Bulan Gus Dur, Merindu Sang Guru Bangsa

Kompas.com - 08/12/2018, 08:29 WIB
Warga melintas di depan spanduk yang mengutip pernyataan mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Minggu (10/8/2014). KOMPAS/RIZA FATHONI Warga melintas di depan spanduk yang mengutip pernyataan mantan Presiden RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kawasan Duren Sawit, Jakarta, Minggu (10/8/2014).
MESKI telah hampir sembilan tahun KH Abdurrahman Wahid ( Gus Dur) wafat, namanya terus dikenang dan diperbincangkan. Dalam berbagai forum, Gus Dur masih sering disebut-sebut baik oleh peneliti, pakar, maupun mahasiswa.
 
Gus Dur juga disebut-sebut di angkringan, warung kopi, kafe, dan ruang-ruang perbincangan. Gus Dur ada dimana-mana.
 
Desember, oleh pengikut KH Abdurrahman Wahid sering disebut "Bulan Gus Dur". Para pengagum, pengikut, dan komunitas-komunitas yang peduli dengan sumbangsih Gus Dur mengadakan pelbagai agenda, untuk menggali semangat baru dari sosok Guru Bangsa.
 
Meski secara fisik sudah meninggalkan kita semua—melewati kehidupan dunia—, Gus Dur seolah masih berada di sisi kita semua, di antara lautan manusia dalam kehidupan bangsa kita. Gus Dur seolah menyimak kita sambil tertawa.
 
Kita memang memiliki banyak sekali tokoh besar dalam sekujur sejarah kehidupan bangsa. Kita mengenal Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Kiai Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, dan segenap penggerak perjuangan. Kita memiliki pahlawan dan pejuang pada masing-masing era. 
 
Kita mengenal nama-nama yang menjadi tonggak sejarah. Kontribusi dan pengabdian mereka untuk bangsa luar biasa. Mereka menuliskan sejarah hidupnya dengan tangis, darah, keringat, pekikan, kesakitan, rintihan, dan doa-doa yang tak pernah luntur. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia luar biasa besar, hingga kita harus merasa malu jika kita merusak kesatuan ini. 
 
Namun, kita mengenal Gus Dur dengan cara yang berbeda. Kita memaknai Gus Dur dengan masing-masing peristiwa, pelbagai cara pandang yang berbeda. Gus Dur bisa didekati dari beragam sudut pandang, dianalisa dari berbagai perspektif yang multimakna. 
 
Gus Dur dan Indonesia kini
 
Sudah sembilan tahun Gus Dur tiada di bumi Indonesia, tapi kita merasa rindu dengan sosoknya, kiprahnya, kontribusinya. Betapa kebesaran Gus Dur melintasi zaman, melintasi generasi. 
 
Dari berbagai kisah, kita mengenal sekian banyak pengabdian Gus Dur. Semakin hari ada peristiwa-peristiwa, ada kisah-kisah yang menjelaskan sentuhan Gus Dur, kiprah beliau untuk kemanusiaan. Gus Dur bisa akrab dengan tukang becak, petani, nelayan, pengemis, dan sekian macam orang yang hidup sederhana. 
 
Namun, Gus Dur juga leluasa berkomunikasi, termasuk berbagi lelucon dengan kepala negara. Kisah-kisah Gus Dur berdiplomasi dengan pemimpin dan tokoh agama lintas negara dengan mudah kita temukan, dari Israel hingga Amerika, dari China hingga India. Gus Dur melintasi peristiwa, mengarungi tanda-tanda. 
 
Di tengah pelbagai dinamika politik, kita mengingat Gus Dur sebagai sumber hikmah, mata air ilmu bagi kita semua untuk mengais makna. Ungkapan-ungkapan Gus Dur yang pada masa beliau dianggap kontroversial, sekarang ini satu persatu menemukan pembenarannya. 
 
Juga, di tengah pertarungan simbol-simbol agama sebagai modal politik, di tengah lautan fitnah dan hoaks, bangsa ini terapung-apung mencari mercusuar. Kita meraba-raba mencari tanda untuk menunjuk arah masa depan bangsa Indonesia. 
 
Generasi muda Indonesia perlu mencatat ulang, menggali kiprah, sekaligus meneruskan gagasan-gagasan Gus Dur yang belum selesai. Pada beberapa isu, Gus Dur telah memberi fondasi, menemukan titik pijak.
 
Generasi muda dan penerus bangsa ini dapat meneruskan dengan mengambil saripati gagasannya sekaligus menyempurnakannya dalam konteks saat ini dan masa mendatang. Karena, setiap zaman memiliki tantangan. Setiap generasi mempunyai hal-hal yang perlu diperjuangkan.
 
Kita sekarang sedang hidup pada post-truth era, masa pasca-kebenaran, di mana kebencian-kebencian menyeruak. Di antara kebimbangan-kebimbangan, di tengah perang kebencian, kita perlu sejenak mengais hikmah dari kitab kehidupan bernama "Gus Dur". Karena, dari seluruh pemikiran, sikap dan kontribusi Gus Dur, kita menemukan keindahan: cinta.




Close Ads X