Kompas.com - 29/10/2018, 08:42 WIB
Repro: Foto memperlihatkan suasana Kongres Pemuda II di Batavia pada 1928 Repro/Kompas/Dudy SudibyoRepro: Foto memperlihatkan suasana Kongres Pemuda II di Batavia pada 1928

KOMPAS.com - Momen Sumpah Pemuda dikenang sebagai awal dari perjuangan menuju Indonesia merdeka. Dalam Kongres Pemuda II di Jakarta pada 28 Oktober 1928, para pemuda memang memahami dibutuhkannya persatuan untuk bangkit dari keterpurukan menuju era bergerak dan berjuang.

Masa-masa keterpurukan akibat penjajahan, mementingkan sikap kedaerahan diharapkan hilang dan berubah menjadi persatuan bersama.

Meski demikian, Sumpah Pemuda tak hanya menandai akan kesadaran bersama sebagai anak bangsa, melainkan juga menjadi tonggak mula digunakannya bahasa Indonesia.

Dalam Kongres Pemuda II itu, para pemuda dari berbagai suku bangsa yang masing-masing memiliki bahasanya sendiri, sepakat untuk menjadikan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Kongres pertama

Pergerakan pemuda melawan penjajah di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak penjajahan itu masuk ke Nusantara. Namun, momentum pergerakan itu tercatat saat para pemuda mulai menghimpun diri dalam bentuk organisasi.

Dengan demikian, tahun 1908 tercatat sebagai tonggak kebangkitan nasional. Pada 1908 memang tercatat sejumlah organisasi pemuda berdiri, misalnya Boedi Oetomo di Batavia dan Perhimpunan Indonesia yang merupakan perkumpulan pelajar Indonesia di Belanda.

Setelah itu, muncul juga sejumlah organisasi pemuda yang berbasis kedaerahan. Misalnya, ada Tri Koro Dharmo yang kemudian berganti nama menjadi Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, dan lainnya.

Pada 1926, para pemuda itu kemudian menyadari bahwa mereka membutuhkan persatuan agar bisa melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Kongres Pemuda I pun digelar pada 30 April - 2 Mei 1926.

Saat itu, Kongres Pemuda bermaksud untuk menyatukan para organisasi pemuda ke dalam satu wadah bersama. Pertemuan akbar itu dianggap tak menghasilkan apa-apa, ada yang menilai karena masing-masing kelompok pemuda masih memprioritaskan perjuangan bersifat kedaerahan. 

Baca juga: Sejarah Sumpah Pemuda, Tekad Anak Bangsa Bersatu demi Kemerdekaan

Bahasa persatuan

28 Oktober 1928 di halaman depan Gedung IC, Jl. Kramat 106, Jakarta. Tampak duduk dari kiri ke kanan antara lain (Prof.) Mr. Sunario, (Dr.) Sumarsono, (Dr.) Sapuan Saatrosatomo, (Dr.) Zakar, Antapermana, (Prof. Drs.) Moh. Sigit, (Dr.) Muljotarun, Mardani, Suprodjo, (Dr.) Siwy, (Dr.) Sudjito, (Dr.) Maluhollo. Berdiri dari kiri ke kanan antara lain (Prof. Mr.) Muh. Yamin, (Dr.) Suwondo (Tasikmalaya), (Prof. Dr.) Abu Hanafiah, Amilius, (Dr.) Mursito, (Mr.) Tamzil, (Dr.) Suparto, (Dr.) Malzar, (Dr.) M. Agus, (Mr.) Zainal Abidin, Sugito, (Dr.) H. Moh. Mahjudin, (Dr.) Santoso, Adang Kadarusman, (Dr.) Sulaiman, Siregar, (Prof. Dr.) Sudiono Pusponegoro, (Dr.) Suhardi Hardjolukito, (Dr.) Pangaribuan Siregar dan lain-lain.Dok. Kompas 28 Oktober 1928 di halaman depan Gedung IC, Jl. Kramat 106, Jakarta. Tampak duduk dari kiri ke kanan antara lain (Prof.) Mr. Sunario, (Dr.) Sumarsono, (Dr.) Sapuan Saatrosatomo, (Dr.) Zakar, Antapermana, (Prof. Drs.) Moh. Sigit, (Dr.) Muljotarun, Mardani, Suprodjo, (Dr.) Siwy, (Dr.) Sudjito, (Dr.) Maluhollo. Berdiri dari kiri ke kanan antara lain (Prof. Mr.) Muh. Yamin, (Dr.) Suwondo (Tasikmalaya), (Prof. Dr.) Abu Hanafiah, Amilius, (Dr.) Mursito, (Mr.) Tamzil, (Dr.) Suparto, (Dr.) Malzar, (Dr.) M. Agus, (Mr.) Zainal Abidin, Sugito, (Dr.) H. Moh. Mahjudin, (Dr.) Santoso, Adang Kadarusman, (Dr.) Sulaiman, Siregar, (Prof. Dr.) Sudiono Pusponegoro, (Dr.) Suhardi Hardjolukito, (Dr.) Pangaribuan Siregar dan lain-lain.
Meski Kongres Pemuda I belum berhasil menghasilkan kesepakatan bersama, namun saat itu sudah muncul kemauan juga gagasan akan persatuan.

Salah satunya diungkap oleh Ketua Jong Sumatranen Bond, Mohammad Yamin, yang mengungkapkan gagasan akan dibutuhkannya bahasa persatuan.

Dikutip dari buku Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (2003), melalui pidatonya, "Kemungkinan Bahasa-bahasa dan Kesusastraan di Masa Mendatang", Yamin "menyodorkan" bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Menurut Yamin, bahasa Melayu penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan bukan disebabkan bahasa itu lebih unggul ketimbang bahasa dari daerah lain.

Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Aceh, Bahasa Bugis, Bahasa Batak, dan bahasa dari daerah lain dianggap bagus, namun penggunaannya masih terbatas, pun wilayah penyebarannya. Ini berbeda dengan bahasa Melayu yang sudah banyak digunakan sebagai bahasa pengantar di Nusantara, selain bahasa Arab dan bahasa Belanda.

"Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa bahasa Melayu lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan dan bahasa persatuan yang ditentukan untuk orang Indonesia. Dan kebudayaan Indonesia masa depan akan mendapatkan pengungkapannya dalam bahasa itu," demikian pidato Yamin.

Selain itu, Jong Sumatranen Bond sendiri pernah mendiskusikan bahasa persatuan ini sejak 1923. Kelak, penggunaan "bahasa Indonesia" ini diharapkan mendesak penggunaan bahasa Belanda.

Dilansir dari buku Indonesia dalam Arus Sejarah (2013), gagasan ini pun masih sebatas wacana. Belum ada kesepakatan yang diambil dalam Kongres Pemuda I, termasuk soal bahasa persatuan.

Sebagai Ketua Kongres, Mohammad Tabrani Soerjowitjiro merasa kurang setuju dengan pemikiran Yamin mengenai penggunaaan bahasa Melayu. 

Tabrani mempunyai gagasan akan bahasa persatuan tanpa menggunakan bahasa daerah. Selain itu, Bahasa Jawa juga tak disetujui sebagai bahasa persatuan, meskipun etnis Jawa ketika itu lebih mendominasi perkumpulan pemuda ini.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Muhaimin Iskandar Berniat Maju Capres, Mengaku Diperintah Kiai

Muhaimin Iskandar Berniat Maju Capres, Mengaku Diperintah Kiai

Nasional
Dubes RI di AS Rosan Roeslani Serahkan Surat-surat Kepercayaan ke Joe Biden

Dubes RI di AS Rosan Roeslani Serahkan Surat-surat Kepercayaan ke Joe Biden

Nasional
Kasus Suap Wali Kota Rahmat Effendi, KPK Panggil 3 Lurah sebagai Saksi

Kasus Suap Wali Kota Rahmat Effendi, KPK Panggil 3 Lurah sebagai Saksi

Nasional
WNI Pekerja Pertanian Bakal Bebas Visa Untuk Bekerja di Australia

WNI Pekerja Pertanian Bakal Bebas Visa Untuk Bekerja di Australia

Nasional
Akhir Drama Pernyataan Arteria Dahlan, Minta Maaf dan Dijatuhi Sanksi oleh PDI-P

Akhir Drama Pernyataan Arteria Dahlan, Minta Maaf dan Dijatuhi Sanksi oleh PDI-P

Nasional
Polri Akan Tindak Penimbun Minyak Goreng Rp 14.000, Ancamannya Denda Rp 50 Miliar

Polri Akan Tindak Penimbun Minyak Goreng Rp 14.000, Ancamannya Denda Rp 50 Miliar

Nasional
7 Atensi Prabowo Terkait Pertahanan dalam Rapim Kemenhan 2022

7 Atensi Prabowo Terkait Pertahanan dalam Rapim Kemenhan 2022

Nasional
KPU Usulkan Alternatif Jadwal Pemilu 14 Februari 2024

KPU Usulkan Alternatif Jadwal Pemilu 14 Februari 2024

Nasional
OTT Hakim PN Surabaya: Dugaan Kongkalikong Bubarkan Perusahaan untuk Bagi Keuntungan

OTT Hakim PN Surabaya: Dugaan Kongkalikong Bubarkan Perusahaan untuk Bagi Keuntungan

Nasional
Bertambah 51, Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet 2.687

Bertambah 51, Total Pasien Covid-19 di Wisma Atlet 2.687

Nasional
Lebih dari 2.000 Kasus Covid-19 Sehari dan 1.000 Omicron, Indonesia Masuki Gelombang 3 Pandemi

Lebih dari 2.000 Kasus Covid-19 Sehari dan 1.000 Omicron, Indonesia Masuki Gelombang 3 Pandemi

Nasional
Itong Isanini Tersangka Suap, KY Ungkap Laporan Pelanggaran Etik Hakim di Jatim Ranking Dua

Itong Isanini Tersangka Suap, KY Ungkap Laporan Pelanggaran Etik Hakim di Jatim Ranking Dua

Nasional
Tertutupnya Mabes Polri soal Asal Usul Pelat Mirip Polisi yang Dimiliki Arteria Dahlan

Tertutupnya Mabes Polri soal Asal Usul Pelat Mirip Polisi yang Dimiliki Arteria Dahlan

Nasional
Itong Isnaini Tersangka, KY: Ada Dugaan Pelanggaran Etik Hakim

Itong Isnaini Tersangka, KY: Ada Dugaan Pelanggaran Etik Hakim

Nasional
Satgas Sebut Belum Ada Gejala Khas yang Timbul akibat Varian Omicron

Satgas Sebut Belum Ada Gejala Khas yang Timbul akibat Varian Omicron

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.