Sekjen Berkarya: Romantisme Kerinduan Era Pak Harto Tak Bisa Dibendung

Kompas.com - 04/12/2018, 18:49 WIB
Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso di Hotel Bidakara, Selasa (4/12/2018). KOMPAS.com/JESSI CARINA Sekretaris Jenderal Partai Berkarya, Priyo Budi Santoso di Hotel Bidakara, Selasa (4/12/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah polemik ungkapan " Soeharto guru korupsi", Sekretaris Jenderal Partai Berkarya Priyo Budi Santoso mengatakan, pihaknya justru semakin yakin sosok Soeharto masih dirindukan masyarakat. Menurut Priyo, kerinduan itu tidak bisa dibendung.

"Romantisme kerinduan kepada enaknya zaman Pak Harto tidak bisa dibendung," ujar Priyo di Hotel Bidakara, Selasa (4/12/2018).

Priyo mengatakan, tudingan Wakil Sekjen PDI-P Ahmad Basarah membuat militansi Partai Berkarya menjadi bergerak. Tudingan itu memancing kelompok-kelompok yang melihat sosok Soeharto sebagai pemimpin baik menjadi marah.

Baca juga: Dianggap Hina Soeharto, Wasekjen PDI-P Dilaporkan ke Polda


Terbukti, kata dia, banyak kelompok masyarakat yang datang kepadanya untuk mengungkapkan kemarahan itu. Bahkan ada masyarakat yang melaporkan Basarah karena julukan "guru korupsi" itu.

"Mesin kami menjadi mesin yang terbangun ketika tudingan jahat itu bermunculan," kata Priyo.

"Kami yakin Pak Harto itu dikenal sebagai apa. Orang yang jujur akan mengatakan Pak Harto adalah pemimpin yang tegas menumpas komunisme di Indonesia dan beliau adalah Bapak Pembangunan," tambah dia.

Baca juga: Sekjen Berkarya: Sekarang Kelihatan Derasnya Komunitas Pencinta Soeharto

Dia pun meminta PDI-P untuk saling menghargai. Mantan politisi Partai Golkar itu mengatakan Partai Berkarya masih menghormati Presiden Soekarno dan Megawati Soekarnoputri yang identik dengan PDI-P.

Kata dia, Partai Berkarya tidak melontarkan kritikan yang berlebihan kepada keduanya. Termasuk terhadap Presiden Joko Widodo sendiri.

"Kritikan kami dari Berkarya terhadap pemerintahan Jokowi juga kritikan biasa-biasa saja. Kami masih menghormati beliau sebagai presiden," kata dia.

Kompas TV Permasalahan korupsi di Indonesia kini sudah menjadi musuh utama bangsa. Karena itu perdebatan soal masalah korupsi tak akan pernah surut. Bahkan tak jarang masuk ke dalam perdebatan politik. Seperti polemik tudingan "Soeharto guru korupsi" yang kini mengemuka. Bermula dari kritik Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto yang menyatakan korupsi di Indonesia seperti kanker stadium 4 muncul lah pernyataan "Soeharto guru korupsi" dari elite parpol pendukung capres cawapres Jokowi-Ma'ruf Amien. Lalu akan bermuara dimanakah polemik ini? Akankah polemik ini berujung pada adu gagasan para calon pemimpin negeri ini terkait komitmennya memberantas korupsi? Kami akan bahas hal ini bersama sejumlah narasumber telah hadir di studio Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Andre Rosiade. Lalu ada Wakil Ketua Tim Sukses Capres Cawapres Jokowi-Ma'ruf Amien, Lukman Eddy dan melalui sambungan telepon ada peneliti Indonesia Corruption Watch, Donal Fariz.

 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X