Bukan "Sekolah Ibu", Bandung Barat Disarankan Buat Program Konseling Suami-Istri - Kompas.com

Bukan "Sekolah Ibu", Bandung Barat Disarankan Buat Program Konseling Suami-Istri

Kompas.com - 30/12/2018, 10:53 WIB
Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna bersama Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan.KOMPAS.com/PUTRA PRIMA PERDANA. Bupati Bandung Barat Aa Umbara Sutisna bersama Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Kabupaten Bandung Barat disarankan untuk membuat program yang mengedukasi pasangan suami istri untuk mengurangi kasus perceraian. Program semacam ini dinilai lebih baik daripada program "Sekolah Ibu".

Koordinator Seknas Forum Pengada Layanan Bagi Perempuan Korban Kekerasan, Venny Siregar mengatakan para suami juga harus diedukasi. Sebab tak jarang kasus perceraian dipicu dari pihak suami, misalnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Banyak perempuan lebih memilih bercerai jika ada kasus KDRT. Jauh lebih baik jika pemkot meyediakan program konselig suami istri daripada program Sekolah Ibu," ujar Venny ketika dihubungi, Minggu (30/12/2018).

Baca juga: Program Sekolah Ibu di Bandung Barat, Aktivis Nilai Suami Juga Perlu Diedukasi

Menurut Venny, program "Sekolah Ibu" justru terkesan misoginis atau membenci wanita. Kata dia, program ini seolah-olah melindungi perempuan, padahal menyudutkan perempuan jika dikaitkan dengan konteks perceraian. 

"Saya mencerna program ini akan membuat kebijakan yang proteksionis, seakan-akan melindungi perempuan, tetapi malah merugikan perempuan," kata dia.

Program Sekolah Ibu 

Adapun, program tersebut ramai diperbincangkan setelah informasinya diunggah Wakil Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan lewat instagram. Lewat program ini, Pemkab Bandung Barat mengedukasi para ibu tentang rumah tangga. Ini merupakan upaya Pemkab Bandung Barat untuk mengatasi kasus perceraian di kabupaten tersebut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 

Dari 5 - 30 November 2018, Kasus perceraian di KBB sebanyak 244 Kasus. Kalo di rata2 berarti setiap harinya ada 9 - 10 orang yang mendaftarkan perceraian. Ini menjadi masalah yang serius bagi kami Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. InshaaAllah di tahun 2019 kami meluncurkun Program “ Sekolah Ibu “. Tujuan didirikanya sekolah ibu untuk memberikan pemahaman tentang berumah tangga, bagaimana menghadapi suami, bagaimana berkomunikasi dengan anak - anak kita yang beranjak dewasa, dan banyak materi lainya yang nanti akan diajarkan di sekolah ibu. InshaaAllah “ Sekolah ibu “ tidak akan membosankan. Ibu - ibu makin sayang suami, kompak dengan anak, dan tentunya keluarga akan lebih bahagia. InshaaAllah…. @aa.umbara @ridwankamil @humas_kbb @bimaaryasugiarto ( note : tidak ada yang menyalahkan ibu dalam kasus perceraian. Program sekolah ibu berhasil menekan angka perceraian di kota Bogor. Seperti yang Kang Bima sampaikan ke saya waktu study banding. Ibu2 yg tadinya menuntut cerai suaminya akhirnya menarik gugatan cerainya setelah mengikuti sekolah ibu. Tentu ini program baik yang bisa kita contoh. Pematerinya dari kalangan profesional, psikolog, dosen, profesor, polwan, wanita karier yg sukses. Dan program ini mendapatkan apresiasi dari Bapak Gubernur. Bila ada yg salah dalam pemahaman atau kurang berkenan, mohon dimaafkan ) Haturnuhun...

A post shared by Pelayan Masyarakat (@hengkykurniawan) on Dec 26, 2018 at 5:33pm PST

Setelah muncul perdebatan, Hengky mengunggah video yang menggambarkan kegiatan program tersebut.

Masih lewat instagram, dia menjelaskan program ini adalah bentuk perhatian pemerintah kepada para ibu. Dia mengatakan program "Sekolah Ibu" terbukti bisa menekan angka perceraian di Kota Bogor.

Pemateri dalam program ini datang dari banyak kalangan seperti profesional, psikolog, dosen, profesor, polwan, sampai wanita karier.

"Tidak ada yang menyalahkan ibu-ibu dalam kasus perceraian. Justru statement itu mucul dari opini netizen," tulis Hengky.



Close Ads X