Merayakan Bulan Bahasa dengan Berbahasa Daerah

Kompas.com - 27/10/2018, 22:10 WIB
Warga menulis aksara Sunda di atas kain saat pemecahan Original Rekor Indonesia (ORI) di Batujaya, Karawang, Jawa Barat, Jumat (21/9/2018). Penulisan aksara Sunda sepanjang 385 meter berhasil memecahkan rekor ORI yang bertujuan untuk melestarikan aksara Sunda di Indonesia.ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar Warga menulis aksara Sunda di atas kain saat pemecahan Original Rekor Indonesia (ORI) di Batujaya, Karawang, Jawa Barat, Jumat (21/9/2018). Penulisan aksara Sunda sepanjang 385 meter berhasil memecahkan rekor ORI yang bertujuan untuk melestarikan aksara Sunda di Indonesia.

KOMPASIANA - Seperti yang telah kamu ketahui, kita masyarakat Indonesia merayakan Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia di bulan Oktober.

Landasan penatapan tersebut merujuk pada pertemuan para pemuda di rumah Sie Kong Liong di Jalan Kramat nomor 106 pada tanggal 28 Oktober 1928. Pertemuan inilah yang kelak kita kenal dengan kongres Sumpah Pemuda.

Salah satu dari 3 butir deklarasi yang dihasilkan pada peristiwa itu berbunyi, "Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa Indonesia.."

Namun, yang perlu diingat, sumpah itu diucapkan oleh para pemuda dan pemudi dari berbagai wilayah di Indonesia.


Masing-masing dari mereka bersepakat menggunakan dan menghormati Bahasa Indonesia tanpa melupakan bahasa daerahnya.

Setelah 90 tahun berhasil menyatukan keragaman melalui bahasa Indonesia, bagaimana nasib bahasa daerahnya?

Berikut kami himpun beberapa pandangan Kompasianer mengenai posisi bahasa daerah, saat ini:

1. Kala Arek Malang Harus Bisa Berbahasa Jawa Standar

Ikrom Zain sedikit merasa gagal ketika mengajar bahasa Jawa di kelasnya. Bagaimana tidak, hasil Ulangan harian, Ulangan Tengah Semester, dan Ulangan Akhir Semester bahasa Jawa dipenuhi nilai 3, 4, dan 5.

Menurutnya, alasan yang logis mengingat di dalam kehidupan mereka sehari-hari hampir tak satu pun kata di dalam bacaan tersebut ia gunakan.

"Kurikulum muatan lokal yang digunakan adalah kurikulum bahasa Jawa standar. Sementara itu, mereka tinggal di Kota Malang yang masih satu rangkaian dengan Kota Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan dan sekitarnya dengan bahasa Jawa dialek Jawa Timur yang kental," lanjut Ikrom Zain (selengkapnya).

2. Unda-Nyawa, Ini "Lo-Gue" Versi Bahasa Banjar!

Kartika Eka berbagi kepada Kompasiana mengenai panduan berbahasa dalam bahasa Banjar, khususnya mengenai kata sapaan yang umum digunakan oleh anak muda.

Pada suku Banjar, kosakata "unda" dan "nyawa" yang artinya sama dengan "gue" dan "lo", kerap digunakan dalam pergaulan sehari-hari.

Menurut Kartika Eka, sebagian besar penuturnya adalah anakmuda pada rentang usia 13-25 tahun. Dewasa ini, penggunaannya malah merambah ke anak-anak.

"Untuk kosakata reguler yang berarti 'kamu' dalam Bahasa Banjar, digunakan kata 'ikam' (untuk sebaya/lebih muda dan akrab) dan 'pian' (untuk yang lebih tua atau dihormati)."

Penggunaan kata "unda" dan "nyawa" ini masih bisa dipakai oleh penutur yang tidak setara atau tidak setingkat, tapi penuturannya hanya berlaku satu arah dan tidak bisa dibalik (selengkapnya).

3. Pahit dan Manisnya Bahasa Jawa

Bahasa juga memiliki kasta. Setidaknya inilah yang dimiliki oleh bahasa Jawa.

Kondisi ini terkadang membuat penuturnya berada pada dilema mengenai bagaimana sebaiknya ia menempatkan diri dalam masyarakat.

Liliek Pur membahas dilema ini ke dalam satu artikel pembahasan.

Bahasa Jawa pada umumnya memiliki 3 tingkatan, yaitu basa ngoko, basa madya, dan basa krama.

Setiap tingkatan memiliki aturan sendiri. Biasanya basa krama digunakan pada peristiwa agung dan sakral, madya digunakan kepada orang yang lebih tua, sedangkan ngoko dipakai saat berinteraksi dengan teman sebaya.

Tetapi Liliek Pur kerap merasa bingung ketika berhadapan dengan orang baru. Tingkat bahasa mana yang harus ia gunakan?

"Jika saya berbicara menggunakan level bahasa Jawa kasar alias ngoko, saya ragu apakah orang baru bisa menerimanya dengan lapang dada. Sebaliknya, bila saya berbahasa krama, sudah pasti jurang pemisah langsung terbentang di antara kami," ungkapnya (selengkapnya).

4. Mengenal Sastra Tutur di Sumatera Selatan

Indonesia memiliki banyak sekali ragam bahasa tutur. Pringadi Abdi Surya mencoba mengenalkan salah satunya, yakni sastra tutur dari Sumatera Selatan.

Sastra  tutur di Sumatera Selatan, menurut Pringadi, berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Hal tersebut terjadi karena wilayah Sumatera Selatan sangat luas dan masing-masing sub-etnik memiliki karakteristik yang khas.

"Beberapa bentuk sastra lisan/sastra tutur yang dikenal di Sumatra Selatan  antara lain Njang Panjang dan Bujang Jelihim di Ogan Komering Ulu (OKU), Jelihiman di Ogan Ilir (OI), Senjang di Musi Banyuasin (MUBA), Geguritan, Tadut, Betadur, dan Tangis Ayam yang berkembang di Lahat, Nyanyian Panjang dan Bujang Jemaran di Ogan Komering Ilir (OKI)," terangnya (selengkapnya).

5. Pernahkah Kamu Rindu Berbahasa Daerah?

Dwi Klarasari merasa senang ketika teman baru di kantornya yang merantau itu masih menggunakan bahasa Jawa yang menjadi bahasa sehari-hari.

Sebab, dalam hidup keseharian di Jakarta yang cenderung harus selalu berbahasa Indonesia, "… Rasanya bahagia bila sesekali bisa mengobrol dalam bahasa daerah." Begitulah kata dia.

Tidak bisa dimungkiri, berbahasa Indonesia di Ibu Kota adalah sebuah keniscayaan. Setiap harinya, Dwi Klarasari mesti berinteraksi dengan rekan kerjanya yang multietnis.

Meski demikian, kerinduan untuk menggunakan bahasa daerah selalu ia rasakan (selengkapnya).


Terkini Lainnya

Diguyur Hujan, Grup Sabyan Gambus Hibur Pendukung Prabowo-Sandiaga

Diguyur Hujan, Grup Sabyan Gambus Hibur Pendukung Prabowo-Sandiaga

Regional
SDF Serukan Bentuk Pengadilan Internasional untuk Para Tersangka ISIS

SDF Serukan Bentuk Pengadilan Internasional untuk Para Tersangka ISIS

Internasional
Saat Kampanye, Prabowo Berikan Baju Safari Kesayangannya ke Mantan Bupati Merauke

Saat Kampanye, Prabowo Berikan Baju Safari Kesayangannya ke Mantan Bupati Merauke

Nasional
Mahasiswa China di Kanada Diculik Gerombolan Pria Bertopeng

Mahasiswa China di Kanada Diculik Gerombolan Pria Bertopeng

Internasional
Jadi Fasilitator Desa Terbaik, 2 Warga NTT Bertemu 3 Menteri dan Belajar ke India

Jadi Fasilitator Desa Terbaik, 2 Warga NTT Bertemu 3 Menteri dan Belajar ke India

Regional
Jaksa KPK Tuntut Pencabutan Hak Politik Irwandi Yusuf

Jaksa KPK Tuntut Pencabutan Hak Politik Irwandi Yusuf

Nasional
Pemenang DSC 2018, Memikat dengan 'Piawai', 'Paham' dan 'Persona'

Pemenang DSC 2018, Memikat dengan "Piawai", "Paham" dan "Persona"

Edukasi
Orangtua Bayi Bernama Gopay Dapat 'Cash Back' Rp 500 Ribu Per Bulan

Orangtua Bayi Bernama Gopay Dapat "Cash Back" Rp 500 Ribu Per Bulan

Regional
Hari Ini dalam Sejarah, RCA Merilis Televisi Berwarna Pertama di Dunia

Hari Ini dalam Sejarah, RCA Merilis Televisi Berwarna Pertama di Dunia

Internasional
Ini Nama 9 Panelis Debat Keempat Pilpres

Ini Nama 9 Panelis Debat Keempat Pilpres

Nasional
Sandiaga Uno Sebut Pegiat OK OCE Terbanyak Ada di Jakarta Barat

Sandiaga Uno Sebut Pegiat OK OCE Terbanyak Ada di Jakarta Barat

Nasional
'Tarif MRT Rp 8.500 Sangat Murah dan Terjangkau, Semoga Masyarakat Beralih...'

"Tarif MRT Rp 8.500 Sangat Murah dan Terjangkau, Semoga Masyarakat Beralih..."

Megapolitan
Kominfo Belum Putuskan Aturan soal 'Buzzer' Politik di Masa Tenang

Kominfo Belum Putuskan Aturan soal "Buzzer" Politik di Masa Tenang

Nasional
Mantan Perdana Menteri Sebut Pemilu Thailand Diwarnai Kecurangan

Mantan Perdana Menteri Sebut Pemilu Thailand Diwarnai Kecurangan

Internasional
Kasus Pemotor Tewas Tertimpa Baliho Capres, Polisi Tetap Menyelidiki Walau Keluarga Pasrah

Kasus Pemotor Tewas Tertimpa Baliho Capres, Polisi Tetap Menyelidiki Walau Keluarga Pasrah

Regional

Close Ads X