Bung Tomo, Pengobar Semangat Rakyat Surabaya Melawan Penjajah

Kompas.com - 10/11/2018, 11:11 WIB
Bung Tomo berpidato Pada Rapat Umum B.P.R.I di Surabaya, Pada Tgl 20 Mei 1950
Dok. KompasBung Tomo berpidato Pada Rapat Umum B.P.R.I di Surabaya, Pada Tgl 20 Mei 1950

KOMPAS.com - Kedatangan pihak Sekutu yang diboncengi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pada Oktober 1945 membuat rakyat Indonesia menjadi geram.

Proklamasi Kemerdekaan yang baru saja dicetuskan pada 17 Agustus 1945 seketika mendapatkan tantangan baru.

Rakyat dari berbagai daerah bersiap menghadapi kedatangan Belanda lagi. Selain melucuti senjata Jepang dan pasukannya, pihak Sekutu memang mempunyai misi lain, yaitu menancapkan kembali kolonialisme Belanda di Indonesia.

Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan laskar rakyat dari berbagai daerah bersiaga untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Mereka tak mau jika kedaulatan Indonesia kembali ke tangan penjajah. Sudah lama Indoneia berada dalam belenggu penjajahan, kini saatnya berjuang dan bangkit melawan hegemoni penjajah.

Kota Surabaya dan Bung Tomo

Warga Surabaya menjadi beringas ketika tentara Sekutu mulai datang pada Oktober 1945. Barisan pemuda mulai bersatu dan merapatkan barisan. Minggu pertama Oktober 1945, Surabaya praktis menjadi pusat perlawanan bersenjata.

Semua penjara dibuka, tawanan dibebaskan dan mereka yang ditahan atas tuduhan politik dan pidana bergabung menjadi satu dalam barisan massa di dalam Kota Surabaya.

Bung Tomo tampil sebagai pimpinan yang mengobarkan semangat perlawanan, terutama bagi Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang didirikan pada September 1945.

Siaran Bung Tomo mulai melanglang ke berbagai radio di Surabaya. Buku Indonesia dalam Arus Sejarah Edisi ke-6 menjelaskan, siaran Bung Tomo selalu dibuka dengan "Allahu Akbar! Allahu Akbar!", yang berhasil menggerakan hati warga, terutama masyarakat santri di Surabaya.

Orasi penyemangat Bung Tomo dibarengi dengan Resolusi Jihad yang disuarakan Nahdlatul Ulama (NU). Resolusi Jihad yang merupakan deklarasi yang disampaikan pimpinan NU, KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menyerukan perlawanan terhadap upaya penjajahan.

Baca: Resolusi Jihad, Makna di Balik Penetapan Hari Santri Nasional

Bung Tomo dengaan "jihad radio" mampu membakar semangat warga Surabaya untuk bertempur. Bahkan, Bung Tomo mengikrarkan janji bahwa dirinya tak akan menikah sebelum Belanda terusir dari Indonesia.

Sikap itu merupakan sebuah keprihatinan yang ditunjukan pemimpin dan tanggung jawab seorang Revolusioner.

Salah paham Sekutu

Di tentara Sekutu sempat muncul kesalahpahaman fatal. Muncul kesalahan koordinasi antara Brigjen AWS Mallaby dengan Royal Air Force atau Angkatan Udara Inggris. RAF sempat menyebarkan imbauan agar senjata Jepang yang disita Indonesia harus diserahkan kepada Sekutu tanpa sepengetahuan Mallaby.

Rakyat marah dan bersiap. Pasukan TKR mulai membentuk barisan. Akibatnya, AWS Mallaby tewas dalam sebuah insiden yang menyebabkan mobilnya juga terbakar.

Ultimatum dilakukan oleh Sekutu, namun tak dihiraukan oleh warga Surabaya. Bung Tomo berada di garda terdepan memberikan semangat dengan pekik "Maju terus pantang mundur!"

Baca juga: 9 November 1945, Ultimatum Sekutu Picu Pertempuran Dahsyat di Surabaya

Pertempuran yang ganas dan kejam berlangsung lebih dari tiga minggu sejak 10 November 1945. Pemuda Indonesia dengan bambu runcing bergerak menyerang tank-tank Sherman milik Sekutu dan mencoba melawan.

Harian Kompas edisi 3 Juni 1995 menulis bahwa bobot Perang Surabaya memang lain. Penduduk Surabaya yang konon memiliki temperamen terbuka, menjadi lebih herois dengan ajakan yang didasarkan atas agama.

Akibatnya luar biasa dan mungkin tidak masuk akal. Orang-orang berbondong-bondong datang ke Surabaya. Ditambah dengan pemberian semangat oleh Bung Tomo lewat radio, banyak pejuang dari luar Surabaya pun datang. Mereka tak hanya dari Jawa tetapi juga dari luar Jawa, termasuk dari Sulawesi Utara.

Dalam buku Revolt in Paradise karya K'tut Tantri, peran Bung Tomo dalam Perang Surabaya dinilai sangat vital. Pada 14 November 1945 misalnya, saat Bung Tomo memberikan siaran di Jalan Mawar, tak lama kemudian dia sudah bergeser ke Malang.

Ketika pertempuran berlangsung, keberadaan Bung Tomo memang berpindah-pindah, sehingga tak diketahui keberadaannya oleh pihak Sekutu. Semangat yang diberikan itu membuat pejuang semakin berani dan mantap dalam berjuang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X