Kompas.com - 01/11/2018, 18:42 WIB
Penulis Ihsanuddin
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dewan Gelar mengusulkan enam nama untuk disematkan gelar pahlawan nasional. Usulan itu disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.

Namun, di antara beberapa nama itu, dipastikan tidak ada nama Presiden RI ke-2 Soeharto dan Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Hal ini disampaikan Wakil Ketua Dewan Gelar Jimly Asshiddiqie saat menyerahkan beberapa nama calon penerima gelar pahlawan nasional tahun ini kepada Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/11/2018).

Jimly datang bersama Ketua Dewan Gelar yang juga Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. 

Baca juga: Jokowi Tindaklanjuti Usulan Gelar Pahlawan Nasional untuk Aktivis 98 yang Gugur

"Saya mendampingi Pak Menteri selaku Ketua Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan RI dalam rangka persiapan 10 November penganugerahan (gelar) pahlawan," kata Jimly.

Jimly mengatakan, ada enam nama calon yang diserahkan ke Presiden Jokowi. Namun Jimly belum bisa membuka nama-nama tersebut.

Dia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak Istana Kepresidenan untuk mengumumkan langsung nama yang akan diberi gelar pada 9 November 2018 atau sehari sebelum peringatan Hari Pahlawan. 

"Pada saatnya nanti tanggal 9 November biasanya penganugerahan di situ Mensesneg akan mengumumkan, bukan kita. Kita hanya memberi masukan hasil penelitian selama setahun," katanya.

Baca juga: Bangka Belitung Promosikan Dua Calon Pahlawan Nasional

Jimly mengatakan, pihaknya memang mendapat banyak pertanyaan soal apakah Soeharto dan Gus Dur akan diusulkan untuk diberi gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Namun Jimly memastikan, kedua nama itu belum dimasukkan sebagai calon tahun ini.

"Ya, yang paling banyak pertanyaan itu Gus Dur dan Soeharto. Dua nama itu sudah berkali-berkali diajukan, tapi tahun ini tidak diajukan tim," katanya.

Jimly menjelaskan, proses seleksi untuk pemberian gelar pahlawan nasional itu ada di Kementerian Sosial. Kemudian ada Tim Peneliti Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) yang akan meneliti dan mengkaji nama-nama yang diusulkan.

"Setelah itu diserahkan ke Dewan Gelar. Dewan Gelar kemudian lapor ke Presiden," ujarnya.

Kompas TV Lukisan pun dibuat secara gotong royong di tembok sepanjang 20 meter. 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.