Jannus TH Siahaan
Doktor Sosiologi

Doktor Sosiologi dari Universitas Padjadjaran. Pengamat sosial dan kebijakan publik. Peneliti di Indonesian Initiative for Sustainable Mining (IISM).  Pernah bekerja di industri pertambangan.

Mari Berdampingan dan Saling Merangkul

Kompas.com - 08/01/2019, 16:34 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PADA tataran tertentu, dunia ini nyatanya memang tak seindah kesimpulan Khisore Mahbubani.

Sekalipun banyak data dan argumentasi menarik, buku The Great Divergence-Asia, The West and The Logic of One World, besutan Mahbubani tahun 2013 itu masih perlu banyak realitas pelengkap untuk diakui.

Sekarang, tulis Mahbubani, sedang berlangsung proses konvergensi antar-berbagai bangsa dan negara, sebagai titik balik dari ketimpangan dan proses divergen yang tercabik-cabik oleh perang dunia.

Akselerasi di bidang pendidikan dan penyebaran teknologi modern, tulisnya lagi, telah memungkinkan berbagai bangsa saling mendekat, berbagi, dan kerja sama untuk menata dunia baru yang diimaginasikan sebagai milik bersama dan selayaknya dijaga bersama.

Uyghur dan Rohingya adalah fakta terbaru betapa indahnya mimpi Mahbubani. Ditolak oleh mayoritas, bahkan oleh otoritas setempat.

ISIS pun tak berbeda. Penolakan demi penolakan atas hegemoni dan soft invasion oleh penguasa dunia berlangsung di banyak tempat dan melahirkan kekerasan yang tak kalah menyedihkan sebagai realitas resistensinya.

Di sini, di negeri kita ini, pun tak berbeda. Komunisme yang renyah di kelas ilmu sosiologi, dinamis di kelas ilmu politik, dialektis di kelas ilmu sejarah, dan manis di kelas ilmu ekonomi, menjadi peluru-peluru yang dibenturkan ke berbagai sisi di tataran realitas.

Pemikiran yang satu ini memang punya masa lalu yang kurang menggembirakan di negeri ini, terutama di panggung politik.

Namun demikian, ini tentu sangat bisa dipahami karena toh risiko dari panggung politik adalah tidak ada pihak yang salah, semuanya benar.

Ujungnya adalah gontok-gontokan. Puncaknya, semuanya diisyaratkan untuk berdamai secara politik setelah konstelasi baru kekuasaan terbentuk, lalu didiamkan sebagai cadangan untuk momen-momen selanjutnya, tentunya jika dibutuhkan.

Padahal sebenarnya kekisruhan bukanlah perkara metodologis, bukan perkara fallacy thought, atau perkara kurang empiris, tapi perkara kepentingan, kekuatan, dan eksistensi kepentingan satu pihak di mata pihak yang lain.

Saya sangat menyadari betapa bodohnya saya, sehingga tak berani berkata apa-apa soal ini. Memang sebodoh itulah, mau dibilang apa. Toh tidak juga terlihat celah convergen itu, entah di mana letaknya.

Saban hari kita menyaksikan kian melebarnya pembelahan kepentingan yang menyamar ke dalam perdebatan-perdebatan "sok ideologis".

Tuduhan berbalas gugatan, fitnah berbalas pelaporan, cacian berbalas makian, saling lempar kesalahan dan saling dominasi kebenaran, dan banyak lagi, itulah realitas faktual yang kita saksikan.

Tapi setidaknya ada dua poin dari tulisan Mahbubani yang menarik perhatian saya, yakni akselerasi pendidikan dan perkembangan teknologi yang dianggap bisa mempercepat terjadinya convergensi.

Saya berharap ini adalah harapan, harapan di mana keduanya bisa diintervensi secara hati-hati oleh otoritas, agar bisa mengurangi perseteruan-perseteruan yang tak perlu, saat terbuka sebuah celah konvergensi.

Dengan begitu, tidak perlu ada kata "versus" di antara para pihak yang berbeda semisal ojek online versus ojek konvensional, petahana versus oposisi, tradisional versus modern, modern versus post modern, hitam versus putih, putih versus kuning, merah versus hijau, misalnya, dan lain-lain.

Mengapa harus hati-hati mengintervensi kedua bidang tadi (pendidikan dan teknologi)?

Karena, kedua bidang tersebut ibarat telur, digenggam terlalu kuat akan pecah, tidak jadi menetas, tidak jadi ayam. Tetapi digenggam terlalu longgar malah akan jatuh, pecah juga ujungnya, atau setidaknya lepas dari cengkraman.

Mengapa demikian? Karena pendidikan bukan proses indokrinasi politik, tapi memanusiakan manusia alias bukan memparpolkan manusia.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 28 Mei: Ada 2.390 Orang Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 28 Mei: Ada 2.390 Orang Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 28 Mei: Ada 2.972 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 28 Mei: Ada 2.972 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 28 Mei: 65.356 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 2,49 Persen

UPDATE 28 Mei: 65.356 Spesimen Diperiksa dalam Sehari, Positivity Rate dengan PCR 2,49 Persen

Nasional
UPDATE 28 Mei 2022: Bertambah 8, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Jadi 156.573

UPDATE 28 Mei 2022: Bertambah 8, Jumlah Pasien Covid-19 yang Meninggal Jadi 156.573

Nasional
UPDATE 28 Mei 2022: Tambah 248, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 5.894.628

UPDATE 28 Mei 2022: Tambah 248, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 5.894.628

Nasional
UPDATE 28 Mei: Kasus Covid-19 Bertambah 279

UPDATE 28 Mei: Kasus Covid-19 Bertambah 279

Nasional
Profil Sudharmono, Wakil Presiden Ke-5 RI yang Dekat dengan Soeharto

Profil Sudharmono, Wakil Presiden Ke-5 RI yang Dekat dengan Soeharto

Nasional
Soal Anies Berpeluang Diusung Nasdem Jadi Capres, Hasto Ingatkan Ada Syarat Pencalonan Presiden

Soal Anies Berpeluang Diusung Nasdem Jadi Capres, Hasto Ingatkan Ada Syarat Pencalonan Presiden

Nasional
Warga Tasikmalaya Bersiap Peringati HLUN 2022, 559 Lansia Akan Terima Layanan di 3 Pos

Warga Tasikmalaya Bersiap Peringati HLUN 2022, 559 Lansia Akan Terima Layanan di 3 Pos

Nasional
Kondisi Sungai Aare saat Eril Hilang: Suhu Air 16 Derajat Celcius dengan Arus Cukup Kuat

Kondisi Sungai Aare saat Eril Hilang: Suhu Air 16 Derajat Celcius dengan Arus Cukup Kuat

Nasional
Lewat Ajudan Ade Yasin, KPK Dalami Dugaan Penerimaan Uang dari Kontraktor

Lewat Ajudan Ade Yasin, KPK Dalami Dugaan Penerimaan Uang dari Kontraktor

Nasional
Konsep dan Prosedur Adjudikasi Sengketa Proses Pemilu

Konsep dan Prosedur Adjudikasi Sengketa Proses Pemilu

Nasional
Keluarga Cerita Eril Anak Ridwan Kamil Sempat Minta Tolong Sebelum Menghilang di Sungai Aare

Keluarga Cerita Eril Anak Ridwan Kamil Sempat Minta Tolong Sebelum Menghilang di Sungai Aare

Nasional
Ridwan Kamil Turut Memantau Pencarian Hilangnya Eril di Sungai Aare

Ridwan Kamil Turut Memantau Pencarian Hilangnya Eril di Sungai Aare

Nasional
Pencarian Eril Anak Ridwan Kamil, Tim SAR Swiss Kerahkan 'Drone' hingga Penyelam

Pencarian Eril Anak Ridwan Kamil, Tim SAR Swiss Kerahkan "Drone" hingga Penyelam

Nasional
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.