Pejabat Negara Diingatkan Berhati-hati Bicara di Tahun Politik

Kompas.com - 01/02/2019, 18:30 WIB
Titi Anggraini KOMPAS.com/FITRIA CHUSNA FARISATiti Anggraini
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi ( Perludem) Titi Anggraini mengingatkan para pejabat negara berhati-hati dalam berbicara terutama di tahun politik ini.

Hal itu ia sampaikan menanggapi kegaduhan yang diakibatkan kejadian di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara.

"Sebaiknya pejabat negara, pejabat pemerintahan, berhati-hati di dalam melaksanakan tugasnya sehingga di tengah masyarakat yang terpolarisasi. Sehingga tidak makin membelah dan menimbulkan keragu-raguan terhadap netralitas pelayanan publik yang dilakukan pejabatnya," kata Titi saat ditemui di Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (1/2/2019).

Ia pun mengingatkan agar para Aparatur Sipil Negara (ASN) tak menunjukan ekspresi politiknya di ruang publik. Titi mengatakan sedianya ASN memiliki hak untuk memilih, hanya tak boleh ditunjukkan.


Baca juga: Ramai Tagar #YangGajiKamuSiapa, Ini Penjelasan Kemenkeu soal Gaji PNS

"Jadi, sederhananya aparatur negara, ekspresi politik, ekspresikan lah di bilik suara. Bukan melalui kegiatan yang mengarah partisan. Tetapi mencari tahu visi misi paslon, parpol, ya dibolehkan. Tetapi Keberimbangan itu yang penting," ujar dia.

"Rambu-rambunya jelas. Yang penting bagi ASN menahan diri. Aktualisasi politik tidak perlu diekspresikan di masa kampanye," lanjut dia.

Polemik pernyataan "yang gaji kamu siapa" bermula ketika Rudiantara meminta masukan kepada semua pegawai tentang dua buah desain yang diusulkan untuk Gedung Kemenkominfo dengan gaya pengambilan suara atau voting.

Namun, ketika ingin memberikan kesempatan kepada anak buahnya untuk memilih, Rudiantara memberi opsi untuk memilih Nomor 1 atau Nomor 2. Keriuhan pun terjadi, sebab pegawai Kemenkominfo sepertinya mengasosiasikan ini seperti pilihan dalam Pilpres 2019.

Menanggapi keriuhan itu, Rudiantara kemudian meminta agar pemilihan ini tidak dikaitkan dengan politik. Meski begitu, dia tetap memberikan opsi pilihan itu Nomor 1 atau Nomor 2.

Rudiantara kemudian meminta maju perwakilan pegawainya yang memilih desain Nomor 1 dan Nomor 2.

Saat pegawai yang memilih desain Nomor 1 mengungkapkan alasannya, tidak ada keriuhan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X