500 Hari bagi Novel Baswedan, Kekecewaan hingga Harapan kepada Jokowi

Kompas.com - 02/11/2018, 08:41 WIB
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan melambaikan tangan saat menghadiri acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7/2018). Kegiatan itu sekaligus diselenggarakan untuk memperingati 16 bulan kasus penyerangan Novel Baswedan yang belum menunjukkan titik terang. ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTOPenyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan melambaikan tangan saat menghadiri acara penyambutan dirinya kembali aktif bekerja di pelataran Gedung KPK, Jakarta, Jumat (27/7/2018). Kegiatan itu sekaligus diselenggarakan untuk memperingati 16 bulan kasus penyerangan Novel Baswedan yang belum menunjukkan titik terang.
Penulis Jessi Carina
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Sudah 500 hari berlalu sejak kejadian penyiraman air keras yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK) Novel Baswedan. Kejadian yang berlangsung usai Salat Subuh itu mengakibatkan luka pada bagian matanya.

Selama 500 hari itu, Novel sudah melakukan berbagai pengobatan hingga akhirnya bisa beraktifitas seperti biasa. Namun selama 500 hari juga, belum terungkap siapa orang yang melakukan penyiraman air keras itu.

Kemarin, Kamis (1/11/2018), Novel berkesempatan mengungkapkan kekecewaannya hingga harapan yang tersisa.

Sengaja tak diungkap

Kepolisian belum bisa menangkap pelaku penyiraman sampai sekarang. Selain itu, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) juga tidak kunjung dibentuk. Hal ini membuat Novel menarik kesimpulan bahwa kasusnya sengaja tidak diungkap.

"Saya ingin menyampaikan bahwa penyerangan kepada saya adalah penyerangan yang sengaja tidak diungkap. Saya katakan, sengaja tidak diungkap," ujar dalam diskusi di Gedung Penunjang KPK, Jalan Kuningan Persada, Kamis (1/11/2018).

Baca jugaNovel Baswedan: Kalau Presiden Takut Mengungkap, Saya Sangat Sedih

Dalam beberapa kesempatan, Polri menyatakan masih melanjutkan proses penyelidikan kasus ini. Akan tetapi, Novel tak yakin kasus ini akan diusut tuntas. Menurut dia, proses penyelidikan itu hanya formalitas.

"Jadi kalau seumpama dikatakan ada proses yang berlangsung, saya katakan proses itu formalitas. Saya duga kuat proses itu formalitas," ujar Novel.

Keprihatinannya

Novel juga mengungkapkan keprihatinannya. Sebab, penyerangan semacam itu tidak hanya diterima olehnya saja. Pegawai KPK lainnya pernah mengalami teror dari orang tak dikenal.

"Di KPK itu yang diserang bukan cuma saya," ujar Novel.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X