Kompas.com - 14/12/2018, 20:28 WIB
Perempuan menggunakan noken (tas khas Papua) mambawa beban berat melewati bukit terjal di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua, Kamis (3/5/2012). Tas khas Papua yang terbuat dari rajutan kulit kayu diusulkan untuk menjadi warisan budaya dunia ke UNESCO. 
KOMPAS/AGUS SUSANTOPerempuan menggunakan noken (tas khas Papua) mambawa beban berat melewati bukit terjal di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, Papua, Kamis (3/5/2012). Tas khas Papua yang terbuat dari rajutan kulit kayu diusulkan untuk menjadi warisan budaya dunia ke UNESCO.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelayanan kesehatan terhadap anak dan perempuan di Provinsi Papua mesti ditingkatkan, khususnya di distrik-distrik yang terpencil.

Sebab, berdasarkan riset Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (LIPTEK) Papua yang diketuai oleh Marlina Flassy, rupanya meskipun infrastruktur pelayanan kesehatan sudah terbangun, namun kualitas tenaga kesehatan belum optimal.

"Ada posyandu dan puskesmas di distrik, tapi tenaga kesehatannya tidak ada, bagaimana?" ujar Marlina saat memaparkan risetnya di Hotel Alila, Jakarta, Jumat (14/12/2018).

Kondisi ini ditemukan di dua daerah, yakni Kabupaten Nabire dan Kota Jayapura. Di Kabupaten Nabire, kasus itu terjadi di Distrik Nabire, tepatnya di Kelurahan Kalibobo dan Kelurahan Tanjun Karang Tumaritis serta Distrik Napan, tepatnya di Kampung Napan dan Kampung Mosa.

Baca juga: Menurut Riset, Ini Pemicu Kekerasan terhadap Perempuan di Papua

Sementara di Kota Jayapura, kasus seperti itu ditemukan di Distrik Jayapura Selatan dan Distrik Muara Tami.

Memang, ketiadaan tenaga kesehatan posyandu dan puskesmas bukanlah permanen, melainkan waktu -waktu tertentu saja. Namun tetap saja, hanya sedikit waktu para tenaga kesehatan itu beraktivitas di posyandu dan puskesmas.

"Persoalan di sana itu, mereka (tenaga kesehatan) turun di Jayapura terlalu lama. Turun dalam bahasa Papua itu artinya mereka tinggal di Jayapura-nya itu terlalu lama, bukan di distrik-distrik sendiri," ujar Marlina.

Jika pun ada, jumlah tenaga kesehatan pun sangat terbatas, yakni hanya dua orang. Jumlah itu tentunya tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang berada di sebuah distrik.

Baca juga: Binmas Noken Sebut KKB Mendoktrin Anak-anak di Papua

"Jadi kalau dua-duanya itu turun ke Jayapura, ya sudah, selamat tinggal pelayanan kesehatan kepada masyarakat kampung," ujar Marlina.

Maka tak heran apabila masyarakat Papua, khususnya yang tinggal di daerah pelosok, mengalami sakit, jalur yang ditempuh bukanlah jalur medis, melainkan tradisional.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Yohana Yembise berkomitmen untuk menindaklanjuti temuan hasil riset tersebut.

"Temuan-temuan ini bisa dipakai untuk acuan agar kita bisa masuk membangun tanah Papua. Jadi kita ukan hanya pergi ke sana masuk langsung membawa bantuan dan menyerahkannya saja tanpa melihat kondisi di segala bidang tadi. Penelitian ini cukup membantu kami," ujar Yohana.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Keaslian Rumah Achmad Soebardjo Diharapkan Tidak Berubah Setelah Ganti Pemilik

Keaslian Rumah Achmad Soebardjo Diharapkan Tidak Berubah Setelah Ganti Pemilik

Nasional
[POPULER NASIONAL] Kemenag Gelar Sidang Isbat | Gatot Nurmantyo dan Rizieq Shihab Dinilai Layak Jadi Presiden

[POPULER NASIONAL] Kemenag Gelar Sidang Isbat | Gatot Nurmantyo dan Rizieq Shihab Dinilai Layak Jadi Presiden

Nasional
Latar Belakang Seragam Baru Satpam Berwarna Coklat seperti Seragam Polisi...

Latar Belakang Seragam Baru Satpam Berwarna Coklat seperti Seragam Polisi...

Nasional
Cerita tentang Menteri yang Menangis, Mengiba, Minta Masuk dalam Kabinet Jokowi

Cerita tentang Menteri yang Menangis, Mengiba, Minta Masuk dalam Kabinet Jokowi

Nasional
Kemenkes: Vaksinasi Covid-19 Mencapai 15,1 Juta Dosis

Kemenkes: Vaksinasi Covid-19 Mencapai 15,1 Juta Dosis

Nasional
Puan Ajak Masyarakat Jadikan Ibadah Puasa sebagai Momentum Tingkatkan Takwa dan Kepedulian

Puan Ajak Masyarakat Jadikan Ibadah Puasa sebagai Momentum Tingkatkan Takwa dan Kepedulian

Nasional
Jokowi: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga Negeri ini Dijauhkan dari Penyakit dan Bencana

Jokowi: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga Negeri ini Dijauhkan dari Penyakit dan Bencana

Nasional
Kasus Suap Pajak di Kalsel, KPK Cari Truk yang Diduga Bawa Barang Bukti

Kasus Suap Pajak di Kalsel, KPK Cari Truk yang Diduga Bawa Barang Bukti

Nasional
Penyuap Juliari Batubara Akui Ada Istilah Bina Lingkungan di Kemensos

Penyuap Juliari Batubara Akui Ada Istilah Bina Lingkungan di Kemensos

Nasional
Jokowi Sebut Perkembangan Ekonomi Digital Indonesia Tercepat di Asia Tenggara

Jokowi Sebut Perkembangan Ekonomi Digital Indonesia Tercepat di Asia Tenggara

Nasional
Moeldoko Sebut Masa Transisi Pengelolaan TMII Sudah Dimulai

Moeldoko Sebut Masa Transisi Pengelolaan TMII Sudah Dimulai

Nasional
Pro-Kontra Peleburan Kemenristek ke Kemendikbud: Kepentingan Investasi hingga Peningkatan Peran Dikti

Pro-Kontra Peleburan Kemenristek ke Kemendikbud: Kepentingan Investasi hingga Peningkatan Peran Dikti

Nasional
Ada Istilah 'Titipan Pak Menteri' di Sidang Kasus Korupsi Bansos Covid-19 yang Libatkan Juliari Batubara

Ada Istilah "Titipan Pak Menteri" di Sidang Kasus Korupsi Bansos Covid-19 yang Libatkan Juliari Batubara

Nasional
Kemenkumham: UKP Penanganan Kasus Pelanggaran HAM Berat Tidak Akan Hentikan Mekanisme Yudisial

Kemenkumham: UKP Penanganan Kasus Pelanggaran HAM Berat Tidak Akan Hentikan Mekanisme Yudisial

Nasional
KPK Buka Peluang Proses Kembali Kasus BLBI Sjamsul Nursalim

KPK Buka Peluang Proses Kembali Kasus BLBI Sjamsul Nursalim

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X