Pindah Suara Pascadebat Capres-Cawapres - Kompas.com

Pindah Suara Pascadebat Capres-Cawapres

Kompas.com - 21/01/2019, 08:11 WIB
Debat pilpres pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). Tema debat pilpres pertama yaitu mengangkat isu Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Debat pilpres pertama di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). Tema debat pilpres pertama yaitu mengangkat isu Hukum, HAM, Korupsi, dan Terorisme.


TAK banyak yang sadar, paparan hasil survei pasangan capres-cawapres yang dilakukan sejumlah lembaga survei selalu merujuk pada hasil akhir. Ada yang luput dari perhatian, yakni pemilih bimbang. Jumlahnya signifikan: sekitar 44 persen, di atas 80 juta pemilih.

Ini adalah kelompok yang masih sangat mungkin berubah pilihan. Siapa yang meraihnya, dialah pemenangannya!

Mari kita cermati.

Hasil survei Litbang Kompas terakhir yang dikeluarkan pada Oktober 2018 lalu mendapatkan, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 52,6 persen, sementara Prabowo-Sandi 32,7 persen. Yang belum menentukan pilihan atau merahasiakan sebanyak 14,7 persen.

Survei dilakukan dengan tingkat kesalahan (margin of error) sebesar 2,8 persen.

Melihat angka-angka ini, kita akan cenderung menyimpulkan bahwa pemenangnya adalah Jokowi-Ma’ruf. Elektabilitasnya sulit dikejar dalam tiga bulan ke depan.

Padahal, ada data lain yang tidak banyak diperhatikan orang dari hasil survei tersebut. Ada pemilih yang masih bimbang menentukan pilihan.

Selain 14,7 persen yang disebut dengan undecided voters alias pemilih yang belum menentukan pilihan, masih ada soft-voters atau yang lebih dikenal dengan swing-voters, yaitu mereka yang masih mungkin berubah pilihan.

Swing-voters ada di pemilih Jokowi maupun Prabowo. Jumlahnya 30,7 persen pada pemilih Jokowi-Ma'ruf dan 34,2 persen pada pemilih Prabowo-Sandi. Jika dikaitkan dengan nirpencuplikan survei alias (margin of error), plus-minus angka ini bisa disimpulkan sekitar 30 persen bagi keduanya.

Apa artinya?

Jika digabungkan dengan undecided-voters yang 14,7 persen maka jumlah total pemilih dalam pemilihan umum yang masih bisa mengubah pilihannya sampai hari pencoblosan 17 April 2019 nanti adalah 44,7 persen. Angka yang luar biasa, jumlahnya di atas 80 juta pemilih!

Bisa disimpulkan, 80 juta pemilih Indonesia saat ini, baik yang sudah menentukan pilihannya maupun yang belum, bisa mengubah pilihannya di saat-saat terakhir.

Ini yang menyebabkan kemenangan capres-cawapres 2019 sesungguhnya belum dapat diyakini.

Indikator Politik dan SMRC, misalnya, memotret pemilih bimbang (swing voters ditambah undecided voters) di atas 30 persen.

Merebut suara pemilih

Lalu bagaimana merebut suara pemilih?

Sesungguhnya debat adalah hal yang paling efektif. Menilik hasil rating/share Nielsen Media Research, puluhan juta orang di seluruh Indonesia secara serentak menonton debat pertama yang berlangsung 17 Januari lalu.

Pesan kuat dan tegas, termasuk serangan kritis dan menohok yang ditunggu-tunggu bisa menjadi kunci kemenangan dalam debat.

Debat yang bisa mengubah angka adalah debat yang kritis yang disampaikan dengan formulasi sederhana dan mengena.

Debat seperti ini akan menjadi pembahasan berhari- hari dan membentuk opini jika piawai dimainkan oleh para pendukungnya.

Sebaliknya, jika debat hanya disampaikan dengan formulasi seadanya, maka tak akan berpengaruh banyak pada perubahan suara. Sebagai gantinya, gaduh di media sosial yang miskin substansi dan cenderung membias pada efek pecah belah bangsa karena dibumbui oleh banyak sekali berita bohong atau hoaks akan terus mewarnai.

Yang terjadi adalah pemilih yang antipati terhadap pesta demokrasi.

Bukankah selama beberapa bulan kampanye ini pergerakan kedua kubu relatif stagnan, tak ada penambahan suara yang signifikan?

Saya Aiman Witjaksono.
Salam. 



Close Ads X