Politik Saling Sindir Berpotensi Bikin "Swing Voters" Jenuh dan Apatis

Kompas.com - 14/11/2018, 12:54 WIB
Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo-Maruf Amin saat acara pengambilan nomor urut di Kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Jumat (21/9/2018).KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Dua pasangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan Joko Widodo-Maruf Amin saat acara pengambilan nomor urut di Kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, Jumat (21/9/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini berpendapat, sikap saling menyindir pada kampanye pilpres bisa membuat pemilih mengambang atau swing voters menjadi jenuh, bahkan bisa apatis. 

"Saya khawatir mereka (pemilih mengambang) makin antipati ya terhadap proses pemilu. Jangan lupa, tahun 2014 itu angka pengguna hak pilih atau voter turnout itu menurun loh di pilpres dibandingkan pileg. Pileg waktu itu 75 persen, pilpres hanya 70 persen," kata Titi kepada Kompas.com, Rabu (14/11/2018).

"Nah itu tidak lepas dari kegamangan atau keengganan mereka terhadap proses yang berlangsung. Mereka merasa tidak cukup terwakili, apalagi ruang publiknya diisi sentimen yang menyerang secara tidak substantif," lanjut Titi.

Baca juga: Wapres Kalla Sebut Saling Sindir di Kampanye Sekarang Masih Kondusif


Para pemilih mengambang, kata dia, harusnya ditawari gagasan dan program berbasis argumentasi serta data yang kuat. Hal itu guna memastikan mereka semakin antusias dan kritis dalam menentukan pilihannya.

"Jangan sampai kemudian apatisme, kejenuhan, dan rasa jengah terhadap pilpres berpengaruh terhadap partisipasi di pileg yang justru akan berdampak buruk bagi kontrol publik pada proses politik. Padahal, pileg juga sama pentingnya. Kita harus memastikan juga kan wakil rakyat yang betul-betul baik," paparnya.

Di sisi lain, Titi berharap agar kedua kubu segera mengesampingkan sindiran dan kritik yang tak substansial. Ia juga mengingatkan, tim pemenangan bertanggung jawab menjadikan kampanye sebagai ajang pendidikan politk.

Jika praktik saling sindir dibiarkan, ia khawatir akan menciptakan pemilu yang tak sehat.

Baca juga: Saling Sindir di Pilpres Dinilai karena Miskinnya Adu Program

"Seharusnya mereka di tengah keterbatasan pilihan dan dikotomi politik yang tajam mereka harusnya melahirkan identitas gagasan yang kuat. Jadi harusnya mereka dikenal sebagai kelompok yang punya identitas atau karakter gagasan yang khas," ungkap dia.

"Kalau polarisasinya gagasan enggak ada masalah, justru kita bisa membedakan kalau kelompok 01 gagasannya ini, kelompok 02 gagasannya ini. Tapi kalau yang dibuat polarisasi sentimen, nah ini akan memecah belah masyarakat kita sehingga tidak lagi kritis," lanjutnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X