Kompas.com - 17/01/2019, 16:42 WIB
Mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (17/1/2019). KOMPAS.com/ABBA GABRILLINMantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (17/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com -  Mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro mengakui bahwa dia tidak melalui pintu pemeriksaan imigrasi saat tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada 29 Agustus 2018.

Setelah tiba dari Malaysia, Eddy langsung melanjutkan penerbangan ke Bangkok, Thailand. Hal itu dikatakan Eddy saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Dia bersaksi untuk terdakwa Lucas, advokat yang didakwa menghalangi penyidikan KPK.

"Seingat saya tidak ada pemeriksaan paspor," ujar Eddy.

Baca juga: Berpindah ke 6 Negara, Eddy Sindoro Mengaku Berobat Saraf Kejepit

Menurut Eddy, saat itu dia didampingi temannya Jimmy yang merupakan warga negara Singapura. Eddy juga ditemani anaknya, Michael Sindoro.

Eddy tidak mengetahui siapa yang menjemputnya saat tiba di Bandara Soetta. Namun, pada saat itu dia diminta menunggu di kafe sebentar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah itu, dia diarahkan menuju pintu penerbangan selanjutnya ke Bangkok, Thailand. Sebelum menaiki pesawat, Eddy hanya melalui pemeriksaan tiket.

Kepada jaksa, Eddy mengaku tidak menanyakan kepada Jimmy alasan tidak melewati pemeriksaan imigrasi.

Dalam kasus ini, Lucas didakwa menghalangi proses penyidikan KPK terhadap tersangka mantan petinggi Lippo Group, Eddy Sindoro. Lucas diduga membantu pelarian Eddy ke luar negeri.

Baca juga: Cerita Novel Saat Dikelabui Data Imigrasi hingga Menangkap Eddy Sindoro

Menurut jaksa, Lucas menyarankan Eddy Sindoro yang telah berstatus tersangka agar tidak kembali ke Indonesia.

Lucas juga mengupayakan supaya Eddy masuk dan keluar dari wilayah Indonesia, tanpa pemeriksaan petugas Imigrasi.

Hal itu dilakukan supaya Eddy tidak diproses secara hukum oleh KPK.

Eddy merupakan tersangka dalam kasus suap panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution. Eddy sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka di bulan Desember 2016.

Eddy diduga terkait penyuapan dalam pengurusan sejumlah perkara beberapa perusahaan di bawah Lippo Group, yang ditangani di PN Jakarta Pusat.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.