Memaknai "Soempah Pemoeda" dari Mulut dan Perut

Kompas.com - 29/10/2018, 08:06 WIB
Mengamati dari dekat, proses pembuatan siomay, mi dan bakso di kedai mi Bakso Loncat, Petak Sembilan, kawasan Glodok. R. Ukirsari Manggalani/National Geographic Traveler IndonesiaMengamati dari dekat, proses pembuatan siomay, mi dan bakso di kedai mi Bakso Loncat, Petak Sembilan, kawasan Glodok.

 

Tapi tidak selalu bahan-bahan yang dibutuhkan tersedia di negeri baru mereka. Dengan berbagai cara para perantau menyesuaikan diri dengan apa yang ada di tempat baru.

Bahasa dan makanan bersinergi menghasilkan begitu banyak makanan yang sudah jadi identitas Nusantara, yang bahkan banyak di antara kita tidak menyadarinya.

Sebut saja: bakso, bakwan, bakmi, bakcang, bakpia, bakpao, mi, bihun, sohun, teh, wedang ronde, sekoteng, siomay, kuetiau, tauge, laksa, tahu, tauco, pangsit, dimsum, fuyunghai, ngohiong, lumpia/lunpia, kue ku, lapis legit, kecap asin, kecap manis dan masih banyak lagi. Semua itu sudah menjadi identitas kuliner Nusantara.

Jika kita sebut bakpia, dalam pikiran orang pasti: Jogja. Yang paling terkenal memang oleh-oleh “khas” Jogja – Bakpia Pathok. Pathok di sini adalah nama daerah yang dibacanya pathuk.

Bakpia sendiri terdiri dari dua kata "bak" dan "pia". Ini bunyi dialek Hokkian dari kata asli bahasa Mandarin: rou bing yang artinya kue daging.

Kenyataannya sekarang, tak ada satupun bakpia yang berisi daging. Isinya bervariasi, dari kacang hijau, coklat, keju, green tea, capuccino, bahkan durian juga ada.

Sebenarnya bakpia ini bukan khas Jogja, di Malang ada Pia Mangkok, di Bali ada Pia Legong, di Semarang ada Pia Kemuning, yang notabene sama persis dengan bakpia dari Jogja. Tapi kenapa yang di Jogja bernama bakpia? Entahlah.

Yang perlu diluruskan adalah kata "bak" di sini. Menempel di bakso, bakmi, bakcang, bakwan. Arti kata "bak" sering dikonotasikan dengan daging babi, padahal "bak" artinya daging.

Daging sapi dalam dialek Hokkian disebut "gu bak", daging ayam disebut "ke bak". Yang lebih aneh adalah bakwan jagung, bakwan sayur, namanya dengan "bak", tapi tidak ada dagingnya, malahan sayur atau jagung.

Mi atau bakmi juga adalah bunyi dialek Hokkian dari bahasa Mandarin mian (dibacanya "myen"), yaitu makanan terbuat dari tepung terigu.

Gandum bukan tanaman asli Indonesia, demikian juga mi bukan makanan asli Indonesia. Tapi sekarang kata mi – yang sering ditulis mie – sudah menjadi kata baku Bahasa Indonesia yang tidak ada kata penggantinya.

Kuliner mi Nusantara, dari Aceh sampai ke Makassar begitu beragam tak terhitung banyaknya. Bahkan sekarang mi instan Indonesia sudah mendunia, salah satu mi instan Indonesia sudah dianggap makanan pokok utama di Afrika.

Demikian juga dengan penamaan lainnya, sebagian besar dari dialek Hokkian, terkecuali dimsum dan fuyunghai. Siomay – sio may, artinya masak dan jual; kuetiau – kue tiau; bihun – bi hun, "bi" artinya beras, "hun" artinya tepung, tauge – tau ge, "tau" artinya kacang, "ge" artinya tunas; bakmi – bak mi, artinya mi dengan daging; tahu – tau hu, dari Mandarin dou fu, sekarang jadi internasional tofu.

Sedikit berbeda fuyunghai – fu rong xie, artinya daging kepiting masak telor, fuyunghai adalah bunyi dialek Cantonese; dimsum – dim sum, Mandarinnya dian xin (tyen sin), "dian" artinya kecil, "xin" artinya hati, makanan kecil yang mengena di hati, pendeknya: kudapan.

Kecap manis 

Kecap manis itu asli Indonesia, awalnya hanya ada di Indonesia – sekarang ada di mana-mana. Rasa asli produk fermentasi kedelai dianggap terlalu gurih dan kuat di lidah lokal, ditambahkanlah rempah dan gula merah, sehingga jadi bentuk kecap manis sekarang ini.

Di tiap daerah memiliki ciri khas rasa masing-masing kecap dan semuanya nomor satu. Kecap Tangerang menambahkan bunga lawang, sementara kecap Semarang dianggap lebih manis dan lebih kental.

Ciri khas kuliner masing-masing daerah tak akan tergantikan dengan kecap selain dari daerah itu. Nasi goreng babat Semarang paling lezat menggunakan kecap manis asli Semarang, demikian juga dengan kuetiau goreng kerang ala Medan sudah jelas harus menggunakan kecap Medan. 

Lapis legit dan wedang ronde

Sedikit unik adalah lapis legit dan wedang ronde. Dua ini adalah akulturasi tiga budaya – Nusantara, Tionghoa dan Belanda.

Teknik baking bukan asli Nusantara ataupun Tiongkok. Kue-kue asli Nusantara ataupun Tiongkok tidak menggunakan teknik baking.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Siapkan Sistem Pendataan Digital untuk Kelompok Prioritas Vaksin Covid-19

Pemerintah Siapkan Sistem Pendataan Digital untuk Kelompok Prioritas Vaksin Covid-19

Nasional
Beri Klarifikasi, Firli Sebut Baca Why Nations Fail pada 2012, Bukan 2002

Beri Klarifikasi, Firli Sebut Baca Why Nations Fail pada 2012, Bukan 2002

Nasional
Ini Alasan Jokowi Undang LSM Agraria ke Istana

Ini Alasan Jokowi Undang LSM Agraria ke Istana

Nasional
Jelang Pencoblosan Pilkada, Mendagri: Jangan Persulit Masyarakat Buat E-KTP

Jelang Pencoblosan Pilkada, Mendagri: Jangan Persulit Masyarakat Buat E-KTP

Nasional
Formappi: Kalau Mau Perkuat Demokrasi, Ya Hapus UU ITE

Formappi: Kalau Mau Perkuat Demokrasi, Ya Hapus UU ITE

Nasional
Satgas: Libur Panjang Akhir Tahun Berpotensi Naikkan Kasus Covid-19

Satgas: Libur Panjang Akhir Tahun Berpotensi Naikkan Kasus Covid-19

Nasional
Sidang Uji Materi UU Cipta Kerja, KSPI Sebut Isu Investasi dan Ketenagakerjaan Tak Bisa Digabung dalam Satu UU

Sidang Uji Materi UU Cipta Kerja, KSPI Sebut Isu Investasi dan Ketenagakerjaan Tak Bisa Digabung dalam Satu UU

Nasional
AMAN Mengaku Tak Pernah Kirim Karangan Bunga di Markas Kodam Jaya

AMAN Mengaku Tak Pernah Kirim Karangan Bunga di Markas Kodam Jaya

Nasional
Satgas Sebut Kasus Covid-19 Meningkat 3,9 Persen Dibandingkan Pekan Sebelumnya

Satgas Sebut Kasus Covid-19 Meningkat 3,9 Persen Dibandingkan Pekan Sebelumnya

Nasional
Muncul Anggapan Perbedaan Perlakuan antara Massa Petamburan dengan Demonstrasi, Ini Jawaban Satgas

Muncul Anggapan Perbedaan Perlakuan antara Massa Petamburan dengan Demonstrasi, Ini Jawaban Satgas

Nasional
Survei Change.org Catat 5 Persoalan Daerah Menurut Anak Muda

Survei Change.org Catat 5 Persoalan Daerah Menurut Anak Muda

Nasional
Kasus Covid-19 Tak Terkendali, Satgas Ingatkan Pemda Tegas Beri Sanksi Pelanggar Protokol Kesehatan

Kasus Covid-19 Tak Terkendali, Satgas Ingatkan Pemda Tegas Beri Sanksi Pelanggar Protokol Kesehatan

Nasional
Survei Change.org: Janji Kampanye Calon Kepala Daerah Terpilih Perlu Diawasi

Survei Change.org: Janji Kampanye Calon Kepala Daerah Terpilih Perlu Diawasi

Nasional
Polisi Selidiki Dugaan Kampanye di Luar Jadwal oleh Mulyadi-Ali Mukhni

Polisi Selidiki Dugaan Kampanye di Luar Jadwal oleh Mulyadi-Ali Mukhni

Nasional
Mensos Tegaskan Tak Semua Masyarakat Berpendapatan Rendah Terima Bantuan Usaha

Mensos Tegaskan Tak Semua Masyarakat Berpendapatan Rendah Terima Bantuan Usaha

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X