Bukan Medsos, Media "Mainstream" Diyakini Masih Jadi Rujukan di Pilpres 2019 - Kompas.com

Bukan Medsos, Media "Mainstream" Diyakini Masih Jadi Rujukan di Pilpres 2019

Kompas.com - 12/10/2018, 21:36 WIB
Ilustrasi media sosialViewApart Ilustrasi media sosial

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menilai, kehadiran buzzer politik di sosial media tidak terlalu memengaruhi pemilih dalam Pemilihan Presiden 2019. Menurut dia, posisi buzzer masih belum bisa mengalahkan media mainstream.

"Menurut saya media mainstream sangat berperan. Televisi, koran, radio, media mainstrem internet yang dipercaya, dibanding Twitter, Instagram," kata Saidiman saat diskusi bertajuk ' Buzzer politik di media sosial, efektifkah?' di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, (12/10/2010).

Ia mengatakan, jumlah pengguna media sosial seperti Twitter, di Jakarta sebagai ibu kota negara hanya 5 persen. Sehingga, hal itu tidak memberikan dampak yang terlalu besar kepada publik.

Baca juga: Ayo Kita Debat Gagasan, Enggak Cuma Nyanyi, Sindir, Mana Idenya?

"Alat ukurnya media mainstream. Kalau ada isu yang hanya di medsos tidak ada di mainstream orang kan enggak baca. Jadi media mainstream masih jadi sumber kebenaran buat kita, bukan medsos," tambahnya.

Saidiman menyarankan agar calon presiden maupun tim pemenangan untuk langsung mengkarifikasi apabila menemukan info negatif dari buzzer politik.

"Caranya menurut saya sudah oke ya sekarang. Pemain medsos kalau ada berita mereka cepat-cepat cari pembandingnya, apakah ini benar atau tidak. Salah satu sumbernya media mainstream," kata Saidiman.

"Mereka nyari apakah hoaks atau tidak, dan sekarang sudah muncul kesadaran itu. Dan saya kira lama-lama itu akan terus terjadi," tambahnya.


Close Ads X