Novel Baswedan, Jam Hitung, dan Harapan ke Presiden

Kompas.com - 11/12/2018, 17:25 WIB
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan melambaikan tangan saat menghadiri acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7/2018). Kegiatan itu sekaligus diselenggarakan untuk memperingati 16 bulan kasus penyerangan Novel Baswedan yang belum menunjukkan titik terang. ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTOPenyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan melambaikan tangan saat menghadiri acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7/2018). Kegiatan itu sekaligus diselenggarakan untuk memperingati 16 bulan kasus penyerangan Novel Baswedan yang belum menunjukkan titik terang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sudah menunggu selama lebih dari 600 hari terkait penuntasan kasus penyiraman air keras dirinya yang tak kunjung menemui titik terang.

Pada hari ini, Wadah Pegawai KPK dan Novel meletakkan satu layar datar berwarna hitam yang ditopang oleh penyangga di sisi kiri pintu masuk lobi Gedung Merah Putih KPK.

Dari layar itu terpampang wajah Novel. Tampak pula hitungan hari, jam, menit, dan detik yang akan terus bergulir sepanjang waktu. Wadah Pegawai KPK menyebutnya sebagai Jam Hitung Penyerangan Novel Baswedan.

"Tentunya kembali lagi saya bersama dengan kawan-kawan di KPK ini mengingat dan selalu akan mengingatkan untuk setiap terjadinya teror yang ada di KPK untuk semuanya diungkap," kata Novel di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Baca juga: Kata Polisi soal Kelanjutan Penyelidikan Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Novel terus berharap kepada Presiden Joko Widodo untuk punya kemauan dan keberanian kuat untuk mengungkap penyerangannya. Karena, penyerangan terhadap dirinya juga penyerangan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

"Kepada Bapak Presiden agar mau membentuk tim gabungan pencari fakta agar langkah-langkah yang dilakukan bisa lebih optimal, bisa lebih efektif. Tentunya sangat memalukan, sangat memilukan ketika ada aparatur negara diserang dan kemudian itu dibiarkan," kata dia.

Ia khawatir apabila kasusnya tak kunjung menemukan titik terang, membuka celah bagi para koruptor atau pihak yang mencoba menghambat pemberantasan korupsi kembali meneror para pejuang antikorupsi.

"Dan saya khawatir menurunkan semangat pemberantasan korupsi di Indonesia. Semoga semua itu tidak terjadi. Oleh karena itu saya kembali lagi mendoakan semoga Bapak Presiden punya keberanian," kata Novel.

Baca juga: 600 Hari Penyerangan Novel Baswedan, Komitmen Jokowi Kembali Ditagih

"Saya berharap Bapak Presiden betul-betul mau memosisikan diri sebagai Bapak Presiden sebagai pemimpin negara yang berkepentingan sekali dengan upaya pemberantasan korupsi," sambungnya.

Pada 11 April 2017, seusai melaksanakan shalat subuh di masjid tak jauh dari rumahnya, Novel tiba-tiba disiram air keras oleh dua pria tak dikenal yang mengendarai sepeda motor. Cairan itu mengenai wajah Novel.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat sehingga Novel tak sempat mengelak.

Tak ada seorang pun yang berada di lokasi saat peristiwa penyiraman itu terjadi. Novel juga tak bisa melihat jelas pelaku penyerangannya.

Sejak saat itu, Novel menjalani serangkaian pengobatan guna penyembuhan matanya. Ia pun juga terus menanti penuntasan kasusnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X