami kesulitan masyarakat dari sekedar membaca judul berita media atau referensi melalui mesin pencari. Cukup beraksi dari balik meja, dengan didukung buzzer, tanpa perlu bertatap muka dengan masyarakat.

Mereka merasa yakin, popularitas di dunia maya dan layar kaca, sudah cukup sebagai modal awal. Tinggal ‘serangan fajar’ yang mesti mereka siapkan, sebagai langkah pamungkas.

Resep ampuh yang selama ini "diduga" ditempuh oleh beberapa senior mereka, dan ilmu ini pun diturunkan ke mereka, sebagai generasi baru di pentas politik.

Inilah jalan terjal keempat, jebakan politik uang yang "diduga" sudah demikian membudaya dan mengakar di masyarakat maupun "diduga" praktik yang jamak terjadi di berbagai partai politik. Perilaku ini cocok dengan politisi muda yang minim kreasi dan malas turun ke lapangan.

Suatu kombinasi mematikan, mematikan harapan masyarakat dan bangsa ini, harapan untuk mendapatkan generasi baru politisi yang lebih berkualitas dan berintegritas, serta lebih serius memperjuangkan aspirasi rakyat.

Kelima, jagad politik kita saat ini diwarnai dengan kentalnya narasi seputar kebohongan. Berjanji bohong, alias memberikan angin surga kepada pemilih, tanpa niat untuk menepati. Saat ditagih, malah mengalihkan pembicaraan ke hal lain.

Lalu, tak ketinggalan melabel orang lain sebagai penyebar kebohongan, agar terhindar dari diskusi tajam seputar data dan fakta terkini. Belum lagi, sibuk menggunakan statistik untuk memoles citra, bukannya memberikan pencerahan. Citra diri yang penuh dengan kebohongan.

Jika tak kuat menjaga integritas, politisi muda bakal mudah terbawa arus ini. Ikut menggelar narasi seputar kebohongan. Memberikan janji-janji palsu, tanpa ada niat untuk menepati.

Melabel orang lain hoks, tanpa mau mengadu data. Sibuk mengemas diri, memunculkan citra yang diharapkan publik, padahal aslinya jauh panggang dari api.

Inilah konsekuensi dari era post truth. Persepsi akan kebenaran menjadi jauh lebih penting dan menentukan daripada kebenaran itu sendiri.

Selama kebohongan ditanamkan secara terus-menerus, melalui berbagai medium, baik media sosial, media online, maupun media konvensional, pada titik tertentu ada kemungkinan masyarakat menganggapnya sebagai suatu kebenaran.

Harapan

Lima tantangan inilah yang harus dihadapi oleh para politisi muda. Jalan terjal yang harus dilewati. Jika salah mengambil sikap, politisi muda pun bakal menjelma menjadi bad politician yang sering kali dikritiknya, tapi dengan usia yang jauh lebih muda.

Untuk menempuh jalan yang tepat, memang tidak mudah. Karena itulah, harapan disematkan pada kaum muda, politisi-politisi muda. Kelompok politisi yang tidak terbebani janji-janji masa lalu.

Kelompok politisi yang memiliki stamina tinggi, sehingga liat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat. Memiliki semangat yang menyala-nyala untuk berkontribusi dalam perubahan bangsa ini. Dan, tentu saja, memiliki keberanian untuk menerobos kebuntuan.

Semoga saja parlemen dan pemerintahan Indonesia di periode 2019-2024 ini, dipenuhi oleh kaum muda yang benar-benar bertekad memperjuangkan yang terbaik untuk masyarakat, bangsa, dan negara.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jokowi: Kita Harus Menata Ulang Ketahanan Kesehatan Global

Jokowi: Kita Harus Menata Ulang Ketahanan Kesehatan Global

Nasional
Menlu Retno: Kesetaraan Vaksin Covid-19 Jadi Ujian Moral Terbesar Saat Ini

Menlu Retno: Kesetaraan Vaksin Covid-19 Jadi Ujian Moral Terbesar Saat Ini

Nasional
Jokowi di Sidang Umum PBB: Kita Harus Serius Lawan Terorisme hingga Perang

Jokowi di Sidang Umum PBB: Kita Harus Serius Lawan Terorisme hingga Perang

Nasional
Wapres Ma'ruf Amin Dijadwalkan Hadiri Vaksinasi Bagi 10.000 Pekerja Media yang Diselenggarakan KG dan Dewan Pers

Wapres Ma'ruf Amin Dijadwalkan Hadiri Vaksinasi Bagi 10.000 Pekerja Media yang Diselenggarakan KG dan Dewan Pers

Nasional
Ini Daftar Hari Libur Nasional 2022

Ini Daftar Hari Libur Nasional 2022

Nasional
Di PBB, Menlu Sampaikan Keprihatinannya atas Diskriminasi Penerimaan Vaksin Covid-19 di Afrika

Di PBB, Menlu Sampaikan Keprihatinannya atas Diskriminasi Penerimaan Vaksin Covid-19 di Afrika

Nasional
Jadi Tersangka Suap, Bupati Kolaka Timur Andi Merya Nur Punya Harta Rp 478 Juta

Jadi Tersangka Suap, Bupati Kolaka Timur Andi Merya Nur Punya Harta Rp 478 Juta

Nasional
Jubir Pemerintah: Pakai Masker Berlaku untuk Semua Level PPKM

Jubir Pemerintah: Pakai Masker Berlaku untuk Semua Level PPKM

Nasional
Berstatus Tersangka Suap Dana Hibah BNPB, Andi Merya Nur Baru 3 Bulan Menjabat sebagai Bupati Kolaka Timur

Berstatus Tersangka Suap Dana Hibah BNPB, Andi Merya Nur Baru 3 Bulan Menjabat sebagai Bupati Kolaka Timur

Nasional
Jokowi: Ekonomi Global Hanya Bisa Pulih jika Pandemi Terkendali

Jokowi: Ekonomi Global Hanya Bisa Pulih jika Pandemi Terkendali

Nasional
Panglima TNI dan Panglima SAF Gelar Pertemuan Virtual, Bahas Penanganan Pandemi hingga Kontraterorisme

Panglima TNI dan Panglima SAF Gelar Pertemuan Virtual, Bahas Penanganan Pandemi hingga Kontraterorisme

Nasional
Jokowi di Sidang PBB: Kemampuan Vaksinasi Covid-19 Antarnegara Masih Timpang, Politisasi Masih Terjadi

Jokowi di Sidang PBB: Kemampuan Vaksinasi Covid-19 Antarnegara Masih Timpang, Politisasi Masih Terjadi

Nasional
Bupati Kolaka Timur Andi Merya Nur Diduga Minta Uang Rp 250 Juta Proyek Dana Hibah BNPB

Bupati Kolaka Timur Andi Merya Nur Diduga Minta Uang Rp 250 Juta Proyek Dana Hibah BNPB

Nasional
Indonesia Kini Bebas Zona Merah Covid-19

Indonesia Kini Bebas Zona Merah Covid-19

Nasional
Saat WHO Ingatkan Indonesia Belum Keluar dari Bahaya Covid-19

Saat WHO Ingatkan Indonesia Belum Keluar dari Bahaya Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.