Kubu Romy: Jika PPP Versi Muktamar Jakarta Ingin Berdamai, Jangan Bikin Ulah

Kompas.com - 16/11/2018, 17:29 WIB
Ketua Umum PPP Humphrey Djemat saat memberikan pidato saat Mukernas di DPP PPP, Jakarta, Kamis (15/11/2018). CHRISTOFORUS RISTIANTO/KOMPAS.com Ketua Umum PPP Humphrey Djemat saat memberikan pidato saat Mukernas di DPP PPP, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kubu Romahurmuziy menilai, pengukuhan PPP kubu Muktamar Jakarta hanya menjadi alasan untuk menarik perhatian publik.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal PPP kubu Romy, Arsul Sani, menanggapi pernyataan Ketua Umum PPP versi Muktamar Jakarta, Humphrey R. Djemat.

Humphrey menuturkan, Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) yang diselenggarakannya bertujuan mempersatukan kembali PPP.

Baca juga: Kubu Romy: PPP Versi Muktamar Jakarta Hanya Mencari Perhatian


Padahal, menurut Arsul, jika ingin berdamai, jalan yang dapat ditempuh adalah dengan berkomunikasi.

"Kalau mau islah (damai) kan bukan dengan cara bikin ulah. Cukup datang ke kantor DPP (Dewan Pimpinan Pusat) dan bicara baik-baik dengan kami, sampaikan apa maunya," ujarnya saat dihubungi oleh Kompas.com, Jumat (16/11/2018).

Baca juga: PPP Kubu Humphrey Gelar Mukernas, Kader Teriak Prabowo Menang

Selain itu, Arsul juga mengkritisi tujuan pengukuhan PPP versi Muktamar Jakarta demi memperkuat suara PPP pada Pemilu 2019.

Arsul menilai, PPP kubu Humphrey justru tidak mengerti sejarah, sebab perolehan suara pada saat pemilu berkali-kali lipat dari hasil survei yang ada.

"Kedua, hembuskan isu soal elektabilitas yang di bawah ambang batas parlemen. Yang ini juga tandanya enggak ngerti sejarah PPP pada pemilu-pemilu lalu. Sejak pemilu 2004, hasil suara riil PPP antara 2,5 sampai dengan 3 kali hasil survei," jelasnya.

"Artinya dari sisi survei malah lebih tinggi dari hasil survei pemilu-pemilu sebelumnya. Maka mereka bilang khawatir, itu menandakan mereka enggak tahu sejarah," lanjut dia.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X